Tahun Baru Islam

Rumzil Azizah, M.Pd

"Tetap didik dan doakan anak kita menjadi manusia yang terbaik, karena kita bukan hakim yang harus memutuskan masa depan."

Moh. Nur, S.Kom

“Teruslah belajar dan siapkan masa depan dengan proses yang menyenangkan, bersabar dan ulet untuk menyelesaikan persoalan”

Ema Yuliatin, S.Pd

“Belajar akan lebih mudah meraih masa depan, ingat wajah orantuamu, maka kamu akan semangat kembali ”

SAMBUTAN KEPALA

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.


Puji syukur kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Anugerah-Nya kepada kita semua. Sebagai salah satu sekolah penggerak yang ada di Kab. Sumenep dimana informasi sangat dibutuhkan untuk menjawa dan meyampaikan perkembangan sekolah kami. Besar harapan kami, sarana ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang ada dilingkup pendidikan dan pemerhati pendidikan secara khusus bagi SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Sekolah kami berada didalam Pondok Pesatren Al-Uysmini dimana AHLAQ menjadi yang paling utama bagi seluruh keluarga besar SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Terima kasih atas kunjungannya di website kami maju terus untuk mencapai SMA PLUS MIFTAHUL ULUM yang lebih baik lagi. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Informasi TERBARU

Kami sajikan informasi terupdate disini khusunya pekembangan SMAS PLUS MU SUMENEP

polio

MENGENAL LEBIH JAUH

SMA Plus Miftahul Ulum bediri sejak 2016 atas pemikiran Drs. K.H. Abdullah Cholil M.Hum dimana beliau resah terhadap santri yang menetap dipesantren dan masih sekolah umum diluar pesantren, sebab diluar berbeda dalam pergaulan, tidak seperti pesantren. Jika santri sekolah didalam maka bagi pengasuh lebih mudah dalam mengontrol santri sebagaimana yang diamanahkan oleh wali santri.


SMA ini tentu harus berbeda dengan SMA lain sehingga pengasuh memberi nama Plus Miftahul Ulum, Plus disini lebih dikhususkan kepada pendalaman ilmu agama, dan tidak menutup kemungkinan plus plus yang lain. sejak awal berdiri sampai sekarang SMA Plus Miftahul Ulum mendapat sambutan baik dari masyarakat hal ini dapat dilihat dari kwantitas siswa/i dan kwalitas dalam kegitan belajar mengajar oleh pendidik yang berdidikasi tinggi,


Kapan Berdiri
Baca sejarah SMA Plus
1
...
Kurikulum Sekolah
....
1
...
Fasilitas yang disediakan
...
1
...
Kemudahan dalam belajar
...
1
...
Apa saja kretivitas yang telah dihasilkan
...
1
...

Informasi UMUM

Kami akan suguhkan informasi seputra pendidikan

Minggu, 19 April 2026

Prestasi Membanggakan, Karya Inovasi Guru SMAS Plus Miftahul Ulum Masuk 50 Besar EJIES 2026

Prestasi Membanggakan, Karya Inovasi Guru SMAS Plus Miftahul Ulum Masuk 50 Besar EJIES 2026

Sumenep, 19 April 2026. SMAS Plus Miftahul Ulum kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah pendidikan Jawa Timur. Salah satu guru terbaiknya, Aisyah Fiyanti, S.Pd., berhasil masuk dalam 50 Besar Karya Inovasi Terbaik EJIES 2026 melalui karya inovatif bertajuk “Pemanfaatan Canva Code AI dalam Pembuatan Kalkulator Kimia pada Materi Konsep Mol.”

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dalam dunia pendidikan terus berkembang, seiring dengan pemanfaatan teknologi digital yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini. Karya yang diusung Aisyah tidak hanya menawarkan solusi praktis dalam pembelajaran kimia, tetapi juga menjadi contoh bagaimana guru dapat mengintegrasikan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Dalam keterangannya, Aisyah Fiyanti mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas pencapaian tersebut.

"Saya merasa sangat terharu dan bersyukur, berada di titik ini merupakan buah dari dukungan banyak pihak. Hal ini juga pengingat bagi saya untuk tetap rendah hati dan terus belajar. Mohon doa restunya agar saya dapat menjalani proses ke tahap selanjutnya dengan hasil yang maksimal," tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih.

"Alhamdulillah, capaian Ibu Aisyah Fiyanti, S.Pd masuk 50 Besar Karya Inovasi Terbaik EJIES Jawa Timur 2026 menjadi penanda awal keberhasilan guru SMAS Plus Miftahul Ulum di ajang EJIES. Ini bukan sekadar prestasi individu, tetapi langkah pembuka, pijakan pertama, dan energi penggerak bagi lahirnya inovasi-inovasi guru berikutnya," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini menunjukkan kesiapan guru SMAS Plus Miftahul Ulum untuk bersaing dan berprestasi di tingkat yang lebih luas.

"Dari sini kita belajar bahwa dengan semangat tumbuh, bergerak, dan berdampak, guru mampu menghadirkan karya yang diperhitungkan. Bahwa guru SMAS Plus Miftahul Ulum siap berkarya dan berprestasi di ruang yang lebih luas. Semoga ini menjadi awal dari banyak capaian berikutnya. Aamiin Allahumma Aamiin," pungkasnya.

Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital. SMAS Plus Miftahul Ulum pun semakin meneguhkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada masa depan.

Minggu, 08 Februari 2026

Hadiri Wisuda VII STAI Miftahul Ulum, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum Ucapkan Selamat

Hadiri Wisuda VII STAI Miftahul Ulum, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum Ucapkan Selamat

 

(Sumber : Dok. Pribadi) 

Sumenep — Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., menghadiri undangan Wisuda ke-VII STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep (Sabtu, 07/02/2026) yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Kehadiran tersebut menjadi wujud dukungan sekaligus penguatan hubungan kelembagaan antara SMAS Plus Miftahul Ulum dan STAI Miftahul Ulum yang berada dalam satu naungan yayasan.

Acara wisuda ini diikuti oleh para wisudawan dan wisudawati dari berbagai program studi yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi mereka. Suasana haru dan kebanggaan tampak mewarnai prosesi wisuda yang menjadi momentum penting bagi para lulusan dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rumzil Azizah, M.Pd. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas capaian akademik yang telah diraih. Ia berharap para lulusan STAI Miftahul Ulum mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, serta menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian nyata di tengah masyarakat. Semoga para lulusan mampu membawa nilai-nilai keilmuan dan keislaman dalam setiap peran yang dijalani,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa SMAS Plus Miftahul Ulum sebagai lembaga pendidikan menengah yang berada satu yayasan dengan STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep akan terus membangun dan memperkuat sinergi, khususnya dalam bidang pendidikan, pengembangan karakter, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, sinergi antarlembaga pendidikan dalam satu yayasan merupakan modal penting untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan terintegrasi, mulai dari jenjang menengah hingga perguruan tinggi.

Dengan terselenggaranya Wisuda ke-VII ini, STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep diharapkan semakin berkontribusi dalam mencetak generasi intelektual yang religius, profesional, dan siap menjawab tantangan zaman.

Jumat, 06 Februari 2026

JAIZ-NYA ALLAH

JAIZ-NYA ALLAH

(Sumber : id.pngtree.com) 

Jarum pendek menunjukkan angka sepuluh ketika handphone suami saya berdering.

“Assalamu’alaikum. Enggih, Bah. Kakdinto. Enggih, ngereng. Enggih, bisa.”

Tuttt… pembicaraan terputus.

Tak lama, suami meraih baju koko abu-abu yang tergantung di belakang pintu.

Wah, mau keluar nih, batin saya.

Saya pun bertanya, setengah berharap, setengah bercanda.

“Mas mau ke mana? Ikutttt…”

Suami menoleh. “Mau ikut?”

“Iyaaaa.” Peluang seperti ini harus segera diambil, sebab suami jarang-jarang ngajak keluar.

“Mas diajak Abah menjenguk Pak Asy’ari, beliau sedang sakit habis operasi.”

“Ya ayo, bawa oleh-oleh untuk buah tangan,” jawab saya sigap.

“Siap, Pak Ketua.”

Saya bergegas ke dapur, mencari tas oleh-oleh. Sambil mengisinya, saya nyeletuk,

“Oiya, beliau tiap kali diundang pondok selalu bawa anaknya yang kecil. Sebenarnya beliau punya anak berapa ya, Mas?”

“Gak tahu,” jawab suami singkat.

Tak lama kemudian, suami kembali bersiap.

“Mas mau keluar sebentar ya.”

“Lah, mau ke mana?”

“Ke Toko Barokah. Mau beli snack dan camilan anak.”

“Buat apa, Mas?”

“Buat anak beliau. Kata adek beliau punya anak kecil. Pasti suka kalau dapat hadiah.”

“Ooo… oke.” Saya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah beberes, saya menunggu manis di teras rumah. Matahari sedang terik-teriknya. Beberapa hari ini cuaca memang aneh, kadang hujan seharian, kadang panas tak ketulungan berhari-hari. Dan hari ini, sepertinya saya kebagian jatah panasnya.

Ya sudahlah, saya menghela napas.

“Bremmm…”

Suara Sepeda motor suami berhenti dan terparkir di halaman.

“Yuk, Abah sudah menunggu di gerbang,” katanya.

“Kita naik apa, Mas?”

“Jalan kaki.”

“Hah?”

Alamakkk. Baru saja mengeluhkan panas, sekarang harus jalan kaki.

“Hmm… okelah.”

Saya pun mengekor suami.

“Mas jadi beli apa?”

Ia mengangkat kresek putih yang ditentengnya. Saya mengangguk-angguk.

Rumah Pak Asy’ari yang akan kami datangi cukup dekat, mungkin sekitar tiga ratus meter dari rumah. Jalannya melewati pinggiran sungai. Mungkin itu sebabnya Abah berinisiatif berjalan kaki. Setelah melewati wakaf, sebutan untuk musala kecil yang biasa ada di dekat sungai, sampailah kami di rumah Pak Asy’ari.

“Assalamu’alaikum,” ucap Abah.

Tak ada jawaban. Abah melangkah lebih dalam hingga naik ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum,” ulang Abah.

“Wa’alaikum salam,” jawab seseorang dengan suara bergetar dan pelan. Sayup-sayup terdengar kata, “Ya Allah…”

Ternyata seorang nenek duduk di kasur yang terbentang di pojok teras rumah.

“Mau jenguk Asy’ari?” tanya si nenek.

“Enggih. Ponapa bedeh?” Abah balik bertanya.

“Masok… masok!” Nenek mempersilakan kami masuk.

Keadaan rumah gelap dan pengap.

Aduh, dari terang terbitlah gelap, batin saya.

“Asy’ari ada di kamarnya. Masuk… masuk. Asy’ari tidak dapat bangun,” celetuk nenek itu.

Abah dan suami saling celingak-celinguk. Si nenek hanya berdiri di dekat saya, tidak menunjukkan secara jelas di mana kamar Pak Asy’ari berada. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap dan pengap.

“Di dalam,” lanjut nenek memberi instruksi.

“Yang ada pintunya.”

Akhirnya Abah dan suami masuk ke dalam kegelapan.

“Semoga berhasil,” doa saya dalam hati sambil tersenyum kecil.

Saya dipersilakan duduk di kursi. Di sekitar saya, beberapa mainan dan pakaian anak bertebaran.

“Dari mana?” tanya si nenek.

“Dari pondok, Nek.”

“Istri Asy’ari sedang keluar. Mungkin menjemput anaknya yang TK.”

Saya mengangguk pelan.

Oh, mungkin nenek ini ibunya Pak Asy’ari, pikir saya.

Beliau tampak sepuh, berperawakan kurus, mengenakan kebaya dan sampir khas nenek-nenek zaman dulu. Di tangannya terpasang gelang perak.

Oh… Bu Hajjah, gumam saya.

Kami terdiam. Saya tak tahu harus membuka percakapan bagaimana.

Tiba-tiba nenek itu bersuara lirih,

“Ya Allah, kenapa Asy’ari yang sakit. Ya Allah, ya Rasulallah…”

Suami saya tiba-tiba keluar dari dalam. Saya tersentak.

“Mau ke mana, Mas?”

“Mau ambil sepeda motor di rumah. Pulangnya Mas mau bonceng Abah ya.”

“Betul-betul-betul!” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

Saya kembali duduk. Nenek itu pun melanjutkan cerita, cerita yang menjadi hikmah besar bagi saya.

Usianya sembilan puluh lima tahun. Pendengarannya sudah berkurang banyak. Saya tanya apa, si nenek jawab apa, sering tak nyambung. Tapi justru dari sanalah saya tersentuh.

Setiap ucapannya otomatis berisi kebaikan.

“Semoga anak saya sehat… anak saya berbakti pada saya. Dia tidak akan makan kalau saya tidak makan.”

Ia bercerita, makanan terasa pahit di mulutnya. Tapi anaknya, Pak Asy’ari sabar merawat.

“Mak, kalau tidak makan, saya juga tidak makan,” kata sang anak.

Akhirnya, nenek itu memaksakan diri makan walau pahit demi melihat anaknya ikut makan. Begitu terus setiap hari.

Padahal rumah yang mereka tinggali jauh dari kata mewah.

Nenek itu melanjutkan dengan suara bergetar,

“Ya Allah, kenapa Engkau beri ujian sakit pada anak hamba, bukan kepada hamba yang sudah tua ini? Anak ini berbakti, ya Allah. Sembuhkanlah, sehatkanlah kembali.”

Lalu ia berkata lagi,

“Allah Ta’ala memberi rezeki anak kepada saya banyak. Alhamdulillah, lima belas anak. Lima keguguran. Lima meninggal ketika kecil. Lima yang hidup sampai sekarang.”

“Kalo Allah jaiz, Allah berikan anak. Begitu juga jaiz-nya Allah Ta’ala bisa mengambil anak saya kembali—dengan cara meninggal ataupun keguguran.”

Saya tersentak.

Masya Allah… di usia sembilan puluh lima tahun, beliau lancar mengucapkan sifat jaiz Allah. Bukan hanya hafal istilahnya, tapi memahami dan mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya.

Saya yang mengajar tarikh dan tauhid, yang biasa menjelaskan sifat-sifat Allah lengkap dengan dalil, mendadak merasa kosong. Di kelas, saya khusyuk. Tapi dalam keseharian, saya hanya terbiasa berkata, insya Allah, kalau Allah berkehendak, kalau sudah takdir.

Masya Allah.

Beliau juga bernadzar: jika anaknya sembuh, akan dibawa ziarah ke makam Kyai Legung, kakek buyutnya.

Lagi-lagi saya tersentak.

Amalan “orang kona”. Orang-orang tua zaman dahulu.

Mereka mungkin tak melewati pendidikan formal atau madrasah secara sempurna. Tapi ruh keagamaan mereka mendarah daging, menjadi karakter yang terus melekat.

Saya teringat mbah saya. Setiap kali saya sembuh dari sakit, beliau mengajak saya ziarah ke waliyullah. Di Sumenep, ada Asta Tinggi, Bujuk Lanjheng, Astana Sayyid Yusuf.

Setiap kali saya ujian, beliau membuat tajin alias bubur pandan hijau dengan serutan gula Jawa di atasnya untuk diberikan pada guru ngaji dan tetangga kanan kiri.

Setiap pagi, beliau bangun jam dua untuk tahajud. Membaca Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin tanpa melihat mushaf. Karena sudah sepuh dan sudah hafal di luar kepala.

Begitu banyak amalan baik yang beliau kerjakan, diam-diam, istiqamah.

Tiba-tiba suara bariton mengagetkan saya.

“Ayok pulang, Dek.”

Suami saya mengajak pulang, disusul Abah yang menutup dengan doa, semoga Pak Asy’ari kembali pulih, sehat wal afiat, dan panjang umur.

Saya melangkah pulang dengan hati yang berbeda.

Terinspirasi .

Sekaligus lebih terang.


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 05 Februari 2026

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA


SYAIR NASIHAT HIDUP BAHAGIA

Bangun malam menata niat

Ingat Allah hati pun kuat

Hidup singkat janganlah lalai 

Ibadah tulus jadi bekal sampai akhirat


Shalat dijaga waktu dan rasa

Dan dipanjat penuh percaya

Walau cobaan sering datang

Sabar dan ikhlas jadi cahaya


Hormati orang tua dan guru

Lembutkan lisan baikkan laku

Ilmu diamalkan agar tak jadi pilihan

Agar hidup penuh makna dan restu


Mari bersama memperbaiki diri

Dekatkan hati pada ilahi

Semoga kelak Allah rahmati

Bahagia dunia hingga akhir nanti


Ditulis oleh : Ayunita W, Kholifatul H. Fitriyatus S, Nur Azizah A, Siti Nur Asiyah, Anis Alfiyah, Siti Maulidatul M, & Nayla salsabila


SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT

Ingatlah semua pada akhirat

Tinggalkan dosa mari bertaubat

Janganlah lupa kerjakan sholat

Agar selamat dunia akhirat


Tinggalkan zina perbanyak taubat 

Hindarkan maksiat agar selamat

Marilah kita baca shalawat

Supaya kita dapat syafaat


Jika ingin masuk ke syurga

Perbanyak amal dan juga derma

Supaya kita dapat pahala

Dari Allah yang maha kuasa


Itu petunjuk Allah Ta'ala

Untuk kita para hambanya

Kuatkan iman di dalam dada

Beribadahlah sepanjang masa


Ditulis oleh : Suci Hati, Arinatun Nauriyah Naysila Aulia Putri, Jamilatul Fitriyah, Eka Syifa LK., Aniatus Saira, & Sabrina M.

Selasa, 03 Februari 2026

SYAIR KEHIDUPAN

SYAIR KEHIDUPAN

 

(Sumber : bola.com) 


SYAIR NASIHAT KEHIDUPAN

Kalau mau hidup nyaman

Carilah kerjaan yang aman

Kalau kerjaan sudah aman

Hidup kan terasa nyaman


Makanlah makan sehat 

Biar badan jadi kuat

Kalau badan sudah kuat

Kerja pun tak terasa berat


Kalau kerja tidak berat 

Ibadah pun tidak berat 

Kalau ibadah tidak berat 

Hati tenang tiap saat


Kalau tenang tiap saat

Berarti ibadah di jaga ketat

Masalah hidup pun minggat 

Kalau ibadahmu jalan tiap saat


Disusun oleh : Noval, Romdan, Fiqri, Ubed


SYAIR HIDUP SELAMAT

Bersyukur kepada Allah yang maha kuasa

Melaksanakan beberapa yang diperintah

Jangan lupa menjauhi perkara yang salah 

Supaya selamat dari api neraka


Orang mati dimandikan disucikan

Dibungkus dengan beberapa kain kafan

Diangkat dipikul menuju kuburan

Keluarga dan tetangga saling mendoakan


Muslimin dan muslimat 

Mari berjamaah solat 

Sebagai bekal kelak di akhirat

Agar kita sama-sama selamat


Malaikat Atid mencatat amal buruknya

Maka dari itu janganlah berbuat dosa

Akan tetapi perbanyaklah doa

Agar diampuni segala dosanya


Disusun oleh : Faisal, Fachri, Rofiq, Sitky, dan Arifin

Senin, 02 Februari 2026

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah


Sumenep, 2 Februari 2026 — SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan upacara bendera rutin hari Senin pada awal pekan ini. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat di halaman sekolah.

Upacara dipimpin oleh petugas dari siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Seluruh rangkaian kegiatan upacara berlangsung sesuai tata tertib, mencerminkan sikap disiplin serta semangat kebangsaan warga sekolah.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Moh. Lutfi menyampaikan amanat yang sarat nilai edukatif dan reflektif, khususnya terkait pentingnya pembentukan karakter peserta didik. Dalam amanatnya, beliau menjelaskan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yakni charassein, yang berarti mengukir atau memahat. Makna tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terus dibiasakan dan dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, pembina upacara menekankan tiga poin penting dalam membangun karakter yang baik. Pertama, mengetahui hal yang baik (knowing the good), yaitu memahami dan mengenali nilai-nilai kebaikan secara benar. Kedua, menginginkan hal yang baik (desiring the good), yakni menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk mencintai kebaikan. Ketiga, melakukan hal yang baik (doing the good), yaitu membiasakan diri mewujudkan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam tindakan nyata.

Dalam amanatnya, pembina juga mengingatkan bahwa karakter buruk sejatinya terbentuk dari kebalikan tiga poin tersebut, yakni ketika seseorang tidak mengetahui nilai kebaikan, tidak menginginkan kebaikan, serta tidak membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu menjaga keselarasan antara pengetahuan, niat, dan perbuatan agar terbentuk pribadi yang berkarakter mulia.

Amanat tersebut menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh peserta upacara untuk terus menguatkan nilai-nilai karakter dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Upacara bendera rutin hari Senin ini pun menjadi salah satu sarana strategis SMAS Plus Miftahul Ulum dalam menanamkan disiplin, nasionalisme, serta pendidikan karakter kepada seluruh peserta didik.

PENGELOLA SMAS PLUS MU

Rumzil Azizah, M.Pd

(Kepala)

Nilta Najmur R., M.Pd

(W. Kurikulum)

Tutik Herawti, S.Pd

(W. Kesiswaan)

Hisbullah Huda, SH.I

(W. Sarpas)

Moh. Hariyanto

(W. Humas)

Sofiyatul Husna

(Bendahara)

Hairul Jamal

(K. TU)

MOH. NUR

(OPS)

Maps Dan Kontak

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan kirim E-Mail, WA dan bisa berkunjung ke alamat dibawah ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Featured