Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah
Peristiwa Isra Mikraj sering dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang penuh keajaiban. Lebih dari itu, sesungguhnya peristiwa tersebut juga menyimpan pesan mendalam tentang etos belajar dan tanggung jawab keilmuan. Isra Mikraj menegaskan bahwa peningkatan derajat manusia tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesungguhan dalam menjalani proses pembelajaran. Bagi dunia pendidikan, khususnya di sekolah, momentum Isra Mikraj menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah yang menuntut keseriusan, disiplin, dan ketekunan.
Kesungguhan Nabi Muhammad saw. dalam menerima dan melaksanakan perintah salat pada peristiwa Isra Mikraj mencerminkan sikap totalitas dalam mengemban tugas. Nilai ini relevan dengan dunia pelajar yang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak mudah menyerah, dan konsisten dalam menuntut ilmu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya. Dengan demikian, belajar di sekolah bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan ikhtiar sadar untuk meraih kemuliaan hidup melalui ilmu pengetahuan.
Selain kesungguhan, Isra Mikraj juga mengajarkan pentingnya akhlak ilmiah. Ilmu yang diperoleh tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan kering nilai. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak manusia. Dalam konteks sekolah, akhlak ilmiah tercermin dalam kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian, sikap kritis namun santun dalam berdiskusi, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain. Inilah karakter pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.
Lebih jauh, Isra Mikraj menanamkan nilai tanggung jawab dalam mengemban amanah. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa tersebut adalah simbol amanah besar yang harus dijaga secara konsisten. Begitu pula ilmu yang diperoleh siswa di sekolah merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Imam al-Syafi’i menyatakan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang memberi manfaat. Artinya, pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Dengan demikian, Isra Mikraj dapat dimaknai sebagai inspirasi transformatif bagi dunia pendidikan. Ia mengajarkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan intelektual harus seiring dengan pendalaman spiritual dan penguatan karakter. Jika semangat Isra Mikraj dihidupkan di sekolah, maka proses belajar tidak hanya melahirkan siswa yang berprestasi, tetapi juga generasi yang berakhlak ilmiah, bertanggung jawab, dan siap mengemban amanah ilmu untuk kebaikan bersama.
Tags :
Lutfi
MEDIA SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM
Ditunggu ide-idenya pada kolom komentar sebagai ikhtiar bersama meningkatkan kualitas pendidikan
- Lutfi
- Jl. Pesantren No. 11 Tarate Pandian Sumenep
- smaplusmu@gmail.com
- 085233233188

Posting Komentar