MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

Ilustrasi (Foto: Aditya Aji/AFP viahttps://www.trenmedia.co.id/)
(Akhir tahun memang selalu membuat was-was khususnya tahun ini. Pasalnya hujan dan angin selalu datang beriringan, bencana datang. Tragedi bencana alam tanggal 25 November 2025 menjadi bukti nyata bahwa akhir tahun menyimpan ceritanya sendiri dalam kalender akhir tahunku. Terkhusus Pulau Sumatera, aku mempunyai catatan sendiri tentang bencana alam karena mengingatkanku pada tahun 2004 saat tsunami menerjang Aceh karena bertepatan dengan ulang tahunku. Bencana di Sumatera tidak lahir dengan sendirinya, tetapi campur tangan manusia memberikan andil besar. Puisi ini lahir karena perkara ini sebagai bentuk catatan untuk kesadaran.)
Bulan November memasuki akhir
Aku mendongak meramal cuaca di pelataran
rumah
Kataku dalam hati :
Biasanya akhir tahun angin kencang dan
hujan
Sambil mengisap lingting rokok yang tinggal
separuh
Dengan trauma kambuhanku,
Teringat pula tahun dua ribu empat
Tsunami menggulung Aceh
Tanggal dua puluh enam desember[1]
Tepat hari ulang tahunku
Rakyat berduka, Indonesia berduka.
Aku yang waktu itu menonton lewat televisi
tetangga mengelus dada
Kini, di akhir tahun kembali
Aceh dan daerah sumatera lainnya kembali
menangis dengan air[2]
Air bah yang melumat semuanya
Air mata kehilangan
Air mata kesedihan
Air mata doa
Air mata harapan
Seribu dua ratus lebih orang meregang nyawa[3]
Ratusan ribu orang mengungsi
Sementara yang lain ada yang mencuri
simpati
Biar dikira peduli, memilukan diri lalu
selfie
Mengapa tak pernah sadar?
Ada yang beda dari dua bencana ini
Satu karena alam, satunya campur tangan
manusia
Kayu gelondongan menggelinding
Hutannya dibabat diganti sawit-sawit
Mineralnya diambil
Kapan sumatera akan damai?
Perlu kiranya duduk di teras rumah
Mengaji tanah dan hujan
Mengaji langit dan bumi
Mengaji air dan api
Agar semuanya seimbang[4]
Mengapa tak pernah sadar?
Padahal dengan bahasa yang paling sederhana
Seorang penyanyi telah mengingatkan
“Mengapa di tanahku terjadi bencana?”[5]
Bertahun-tahun lagu ini tetap di putar
Kadang menjadi backsound gambar atau video
duka di medsos
Sayangnya lagu ini jadi teman penikmat
senja
Pembaca infografik keuntungan
Tanpa membaca kerugian untuk alam dan anak
cucu
Mengapa tak pernah sadar?
Padahal ucapan:
Selamat hari bumi
Selamat hari lingkungan hidup
Selamat hari air
Selamat hari udara
Dan hari-hari selamat lainnya yang banyak
sekali
Justeru tidak menyelamatkan dari bencana
Poster dan ucapan dishare dari jari
ke jari
Tapi tak sampai pada sanubari
Sumatera bukan anak kecil yang pura-pura
menangis
Jika dibelikan balon dan permen kemudian
diam
Sumatera adalah ruang belajar yang tak
pernah dipelajari
Dari Suku Anak Dalam harusnya belajar[6]
Satu kehidupan satu pohon ditanam
Pada mereka harusnya belajar
Mengelola kidupan tanpa keserakahan
Pada mereka harusnya belajar
Untuk kembali mencintai bumi secara kaffah
Referensi
1Tsunami Aceh 2004 Kronologi, Korban, dan Reformasi Penanggulangan Bencana
3 Tragis!
BNPB Sebut 1.200 Orang Tewas dalam Bencana Sumatera
4 Thales: “Keseimbangan sebagai Inti Keberadaan Alam Semesta"
5 Lirik Lagu Ebiet G. Ade - Berita Kepada Kawan dan Maknanya Bertema
Musibah Alam | kumparan.com
6 Belajar Melestarikan Tradisi dan Menjaga Alam dari Suku Anak Dalam
[1]
Pada 26 Desember 2004, sekitar pukul 07:58 WIB, sebuah gempa bumi dengan
kekuatan luar biasa mengguncang kawasan Samudra Hindia, sekitar 250 kilometer
barat daya Aceh. Gempa ini tercatat memiliki magnitudo 9,1-9,3 Skala Richter
(SR), menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat dalam
sejarah. Di Aceh, lebih dari 167.000 orang tercatat tewas, dengan ribuan
lainnya terluka dan hilang.
[2]
Banjir dan longsor parah melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, yakni
Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar)
menimbulkan korban jiwa hingga memutus akses komunikasi dan transportasi.
[3]
Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak akhir November 2025
hingga 20 Januari 2026
[4]
Menurut Thales, alam semesta bekerja secara harmonis melalui interaksi
elemen-elemen seperti air, tanah, udara, dan api. Ketidakseimbangan di antara
elemen-elemen ini dapat menyebabkan kekacauan
[5]
Salah satu karya Ebiet G. Ade yang sangat terkenal tentang musibah adalah
Berita Kepada Kawan. Ebiet G. Ade ungkap bencana alam tersebut untuk
mengintropeksi diri.
[6]
Suku Anak Dalam bermukim di Pelepat, Bungo, Jambi. Masyarakat yang biasa
disebut sebagai Orang Rimba ini terus menjaga tradisi nenek moyangnya, di mana
nilai-nilai kehidupan tertinggi adalah menyatu dan bersahabat dengan alam.




