Jumat, 06 Februari 2026

JAIZ-NYA ALLAH

(Sumber : id.pngtree.com) 

Jarum pendek menunjukkan angka sepuluh ketika handphone suami saya berdering.

“Assalamu’alaikum. Enggih, Bah. Kakdinto. Enggih, ngereng. Enggih, bisa.”

Tuttt… pembicaraan terputus.

Tak lama, suami meraih baju koko abu-abu yang tergantung di belakang pintu.

Wah, mau keluar nih, batin saya.

Saya pun bertanya, setengah berharap, setengah bercanda.

“Mas mau ke mana? Ikutttt…”

Suami menoleh. “Mau ikut?”

“Iyaaaa.” Peluang seperti ini harus segera diambil, sebab suami jarang-jarang ngajak keluar.

“Mas diajak Abah menjenguk Pak Asy’ari, beliau sedang sakit habis operasi.”

“Ya ayo, bawa oleh-oleh untuk buah tangan,” jawab saya sigap.

“Siap, Pak Ketua.”

Saya bergegas ke dapur, mencari tas oleh-oleh. Sambil mengisinya, saya nyeletuk,

“Oiya, beliau tiap kali diundang pondok selalu bawa anaknya yang kecil. Sebenarnya beliau punya anak berapa ya, Mas?”

“Gak tahu,” jawab suami singkat.

Tak lama kemudian, suami kembali bersiap.

“Mas mau keluar sebentar ya.”

“Lah, mau ke mana?”

“Ke Toko Barokah. Mau beli snack dan camilan anak.”

“Buat apa, Mas?”

“Buat anak beliau. Kata adek beliau punya anak kecil. Pasti suka kalau dapat hadiah.”

“Ooo… oke.” Saya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah beberes, saya menunggu manis di teras rumah. Matahari sedang terik-teriknya. Beberapa hari ini cuaca memang aneh, kadang hujan seharian, kadang panas tak ketulungan berhari-hari. Dan hari ini, sepertinya saya kebagian jatah panasnya.

Ya sudahlah, saya menghela napas.

“Bremmm…”

Suara Sepeda motor suami berhenti dan terparkir di halaman.

“Yuk, Abah sudah menunggu di gerbang,” katanya.

“Kita naik apa, Mas?”

“Jalan kaki.”

“Hah?”

Alamakkk. Baru saja mengeluhkan panas, sekarang harus jalan kaki.

“Hmm… okelah.”

Saya pun mengekor suami.

“Mas jadi beli apa?”

Ia mengangkat kresek putih yang ditentengnya. Saya mengangguk-angguk.

Rumah Pak Asy’ari yang akan kami datangi cukup dekat, mungkin sekitar tiga ratus meter dari rumah. Jalannya melewati pinggiran sungai. Mungkin itu sebabnya Abah berinisiatif berjalan kaki. Setelah melewati wakaf, sebutan untuk musala kecil yang biasa ada di dekat sungai, sampailah kami di rumah Pak Asy’ari.

“Assalamu’alaikum,” ucap Abah.

Tak ada jawaban. Abah melangkah lebih dalam hingga naik ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum,” ulang Abah.

“Wa’alaikum salam,” jawab seseorang dengan suara bergetar dan pelan. Sayup-sayup terdengar kata, “Ya Allah…”

Ternyata seorang nenek duduk di kasur yang terbentang di pojok teras rumah.

“Mau jenguk Asy’ari?” tanya si nenek.

“Enggih. Ponapa bedeh?” Abah balik bertanya.

“Masok… masok!” Nenek mempersilakan kami masuk.

Keadaan rumah gelap dan pengap.

Aduh, dari terang terbitlah gelap, batin saya.

“Asy’ari ada di kamarnya. Masuk… masuk. Asy’ari tidak dapat bangun,” celetuk nenek itu.

Abah dan suami saling celingak-celinguk. Si nenek hanya berdiri di dekat saya, tidak menunjukkan secara jelas di mana kamar Pak Asy’ari berada. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap dan pengap.

“Di dalam,” lanjut nenek memberi instruksi.

“Yang ada pintunya.”

Akhirnya Abah dan suami masuk ke dalam kegelapan.

“Semoga berhasil,” doa saya dalam hati sambil tersenyum kecil.

Saya dipersilakan duduk di kursi. Di sekitar saya, beberapa mainan dan pakaian anak bertebaran.

“Dari mana?” tanya si nenek.

“Dari pondok, Nek.”

“Istri Asy’ari sedang keluar. Mungkin menjemput anaknya yang TK.”

Saya mengangguk pelan.

Oh, mungkin nenek ini ibunya Pak Asy’ari, pikir saya.

Beliau tampak sepuh, berperawakan kurus, mengenakan kebaya dan sampir khas nenek-nenek zaman dulu. Di tangannya terpasang gelang perak.

Oh… Bu Hajjah, gumam saya.

Kami terdiam. Saya tak tahu harus membuka percakapan bagaimana.

Tiba-tiba nenek itu bersuara lirih,

“Ya Allah, kenapa Asy’ari yang sakit. Ya Allah, ya Rasulallah…”

Suami saya tiba-tiba keluar dari dalam. Saya tersentak.

“Mau ke mana, Mas?”

“Mau ambil sepeda motor di rumah. Pulangnya Mas mau bonceng Abah ya.”

“Betul-betul-betul!” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

Saya kembali duduk. Nenek itu pun melanjutkan cerita, cerita yang menjadi hikmah besar bagi saya.

Usianya sembilan puluh lima tahun. Pendengarannya sudah berkurang banyak. Saya tanya apa, si nenek jawab apa, sering tak nyambung. Tapi justru dari sanalah saya tersentuh.

Setiap ucapannya otomatis berisi kebaikan.

“Semoga anak saya sehat… anak saya berbakti pada saya. Dia tidak akan makan kalau saya tidak makan.”

Ia bercerita, makanan terasa pahit di mulutnya. Tapi anaknya, Pak Asy’ari sabar merawat.

“Mak, kalau tidak makan, saya juga tidak makan,” kata sang anak.

Akhirnya, nenek itu memaksakan diri makan walau pahit demi melihat anaknya ikut makan. Begitu terus setiap hari.

Padahal rumah yang mereka tinggali jauh dari kata mewah.

Nenek itu melanjutkan dengan suara bergetar,

“Ya Allah, kenapa Engkau beri ujian sakit pada anak hamba, bukan kepada hamba yang sudah tua ini? Anak ini berbakti, ya Allah. Sembuhkanlah, sehatkanlah kembali.”

Lalu ia berkata lagi,

“Allah Ta’ala memberi rezeki anak kepada saya banyak. Alhamdulillah, lima belas anak. Lima keguguran. Lima meninggal ketika kecil. Lima yang hidup sampai sekarang.”

“Kalo Allah jaiz, Allah berikan anak. Begitu juga jaiz-nya Allah Ta’ala bisa mengambil anak saya kembali—dengan cara meninggal ataupun keguguran.”

Saya tersentak.

Masya Allah… di usia sembilan puluh lima tahun, beliau lancar mengucapkan sifat jaiz Allah. Bukan hanya hafal istilahnya, tapi memahami dan mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya.

Saya yang mengajar tarikh dan tauhid, yang biasa menjelaskan sifat-sifat Allah lengkap dengan dalil, mendadak merasa kosong. Di kelas, saya khusyuk. Tapi dalam keseharian, saya hanya terbiasa berkata, insya Allah, kalau Allah berkehendak, kalau sudah takdir.

Masya Allah.

Beliau juga bernadzar: jika anaknya sembuh, akan dibawa ziarah ke makam Kyai Legung, kakek buyutnya.

Lagi-lagi saya tersentak.

Amalan “orang kona”. Orang-orang tua zaman dahulu.

Mereka mungkin tak melewati pendidikan formal atau madrasah secara sempurna. Tapi ruh keagamaan mereka mendarah daging, menjadi karakter yang terus melekat.

Saya teringat mbah saya. Setiap kali saya sembuh dari sakit, beliau mengajak saya ziarah ke waliyullah. Di Sumenep, ada Asta Tinggi, Bujuk Lanjheng, Astana Sayyid Yusuf.

Setiap kali saya ujian, beliau membuat tajin alias bubur pandan hijau dengan serutan gula Jawa di atasnya untuk diberikan pada guru ngaji dan tetangga kanan kiri.

Setiap pagi, beliau bangun jam dua untuk tahajud. Membaca Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin tanpa melihat mushaf. Karena sudah sepuh dan sudah hafal di luar kepala.

Begitu banyak amalan baik yang beliau kerjakan, diam-diam, istiqamah.

Tiba-tiba suara bariton mengagetkan saya.

“Ayok pulang, Dek.”

Suami saya mengajak pulang, disusul Abah yang menutup dengan doa, semoga Pak Asy’ari kembali pulih, sehat wal afiat, dan panjang umur.

Saya melangkah pulang dengan hati yang berbeda.

Terinspirasi .

Sekaligus lebih terang.


_writing by Rumzil Azizah_

Tags :

bm

Lutfi

MEDIA SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM

Ditunggu ide-idenya pada kolom komentar sebagai ikhtiar bersama meningkatkan kualitas pendidikan

  • Lutfi
  • Jl. Pesantren No. 11 Tarate Pandian Sumenep
  • smaplusmu@gmail.com
  • 085233233188

Posting Komentar