 |
| Ilustrasi: Tony Liong via rise.smeru.or.id |
Guru
Ditulis oleh : Hoza Putri Romadani, Rona Salsabila, Ayu Tina Prastiwi, & Khoirotun Nisa
Di pagi yang belum menampakkan fajarnya
Dia bangun lebih awal
Dengan niat yang begitu mulia
Dia tak kenal lelah
Guru...
Dia tak kenal sakit
Kadang tubuhnya lelah tapi
Hatinya begitu kuat dengan niat yang membara
Niat baiknya membuat kita
Jauh dari yang namanya kebodohan
Karena-nya kita tahu membaca
Menulis bahkan menciptakan bait kata
Yang ia sampaikan lewat kata
Ia menyampaikan ilmu-ilmunya
Tanpanya kita tak jadi apa
Jejak Pena di Ujung Harapan
Ditulia oleh : Aisyah Hammuliya, RA. Siti Maufirah, Siti Khoirotun Nisa, & Nurul Kholifah
Di ruang hening fajar menyapa
Langkah kaki meniti ilmu
Buku terbuka menantang mata
Mengejar mimpi yang dituju
Pena menari di atas kertas
Mengukir kisah perjuangan
Hati tulus tak pernah terbatas
Membakar kebodohan, menyulut harapan
Guratan waktu takkan percuma
Ilmu tertanam di dalam dada
Menjadi bekal tuk masa depan
Jembatan emas impian mulia...
Ibu Lautan Kasih
Ditulis oleh : Siti Khotijah, Dewi Khofifah, Rahayu Maulidia, & Amelia Nur Faizah
Ibu...
Samudra kasihmu begitu luas tak bertepi
Menenggelamkan segala luka, mengalirkan damai
Setiap tetes air matamu adalah doa
Menjadi tujuan yang menyuburkan jiwaku
Kau ajarkan tentang kekuatan
Tentang keikhlasan, tentang bertahan
Meski dunia berubah
Cintamu tetap abadi, tak pernah goyah.
Kau adalah rumah tempatku kembali
Tempatku bersandar, tempatku mengabdi
Di setiap helaan nafas dan langkah kaki
Selalu ada bayangmu Ibu, di hati.
Untuk Sang Permata Surga
Ditulis oleh : Shelvyna, Hilmatul Ilmiyah, Siti Abelia Putri, & Intan Nur Jannah
Ayah...
Keringatmu bercucuran karena panasnya matahari
Lelah dan letih telah kau rasakan
Demi menghidupkan keluarga kecilmu tercinta
Kini, kau berharap segala pengorbananmu dibalas Sang Ilahi
Dibalas dengan kebahagiaan tiada tara
Ibu...
Kau kehangatan yang Tuhan ciptakan
Kau melahirkanku dengan mengorbankan separuh nyawamu
Kau merawatku hingga aku merasakan lika-liku dunia
Kau pemilik kesabaran sedalam samudra
Kini aku berharap kebahagiaan setinggi gunung untukmu
Maaf ayah, ibu...
Aku belum bisa membalas segala jasamu
Aku hanya selalu bersimpuh dan berdoa
Untuk segala kebahagiaanmu
Tameng Negara
Ditulis oleh : Devi Avia, Lizatul Maghfiroh, Dewi Kholiyatul Jannah, & Fita Khoirotun Nisa
Ayunan pedang di mana-mana
Tombakpun melesat pada sasarannya
Suara pistol menggema memenuhi gendang telinga
Mengalir darah
Mewarnai tanah sang pertiwi
Di sana berdiri dengan gagah
Manusia-manusia mulia
Dengan api semangat yang berkobar di mata mereka
Yang menyerahkan nyawanya
Pada pedang yang dipegangnya
Di depan mereka hanya ada dua jalan
Maju dengan tenang
Atau mundur dengan menjadi pecundang
Harapan Masa Depan
Ditulia oleh : Eizatul Aulia, Siti Mairani Putri, & Siti Anisa
Harapan....
Masa depan kita telah menunggu
Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita
Bahagiakah?
Sedihkah?
Tidak ada kata terlambat
Masa depan...
Jangan hanya dirancang
Gapai apa yang sudah dirancanakan
Raih apa yang diinginkan
Terjatuh
Bangkit kembali
Sehingga apa yang kita inginkan
Ada di tangan kita
Ayah
Ditulia oleh : Syahnaz, Fela, Mala, & Syahadatillah.
Ayah...
Kaulah cinta pertamaku
Kau pelindungku disaat ku membutuhkanmu
Kau tak banyak bicara, tapi hatimu penuh cerita
Kau adalah tempat berteduh saat badai datang
Kau pernah bilang "Jangan pernah menyerah saat menghadapi cobaan"
Kau bukan hanya ayah
Tapi juga sahabat terbaik terbaikku
Setiap kali aku butuh
Kamu selalu ada tepat waktu
Ayah...
Setiap detik aku merasa beruntung
Karna punya kamu yang selalu menjadi pelindungku
Guru
Ditulis Oleh: Safira Aulia & Putri Zahrotul Jannah
Di gelap malam gulita
Seorang datang dengan lentera
Menebarkan cahaya dalam sebuah asa yang hampir sirna
Menunjuk arah disaat langkah tersesat
Dalam gelapnya kebodohan
Seorang yang tak kenal letih
Seorang yang mengabaikan rasa lelah
Demi bintang kecil yang menanti bagiannya
tuk bersinar
dialah guru, guru
yang mengorbankan detik menit dan
jam berharganya, untuk kita bisa
meraih ridho sang kuasa