Tahun Baru Islam

Rumzil Azizah, M.Pd

"Tetap didik dan doakan anak kita menjadi manusia yang terbaik, karena kita bukan hakim yang harus memutuskan masa depan."

Moh. Nur, S.Kom

“Teruslah belajar dan siapkan masa depan dengan proses yang menyenangkan, bersabar dan ulet untuk menyelesaikan persoalan”

Ema Yuliatin, S.Pd

“Belajar akan lebih mudah meraih masa depan, ingat wajah orantuamu, maka kamu akan semangat kembali ”

SAMBUTAN KEPALA

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.


Puji syukur kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Anugerah-Nya kepada kita semua. Sebagai salah satu sekolah penggerak yang ada di Kab. Sumenep dimana informasi sangat dibutuhkan untuk menjawa dan meyampaikan perkembangan sekolah kami. Besar harapan kami, sarana ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang ada dilingkup pendidikan dan pemerhati pendidikan secara khusus bagi SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Sekolah kami berada didalam Pondok Pesatren Al-Uysmini dimana AHLAQ menjadi yang paling utama bagi seluruh keluarga besar SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Terima kasih atas kunjungannya di website kami maju terus untuk mencapai SMA PLUS MIFTAHUL ULUM yang lebih baik lagi. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Informasi TERBARU

Kami sajikan informasi terupdate disini khusunya pekembangan SMAS PLUS MU SUMENEP

polio

MENGENAL LEBIH JAUH

SMA Plus Miftahul Ulum bediri sejak 2016 atas pemikiran Drs. K.H. Abdullah Cholil M.Hum dimana beliau resah terhadap santri yang menetap dipesantren dan masih sekolah umum diluar pesantren, sebab diluar berbeda dalam pergaulan, tidak seperti pesantren. Jika santri sekolah didalam maka bagi pengasuh lebih mudah dalam mengontrol santri sebagaimana yang diamanahkan oleh wali santri.


SMA ini tentu harus berbeda dengan SMA lain sehingga pengasuh memberi nama Plus Miftahul Ulum, Plus disini lebih dikhususkan kepada pendalaman ilmu agama, dan tidak menutup kemungkinan plus plus yang lain. sejak awal berdiri sampai sekarang SMA Plus Miftahul Ulum mendapat sambutan baik dari masyarakat hal ini dapat dilihat dari kwantitas siswa/i dan kwalitas dalam kegitan belajar mengajar oleh pendidik yang berdidikasi tinggi,


Kapan Berdiri
Baca sejarah SMA Plus
1
...
Kurikulum Sekolah
....
1
...
Fasilitas yang disediakan
...
1
...
Kemudahan dalam belajar
...
1
...
Apa saja kretivitas yang telah dihasilkan
...
1
...

Informasi UMUM

Kami akan suguhkan informasi seputra pendidikan

Jumat, 06 Februari 2026

JAIZ-NYA ALLAH

JAIZ-NYA ALLAH

(Sumber : id.pngtree.com) 

Jarum pendek menunjukkan angka sepuluh ketika handphone suami saya berdering.

“Assalamu’alaikum. Enggih, Bah. Kakdinto. Enggih, ngereng. Enggih, bisa.”

Tuttt… pembicaraan terputus.

Tak lama, suami meraih baju koko abu-abu yang tergantung di belakang pintu.

Wah, mau keluar nih, batin saya.

Saya pun bertanya, setengah berharap, setengah bercanda.

“Mas mau ke mana? Ikutttt…”

Suami menoleh. “Mau ikut?”

“Iyaaaa.” Peluang seperti ini harus segera diambil, sebab suami jarang-jarang ngajak keluar.

“Mas diajak Abah menjenguk Pak Asy’ari, beliau sedang sakit habis operasi.”

“Ya ayo, bawa oleh-oleh untuk buah tangan,” jawab saya sigap.

“Siap, Pak Ketua.”

Saya bergegas ke dapur, mencari tas oleh-oleh. Sambil mengisinya, saya nyeletuk,

“Oiya, beliau tiap kali diundang pondok selalu bawa anaknya yang kecil. Sebenarnya beliau punya anak berapa ya, Mas?”

“Gak tahu,” jawab suami singkat.

Tak lama kemudian, suami kembali bersiap.

“Mas mau keluar sebentar ya.”

“Lah, mau ke mana?”

“Ke Toko Barokah. Mau beli snack dan camilan anak.”

“Buat apa, Mas?”

“Buat anak beliau. Kata adek beliau punya anak kecil. Pasti suka kalau dapat hadiah.”

“Ooo… oke.” Saya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah beberes, saya menunggu manis di teras rumah. Matahari sedang terik-teriknya. Beberapa hari ini cuaca memang aneh, kadang hujan seharian, kadang panas tak ketulungan berhari-hari. Dan hari ini, sepertinya saya kebagian jatah panasnya.

Ya sudahlah, saya menghela napas.

“Bremmm…”

Suara Sepeda motor suami berhenti dan terparkir di halaman.

“Yuk, Abah sudah menunggu di gerbang,” katanya.

“Kita naik apa, Mas?”

“Jalan kaki.”

“Hah?”

Alamakkk. Baru saja mengeluhkan panas, sekarang harus jalan kaki.

“Hmm… okelah.”

Saya pun mengekor suami.

“Mas jadi beli apa?”

Ia mengangkat kresek putih yang ditentengnya. Saya mengangguk-angguk.

Rumah Pak Asy’ari yang akan kami datangi cukup dekat, mungkin sekitar tiga ratus meter dari rumah. Jalannya melewati pinggiran sungai. Mungkin itu sebabnya Abah berinisiatif berjalan kaki. Setelah melewati wakaf, sebutan untuk musala kecil yang biasa ada di dekat sungai, sampailah kami di rumah Pak Asy’ari.

“Assalamu’alaikum,” ucap Abah.

Tak ada jawaban. Abah melangkah lebih dalam hingga naik ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum,” ulang Abah.

“Wa’alaikum salam,” jawab seseorang dengan suara bergetar dan pelan. Sayup-sayup terdengar kata, “Ya Allah…”

Ternyata seorang nenek duduk di kasur yang terbentang di pojok teras rumah.

“Mau jenguk Asy’ari?” tanya si nenek.

“Enggih. Ponapa bedeh?” Abah balik bertanya.

“Masok… masok!” Nenek mempersilakan kami masuk.

Keadaan rumah gelap dan pengap.

Aduh, dari terang terbitlah gelap, batin saya.

“Asy’ari ada di kamarnya. Masuk… masuk. Asy’ari tidak dapat bangun,” celetuk nenek itu.

Abah dan suami saling celingak-celinguk. Si nenek hanya berdiri di dekat saya, tidak menunjukkan secara jelas di mana kamar Pak Asy’ari berada. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap dan pengap.

“Di dalam,” lanjut nenek memberi instruksi.

“Yang ada pintunya.”

Akhirnya Abah dan suami masuk ke dalam kegelapan.

“Semoga berhasil,” doa saya dalam hati sambil tersenyum kecil.

Saya dipersilakan duduk di kursi. Di sekitar saya, beberapa mainan dan pakaian anak bertebaran.

“Dari mana?” tanya si nenek.

“Dari pondok, Nek.”

“Istri Asy’ari sedang keluar. Mungkin menjemput anaknya yang TK.”

Saya mengangguk pelan.

Oh, mungkin nenek ini ibunya Pak Asy’ari, pikir saya.

Beliau tampak sepuh, berperawakan kurus, mengenakan kebaya dan sampir khas nenek-nenek zaman dulu. Di tangannya terpasang gelang perak.

Oh… Bu Hajjah, gumam saya.

Kami terdiam. Saya tak tahu harus membuka percakapan bagaimana.

Tiba-tiba nenek itu bersuara lirih,

“Ya Allah, kenapa Asy’ari yang sakit. Ya Allah, ya Rasulallah…”

Suami saya tiba-tiba keluar dari dalam. Saya tersentak.

“Mau ke mana, Mas?”

“Mau ambil sepeda motor di rumah. Pulangnya Mas mau bonceng Abah ya.”

“Betul-betul-betul!” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

Saya kembali duduk. Nenek itu pun melanjutkan cerita, cerita yang menjadi hikmah besar bagi saya.

Usianya sembilan puluh lima tahun. Pendengarannya sudah berkurang banyak. Saya tanya apa, si nenek jawab apa, sering tak nyambung. Tapi justru dari sanalah saya tersentuh.

Setiap ucapannya otomatis berisi kebaikan.

“Semoga anak saya sehat… anak saya berbakti pada saya. Dia tidak akan makan kalau saya tidak makan.”

Ia bercerita, makanan terasa pahit di mulutnya. Tapi anaknya, Pak Asy’ari sabar merawat.

“Mak, kalau tidak makan, saya juga tidak makan,” kata sang anak.

Akhirnya, nenek itu memaksakan diri makan walau pahit demi melihat anaknya ikut makan. Begitu terus setiap hari.

Padahal rumah yang mereka tinggali jauh dari kata mewah.

Nenek itu melanjutkan dengan suara bergetar,

“Ya Allah, kenapa Engkau beri ujian sakit pada anak hamba, bukan kepada hamba yang sudah tua ini? Anak ini berbakti, ya Allah. Sembuhkanlah, sehatkanlah kembali.”

Lalu ia berkata lagi,

“Allah Ta’ala memberi rezeki anak kepada saya banyak. Alhamdulillah, lima belas anak. Lima keguguran. Lima meninggal ketika kecil. Lima yang hidup sampai sekarang.”

“Kalo Allah jaiz, Allah berikan anak. Begitu juga jaiz-nya Allah Ta’ala bisa mengambil anak saya kembali—dengan cara meninggal ataupun keguguran.”

Saya tersentak.

Masya Allah… di usia sembilan puluh lima tahun, beliau lancar mengucapkan sifat jaiz Allah. Bukan hanya hafal istilahnya, tapi memahami dan mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya.

Saya yang mengajar tarikh dan tauhid, yang biasa menjelaskan sifat-sifat Allah lengkap dengan dalil, mendadak merasa kosong. Di kelas, saya khusyuk. Tapi dalam keseharian, saya hanya terbiasa berkata, insya Allah, kalau Allah berkehendak, kalau sudah takdir.

Masya Allah.

Beliau juga bernadzar: jika anaknya sembuh, akan dibawa ziarah ke makam Kyai Legung, kakek buyutnya.

Lagi-lagi saya tersentak.

Amalan “orang kona”. Orang-orang tua zaman dahulu.

Mereka mungkin tak melewati pendidikan formal atau madrasah secara sempurna. Tapi ruh keagamaan mereka mendarah daging, menjadi karakter yang terus melekat.

Saya teringat mbah saya. Setiap kali saya sembuh dari sakit, beliau mengajak saya ziarah ke waliyullah. Di Sumenep, ada Asta Tinggi, Bujuk Lanjheng, Astana Sayyid Yusuf.

Setiap kali saya ujian, beliau membuat tajin alias bubur pandan hijau dengan serutan gula Jawa di atasnya untuk diberikan pada guru ngaji dan tetangga kanan kiri.

Setiap pagi, beliau bangun jam dua untuk tahajud. Membaca Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin tanpa melihat mushaf. Karena sudah sepuh dan sudah hafal di luar kepala.

Begitu banyak amalan baik yang beliau kerjakan, diam-diam, istiqamah.

Tiba-tiba suara bariton mengagetkan saya.

“Ayok pulang, Dek.”

Suami saya mengajak pulang, disusul Abah yang menutup dengan doa, semoga Pak Asy’ari kembali pulih, sehat wal afiat, dan panjang umur.

Saya melangkah pulang dengan hati yang berbeda.

Terinspirasi .

Sekaligus lebih terang.


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 05 Februari 2026

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA


SYAIR NASIHAT HIDUP BAHAGIA

Bangun malam menata niat

Ingat Allah hati pun kuat

Hidup singkat janganlah lalai 

Ibadah tulus jadi bekal sampai akhirat


Shalat dijaga waktu dan rasa

Dan dipanjat penuh percaya

Walau cobaan sering datang

Sabar dan ikhlas jadi cahaya


Hormati orang tua dan guru

Lembutkan lisan baikkan laku

Ilmu diamalkan agar tak jadi pilihan

Agar hidup penuh makna dan restu


Mari bersama memperbaiki diri

Dekatkan hati pada ilahi

Semoga kelak Allah rahmati

Bahagia dunia hingga akhir nanti


Ditulis oleh : Ayunita W, Kholifatul H. Fitriyatus S, Nur Azizah A, Siti Nur Asiyah, Anis Alfiyah, Siti Maulidatul M, & Nayla salsabila


SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT

Ingatlah semua pada akhirat

Tinggalkan dosa mari bertaubat

Janganlah lupa kerjakan sholat

Agar selamat dunia akhirat


Tinggalkan zina perbanyak taubat 

Hindarkan maksiat agar selamat

Marilah kita baca shalawat

Supaya kita dapat syafaat


Jika ingin masuk ke syurga

Perbanyak amal dan juga derma

Supaya kita dapat pahala

Dari Allah yang maha kuasa


Itu petunjuk Allah Ta'ala

Untuk kita para hambanya

Kuatkan iman di dalam dada

Beribadahlah sepanjang masa


Ditulis oleh : Suci Hati, Arinatun Nauriyah Naysila Aulia Putri, Jamilatul Fitriyah, Eka Syifa LK., Aniatus Saira, & Sabrina M.

Selasa, 03 Februari 2026

SYAIR KEHIDUPAN

SYAIR KEHIDUPAN

 

(Sumber : bola.com) 


SYAIR NASIHAT KEHIDUPAN

Kalau mau hidup nyaman

Carilah kerjaan yang aman

Kalau kerjaan sudah aman

Hidup kan terasa nyaman


Makanlah makan sehat 

Biar badan jadi kuat

Kalau badan sudah kuat

Kerja pun tak terasa berat


Kalau kerja tidak berat 

Ibadah pun tidak berat 

Kalau ibadah tidak berat 

Hati tenang tiap saat


Kalau tenang tiap saat

Berarti ibadah di jaga ketat

Masalah hidup pun minggat 

Kalau ibadahmu jalan tiap saat


Disusun oleh : Noval, Romdan, Fiqri, Ubed


SYAIR HIDUP SELAMAT

Bersyukur kepada Allah yang maha kuasa

Melaksanakan beberapa yang diperintah

Jangan lupa menjauhi perkara yang salah 

Supaya selamat dari api neraka


Orang mati dimandikan disucikan

Dibungkus dengan beberapa kain kafan

Diangkat dipikul menuju kuburan

Keluarga dan tetangga saling mendoakan


Muslimin dan muslimat 

Mari berjamaah solat 

Sebagai bekal kelak di akhirat

Agar kita sama-sama selamat


Malaikat Atid mencatat amal buruknya

Maka dari itu janganlah berbuat dosa

Akan tetapi perbanyaklah doa

Agar diampuni segala dosanya


Disusun oleh : Faisal, Fachri, Rofiq, Sitky, dan Arifin

Senin, 02 Februari 2026

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah


Sumenep, 2 Februari 2026 — SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan upacara bendera rutin hari Senin pada awal pekan ini. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat di halaman sekolah.

Upacara dipimpin oleh petugas dari siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Seluruh rangkaian kegiatan upacara berlangsung sesuai tata tertib, mencerminkan sikap disiplin serta semangat kebangsaan warga sekolah.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Moh. Lutfi menyampaikan amanat yang sarat nilai edukatif dan reflektif, khususnya terkait pentingnya pembentukan karakter peserta didik. Dalam amanatnya, beliau menjelaskan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yakni charassein, yang berarti mengukir atau memahat. Makna tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terus dibiasakan dan dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, pembina upacara menekankan tiga poin penting dalam membangun karakter yang baik. Pertama, mengetahui hal yang baik (knowing the good), yaitu memahami dan mengenali nilai-nilai kebaikan secara benar. Kedua, menginginkan hal yang baik (desiring the good), yakni menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk mencintai kebaikan. Ketiga, melakukan hal yang baik (doing the good), yaitu membiasakan diri mewujudkan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam tindakan nyata.

Dalam amanatnya, pembina juga mengingatkan bahwa karakter buruk sejatinya terbentuk dari kebalikan tiga poin tersebut, yakni ketika seseorang tidak mengetahui nilai kebaikan, tidak menginginkan kebaikan, serta tidak membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu menjaga keselarasan antara pengetahuan, niat, dan perbuatan agar terbentuk pribadi yang berkarakter mulia.

Amanat tersebut menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh peserta upacara untuk terus menguatkan nilai-nilai karakter dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Upacara bendera rutin hari Senin ini pun menjadi salah satu sarana strategis SMAS Plus Miftahul Ulum dalam menanamkan disiplin, nasionalisme, serta pendidikan karakter kepada seluruh peserta didik.

Jumat, 30 Januari 2026

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

 

Ilustrasi: Tony Liong via rise.smeru.or.id

Guru

Ditulis oleh : Hoza Putri Romadani, Rona Salsabila, Ayu Tina Prastiwi, & Khoirotun Nisa

Di pagi yang belum menampakkan fajarnya

Dia bangun lebih awal

Dengan niat yang begitu mulia

Dia tak kenal lelah

​Guru...

Dia tak kenal sakit

Kadang tubuhnya lelah tapi

Hatinya begitu kuat dengan niat yang membara

​Niat baiknya membuat kita

Jauh dari yang namanya kebodohan

Karena-nya kita tahu membaca

Menulis bahkan menciptakan bait kata

​Yang ia sampaikan lewat kata

Ia menyampaikan ilmu-ilmunya

Tanpanya kita tak jadi apa


Jejak Pena di Ujung Harapan

Ditulia oleh : Aisyah Hammuliya, RA. Siti Maufirah, Siti Khoirotun Nisa, & Nurul Kholifah

Di ruang hening fajar menyapa

Langkah kaki meniti ilmu

Buku terbuka menantang mata

Mengejar mimpi yang dituju

​Pena menari di atas kertas

Mengukir kisah perjuangan

Hati tulus tak pernah terbatas

Membakar kebodohan, menyulut harapan

​Guratan waktu takkan percuma

Ilmu tertanam di dalam dada

Menjadi bekal tuk masa depan

Jembatan emas impian mulia...


Ibu Lautan Kasih

Ditulis oleh : Siti Khotijah, Dewi Khofifah, Rahayu Maulidia, & Amelia Nur Faizah

Ibu...

Samudra kasihmu begitu luas tak bertepi

Menenggelamkan segala luka, mengalirkan damai

Setiap tetes air matamu adalah doa

Menjadi tujuan yang menyuburkan jiwaku

​Kau ajarkan tentang kekuatan

Tentang keikhlasan, tentang bertahan

Meski dunia berubah

Cintamu tetap abadi, tak pernah goyah.

​Kau adalah rumah tempatku kembali

Tempatku bersandar, tempatku mengabdi

Di setiap helaan nafas dan langkah kaki

Selalu ada bayangmu Ibu, di hati.


Untuk Sang Permata Surga

Ditulis oleh : Shelvyna, Hilmatul Ilmiyah, Siti Abelia Putri, & Intan Nur Jannah

Ayah...

Keringatmu bercucuran karena panasnya matahari

Lelah dan letih telah kau rasakan

Demi menghidupkan keluarga kecilmu tercinta

Kini, kau berharap segala pengorbananmu dibalas Sang Ilahi

Dibalas dengan kebahagiaan tiada tara

Ibu...

Kau kehangatan yang Tuhan ciptakan

Kau melahirkanku dengan mengorbankan separuh nyawamu

Kau merawatku hingga aku merasakan lika-liku dunia

Kau pemilik kesabaran sedalam samudra

Kini aku berharap kebahagiaan setinggi gunung untukmu

​Maaf ayah, ibu...

Aku belum bisa membalas segala jasamu

Aku hanya selalu bersimpuh dan berdoa

Untuk segala kebahagiaanmu

Tameng Negara

Ditulis oleh : Devi Avia, Lizatul Maghfiroh, Dewi Kholiyatul Jannah, & Fita Khoirotun Nisa

Ayunan pedang di mana-mana

Tombakpun melesat pada sasarannya

Suara pistol menggema memenuhi gendang telinga

Mengalir darah

Mewarnai tanah sang pertiwi

Di sana berdiri dengan gagah

Manusia-manusia mulia

Dengan api semangat yang berkobar di mata mereka

Yang menyerahkan nyawanya

Pada pedang yang dipegangnya

Di depan mereka hanya ada dua jalan

Maju dengan tenang

Atau mundur dengan menjadi pecundang


​Harapan Masa Depan

Ditulia oleh : Eizatul Aulia, Siti Mairani Putri, & Siti Anisa

Harapan....

Masa depan kita telah menunggu

Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita

Bahagiakah?

Sedihkah?

Tidak ada kata terlambat

​Masa depan...

Jangan hanya dirancang

Gapai apa yang sudah dirancanakan

Raih apa yang diinginkan

Terjatuh

Bangkit kembali

Sehingga apa yang kita inginkan

Ada di tangan kita

Ayah

Ditulia oleh : Syahnaz, Fela, Mala, & Syahadatillah. 

Ayah...

Kaulah cinta pertamaku

Kau pelindungku disaat ku membutuhkanmu

Kau tak banyak bicara, tapi hatimu penuh cerita

Kau adalah tempat berteduh saat badai datang

Kau pernah bilang "Jangan pernah menyerah saat menghadapi cobaan"

Kau bukan hanya ayah

Tapi juga sahabat terbaik terbaikku

Setiap kali aku butuh

Kamu selalu ada tepat waktu

​Ayah...

Setiap detik aku merasa beruntung

Karna punya kamu yang selalu menjadi pelindungku

Guru

Ditulis Oleh: Safira Aulia & Putri Zahrotul Jannah

Di gelap malam gulita

Seorang datang dengan lentera

Menebarkan cahaya dalam sebuah asa yang hampir sirna

Menunjuk arah disaat langkah tersesat

Dalam gelapnya kebodohan

Seorang yang tak kenal letih

Seorang yang mengabaikan rasa lelah

Demi bintang kecil yang menanti bagiannya

tuk bersinar

dialah guru, guru

yang mengorbankan detik menit dan

jam berharganya, untuk kita bisa

meraih ridho sang kuasa



Kamis, 29 Januari 2026

Rindu, Cahaya dan Harapan

Rindu, Cahaya dan Harapan

 

Foto: wirestock/Freepik via detik.com

Tangis dalam Rindu

Sudah lama aku merindu
Menangis dengan air mata sendu
Hanya dengan menyebut namamu
Mengapa hati ini begitu rindu
Ya Rasulullah …
Engkaulah cahaya bukan bayangan
Engkaulah pelita dalam kegelapan
Meski shalawat dilantunkan dengan syahdu
Hati ini akan tetap selalu merindu
Ya Rasulullah …
Selama ini rindu ini bersemayam dalam hati
Kian memuncah saat menyebut namamu ya habibi
Sudah lama menunggu dalam ruang waktu
Diri ini ingin bertemu
Mencium tanganmu
Memelukmu
Bertemu denganmu ya Rasul …
Meski rindu ku simpan dalam hati
Namun shalawat tak kan terhenti
Engkau membawa hidup selamat
Memberi cahaya pada seluruh ummat
Engkau penolong pemberi syafaat
Pada seluruh ummat kelak di akhirat

Ditulis oleh : (Nur Anisa Putri, Nailatun Naura, Kamiliya Azmi, & Rahwaniya)


Jalan Terang

Langkah kaki menapaki jalan
Tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan

Hidup tanpa ilmu
Bagai rumah tak berlampu
Gelap bagai abu
Seperti bayangan yang semu

Pada siapa kubertanya
Tentang arti hidup yang sebenarnya
Ketika ilmu tak kupunya
Pendidikanlah yang menjadi jalannya.

Ditulis oleh: (Zulfa Fariha, Lailatul Farina Aurillah, Nurrohmi Amelia, Qurrotu Aini, & Yuni Aisyah F.)


Jejak Harapan

Jika haru tak kurindu
Bisikan maut menyoraki kegelapan
Tangan demi angan aku hempaskan
Meniti sejuta harapan.

Berisik mengelilingi ingatan
Akan kupanggil di kala terkesan
Membuka sejuta harapan
Walaupun berbalut dengan kenyataan

Jika jiwaku terlalu buram
Maka kupastikan terang lewat khayalan
Aku adalah aku
Tak seorang tau tentang diriku
Rindu yang menyapa kehangatan
Terlalu rawan untuk diutamakan
Jejak itu akan ku kejar sampai menjadi harapan.

Ditulis oleh: (Ratno Kurnia R., Ida Royani, Imroatul A., Badriyatul M.)

PENGELOLA SMAS PLUS MU

Rumzil Azizah, M.Pd

(Kepala)

Nilta Najmur R., M.Pd

(W. Kurikulum)

Tutik Herawti, S.Pd

(W. Kesiswaan)

Hisbullah Huda, SH.I

(W. Sarpas)

Moh. Hariyanto

(W. Humas)

Sofiyatul Husna

(Bendahara)

Hairul Jamal

(K. TU)

MOH. NUR

(OPS)

Maps Dan Kontak

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan kirim E-Mail, WA dan bisa berkunjung ke alamat dibawah ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Featured