SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Bedah Buku, Ajak Siswa Teladani Kepemimpinan Kiai
![]() |
| Dokumentasi bedah buku |
SUMENEP, 4 November 2026 – Upaya menumbuhkan budaya literasi sekaligus memperkuat karakter santri terus dilakukan SMAS Plus Miftahul Ulum. Salah satunya melalui kegiatan bedah buku berjudul Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Budaya Pesantren karya Dedi Eko Riyadi HS., M.Pd.I. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi siswa untuk mengenal lebih dekat sosok kepemimpinan kiai sekaligus menggali nilai-nilai luhur yang tumbuh dan berkembang di lingkungan pesantren.
Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan sambutan Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum. Setelah itu, acara memasuki sesi inti berupa bedah buku yang menghadirkan penulis secara langsung, Dedi Eko Riyadi HS., M.Pd.I., serta Moh. Lutfi, M.Pd. sebagai pembedah. Diskusi dipandu oleh Aisyah Fiyanti, S.Pd. selaku moderator.
Dalam sambutannya, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan bedah buku merupakan agenda luar biasa karena memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengetahuan dan mengambil hikmah dari sebuah karya tulis.
Menurutnya, buku tersebut tidak hanya mengajarkan tentang kepemimpinan, tetapi juga memberikan gambaran mengenai keteladanan seorang guru, khususnya sosok kiai yang memiliki peran penting dalam membangun dan menjaga tradisi pesantren.
"Melalui kegiatan ini, kita bisa belajar tentang kepemimpinan dan mengambil teladan dari sosok kiai. Kita juga bisa memahami bagaimana budaya, khususnya nilai-nilai keislaman, ditanamkan dan dikembangkan di lingkungan pondok pesantren," ungkapnya.
Ia juga berharap nilai-nilai positif yang diperoleh selama menimba ilmu di pesantren tidak berhenti ketika para santri menyelesaikan masa mondok. Sebaliknya, nilai-nilai tersebut harus dibawa ke tengah keluarga dan masyarakat untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pada kesempatan itu, kepala sekolah turut menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan kegiatan tersebut.
Memasuki sesi bedah buku, Dedi Eko Riyadi HS., M.Pd.I. selaku penulis memaparkan proses kreatif di balik lahirnya buku tersebut. Ia menjelaskan bahwa penulisan buku berangkat dari ketertarikan untuk mendokumentasikan sekaligus mengkaji kepemimpinan kiai dalam membangun budaya pesantren.
Baginya, pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama. Lebih dari itu, pesantren merupakan lingkungan pendidikan yang memiliki tradisi, nilai, dan sistem keteladanan yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam prosesnya, kiai menjadi figur sentral yang memberikan arah, membimbing, sekaligus menjadi teladan bagi para santri.
Ia juga mengajak para siswa agar tidak berhenti menjadi pembaca, tetapi mulai membiasakan diri menulis. Sebab, menulis merupakan salah satu cara untuk mengabadikan gagasan, pengalaman, dan pengetahuan agar dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Sementara itu, Moh. Lutfi, M.Pd. selaku pembedah memberikan apresiasi terhadap buku tersebut. Ia menilai buku Kepemimpinan Kiai dalam Mengembangkan Budaya Pesantren merupakan karya yang menarik, disusun dengan ketekunan, serta menyajikan pembahasan secara runtut sehingga memudahkan pembaca memahami gagasan yang disampaikan.
Menurutnya, salah satu pesan penting dalam buku tersebut adalah pemahaman tentang posisi kiai sebagai sosok pilihan yang memiliki tanggung jawab besar dalam meneruskan risalah keilmuan dan keteladanan para nabi.
"Kiai bukan sekadar pemimpin di lingkungan pesantren, melainkan sosok yang menjadi rujukan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Karena itu, meneladani kiai merupakan sebuah keharusan bagi kita sebagai santri," jelasnya.
Diskusi berlangsung semakin menarik ketika memasuki sesi tanya jawab. Para siswa terlihat antusias menyampaikan pertanyaan kepada kedua narasumber. Amiliyah Hasanah dari kelas XI-E mengajukan pertanyaan seputar tantangan yang dihadapi penulis dalam menghasilkan sebuah buku.
Pertanyaan berikutnya disampaikan oleh Adilullah Assyafi yang ingin mengetahui bagaimana cara menjadi penulis hebat dan dikenal luas. Kedua pertanyaan tersebut mendapat tanggapan dari narasumber dengan memberikan penjelasan dan motivasi kepada siswa agar berani memulai proses kreatif dalam dunia kepenulisan.
Melalui kegiatan ini, SMAS Plus Miftahul Ulum tidak hanya menghadirkan ruang diskusi literasi, tetapi juga mengajak siswa memahami bahwa budaya membaca dan menulis harus berjalan beriringan dengan pembentukan karakter.
Bedah buku tersebut menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejati tidak hanya dibangun melalui kedudukan, tetapi juga melalui ilmu, keteladanan, konsistensi, dan pengabdian. Nilai-nilai itulah yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan pesantren dan diharapkan terus melekat dalam diri setiap santri.
Tags :
Lutfi
MEDIA SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM
Ditunggu ide-idenya pada kolom komentar sebagai ikhtiar bersama meningkatkan kualitas pendidikan
- Lutfi
- Jl. Pesantren No. 11 Tarate Pandian Sumenep
- smaplusmu@gmail.com
- 085233233188

Posting Komentar