 |
| Ilustrasi ayah dan anak |
“Kinaaaa! Sudah jam enam. Ayo cepat berangkat!”
Suara ayah memecah pagi.
Lepp!—roti dan telur mata sapi yang tinggal segigit langsung masuk ke mulut.
“Iyaaa, Yah,” jawabku dengan mulut penuh.
Kaos kakiku kutarik kuat-kuat. Syuuuut! Menutupi betisku sampai lutut. Kaos kaki ini warisan ayah. Kata ayah, kaos kaki bapak-bapak itu tebal dan tidak mudah sobek. Hanya saja sudah melar di bagian atas. Supaya tidak melorot, kuikat dengan karet gelang warna-warni.
Tas kusempitkan di bahu, lalu kutaruh di keranjang sepeda. Aku meraih tangan ayah.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam,” jawab ayah sambil mencium pipi kanan dan kiriku.
Kami tinggal berdua. Ayah adalah orang tuaku satu-satunya. Ia bekerja sebagai pegawai TU di sebuah sekolah dengan gaji yang tak seberapa, tapi selalu cukup membuatku merasa punya segalanya.
Aku mengayuh sepeda Phoenix-ku, sepeda bekas dari Pasar Bangkal, tapi gagah di mataku. Hasil jerih payah ku menabung. Ayah mengecat ulang bagian-bagian yang karatan. Katanya, yang penting masih kuat dan kokoh.
Sampai di jalan besar, aku menoleh kanan kiri, memastikan tak ada motor meluncur dari arah Asta Tinggi. Desaku, Banasokon, berada di dataran tinggi Kebonagung, Sumenep. Di puncak bukit itulah makam raja-raja Sumenep berada, tempat tua penuh cerita yang sering ayah kisahkan dengan suara pelan dan mata serius.
“Nanaaaa!”
Aku menghentikan sepeda di depan rumah putih.
Eboknya Nana sedang menyapu teras.
“Kina, masuk saja. Nana masih makan.”
“Enggih,” jawabku.
Ku standar Phoenix-ku, kucium tangan ebok, lalu masuk ngeloyor mencari Nana.
“Hai, Kina, siniii!”
Nana memanggil sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan kerupuk ke mulutku.
“Hmppph!”
Refleks aku ikut mangap. Suapan dari Nana langsung masuk ke mulutku. Nana tertawa. Pipinya gembul, empluk, dengan lesung pipit yang dalam. Setiap dia tertawa, matanya seperti hilang; tinggal dua garis lengkung saja. Temanku ini selalu lucu kalau tersenyum.
“Ayok cepat,” bujukku.
“Oke, oke!” Jawabnya.
Ia meneguk air minum dari gelas bulat bertuliskan NUVO. Setelah itu kami buru-buru naik sepeda masing-masing.
Sampai di pertelon menuju jembatan Kebonagung, seseorang berteriak dari seberang jalan.
“Kinaaaa! Mampir sini!”
Aku menoleh.
Mbah Sumi berdiri di depan gubuk kecilnya, tubuhnya agak tertatih, tangannya melambai-lambai ke arahku.
“Aduh, bisa telat nih,” bisik Nana.
“Ayok, Kin, sudah hampir upacara.”
Aku gelagapan.
“Mbahhh Sumi, nanti yaaa. Pulang sekolah aku mampir,” teriakku.
Mbah Sumi adalah penjual pisang yang tinggal sendirian di gubuk pinggir jalan Asta Tinggi. Entah sejak kapan ia di sana. Tak pernah kulihat anak, suami, atau saudara menemaninya. Aku mengenalnya karena ayah sering membeli pisang darinya untuk pakan burung. Ayah memelihara banyak burung, sepuluh sangkar, delapan berjejer di teras, dua di dapur.
Aku kembali mengayuh sepeda. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang.
Mbah Sumi masih berdiri, memandang ke arahku.
Aku mengangguk kecil.
Nanti saja… pulang sekolah.
Kami tiba di sekolah hampir telat. Pak Mat, tukang kebun merangkap satpam, sudah berdiri di gerbang.
“Pak Mat, assalamu’alaikum!”
“Wa’alaikum salam, Kina. Hampir Bapak tutup gerbang ini.”
Aku nyengir kuda. Bibirku bergerak tanpa suara, makasih.
Kami berbaris di lapangan.
“Yang tinggi di depan,” kata Pak Ainul.
Nana mendorongku ke depan.
“Panas…” bisikku.
“Tapi kamu tinggi, Kin,” jawabnya asal.
Huffh. Beginilah nasib bertubuh jangkung. Ada plus minusnya. Plusnya, kalau mau ambil buah kersen, aku tak perlu cari galah. Tinggal hupp! tarik ranting terdekat.
Waktu terasa berjalan lambat. Akhirnya bel pulang berbunyi. Alhamdulillah. Jam menunjukkan pukul 13.00. Aku memasukkan buku sekenanya ke tas.
Panas… panas sekali.
Di parkiran sepeda aku menoleh ke sana-sini mencari Nana. Tak lama ia berlari kecil menghampiriku. Kami pulang bersama.
Jalan pulang jauh lebih berat. Tanjakan terasa panjang, matahari tepat di atas kepala. Aspal tampak seperti berair, menyilaukan mata. Sepedaku berderit kreek… kreek… mengikuti kayuhanku yang melemah.
Di jembatan Kebonagung aku turun, menuntun sepeda. Napasku tersengal.
“Aku nggak kuat,” kataku.
Nana ikut turun.
“Pengen minum es,” rajuknya.
Aku mengangguk sambil mengusap peluh dengan kerudung. Bau kecut. Asemm!
Saat turunan, aku kembali naik sepeda. Dari kejauhan terlihat orang berkerumun.
“Ada apa ya?” Nana menoleh padaku.
Aku mengangkat bahu.
“Lihat yuk,” ajaknya.
Kami mendekat. Orang-orang berkumpul di depan gubuk Mbah Sumi.
“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak bersarung.
“Buk Sumi adinggel omor.”
Hah?
Dunia seperti berhenti.
Bagai petir di siang bolong.
Pagi tadi…
Mbah Sumi memanggil namaku.
Melambai.
Menungguku.
Mataku berkabut. Airnya tumpah tanpa izin.
“Mbah Sumi…” isakku.
Nana mendekap bahuku erat.
Kenapa harus ditunda?
Kenapa tadi aku tidak mampir?
Sekadar menyapa. Sekadar salim. Sekadar bertanya, mbah ada apa?
Penyesalan merayap pelan, menusuk-nusuk hatiku.
Sejak hari itu aku belajar:
tidak semua panggilan bisa menunggu,
tidak semua “nanti” diberi kesempatan kedua.
Dan sekarang setiap kali aku melewati jalan itu,
aku selalu teringat satu lambaian tangan
yang tak pernah sempat kusambut.
Al fatihah untuk Mbah Sumi. 💫
_writing by Rumzil Azizah_