Rabu, 28 Januari 2026

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Sumber gambar: Wikipedia

Bertakwa Kepada Allah

Jadi anak janganlah nakal
Lebih baik kita beramal
Kita semua di beri akal
Agar kita semua tawakal

Wajib kita menjaga sholat
Agar kita tidak di laknat
Wajib kita perbanyak tobat
Agar selamat dunia akhirat

Mari kita rajin sedekah
Biar hidup jadi berkah
Jadi orang janganlah serakah
Dibenci orang Tuhan pun marah

Hidup di dunia hanya sementara
Jangan kita berbuat dosa
Mari kita semua bertakwa
Agar kita semua bahagia


Syair di atas adalah syair nasihat yang ditulis oleh Bhisma, Khairil, Hariyanto dan Kamaluddin. Syair ini memiliki pesan agar kita bertakwa kepada Allah SWT. untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. 


Cinta Indonesia

Kita ini anak muda
Yang menjadi penerus bangsa
Jangan sia-siakan waktu kita
Untuk belajar dan berusaha

Anak muda tubuhnya sehat
Banyak olahraga agar tubuhnya kuat
Makanlah makanan yang sehat
Agar penerus bangsa selalu sehat dan kuat

Negara kita negara Indonesia
Pernah di jajah tiga setengah abad lamanya
Hari ini kita sudah merdeka
senantiasa bahagia dan menjaganya

Negara kita negara yang kaya
Dari Sumatera sampai papua
Banyak ragam suku dan bahasa
Kita semua harus bahagia


Syair di atas adalah syair cinta terhadap tanah air yang ditulis oleh Ari, Agus, Risky dan Ramadhani. Syair ini memiliki pesan agar kita cinta dan bangga terhadap kekayaan Indonesia. 


Menuntut Ilmu

Berguru ke palang ajar
Bagai bunga mekar di waktu fajar
Bergaul janganlah kurang ajar
Jika tidak ingin terkena haja

Kalau guru bermurah hati
Bimbinglah kami setiap hari
Jika guru bersedia diri
Kami siap menunggu dari pagi hari

Cari ilmu setiap hari
Ilmu agama yang paling pasti
Ingatlah kita pada mati
Supaya banyak bekal di akhirat nanti

Agar banyak ilmu di hari tua nanti
Orang cerdas akan memahami
Belajar tidak cukup satu kali
Tuntutlah ilmu sampai mati


Syair di atas adalah syair nasihat agar kita menuntut ilmu untuk bekal dunia dan akhirat. Syair ini ditulis oleh Isbet, Rosi, Ubai dan Rafi.


Selasa, 27 Januari 2026

Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum Ikuti Pendampingan Ponkestren di Pondok Pesantren Al-Usymuni

Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum Ikuti Pendampingan Ponkestren di Pondok Pesantren Al-Usymuni

 


Sumenep — Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum yang juga merupakan santri Pondok Pesantren Al-Usymuni mengikuti kegiatan Pendampingan Pondok Pesantren (Ponkestren) pada Selasa, 27 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Usymuni sebagai upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan kesehatan bagi siswa dan santri.

Kegiatan pendampingan tersebut diselenggarakan oleh SMAS Plus Miftahul Ulum bekerja sama dengan Puskesmas Pandian Sumenep. Para siswa mengikuti kegiatan dengan antusias, mengingat materi yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di pesantren.

Dalam kegiatan ini, siswa mendapatkan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan mulut dan gigi, serta pemahaman tentang penggunaan obat yang aman dan benar berdasarkan prinsip DAGUSIBU, yaitu Dapatkan obat dengan benar, Gunakan obat dengan benar, Simpan obat dengan benar, dan Buang obat dengan benar.

Kepala sekolah SMAS Plus Miftahul Ulum menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi siswa yang hidup di lingkungan pesantren.

“Sebagai siswa yang juga santri, mereka perlu memiliki pemahaman yang baik tentang kesehatan diri dan penggunaan obat agar dapat menerapkannya secara mandiri dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Salah satu peserta kegiatan, Syahriyatul, siswi kelas XI C, mengungkapkan bahwa kegiatan pendampingan ini memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya jadi lebih memahami cara menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mengetahui prosedur penggunaan obat yang benar,” tuturnya.

Melalui kegiatan pendampingan Ponkestren ini, diharapkan siswa SMAS Plus Miftahul Ulum semakin sadar akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, baik di lingkungan sekolah maupun di pondok pesantren.

Selasa, 20 Januari 2026

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

 


Sumenep — OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum menyelenggarakan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 20 Januari 2025, bertempat di lingkungan sekolah. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme, diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta tenaga kependidikan.

Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, selawat, dan sambutan.  Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd. dalam sambutannya  menyampaikan bahwa di manapun adalah tempat belajar. Belajar, menurutnya, ibarat akar yang menancap kuat, menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Beliau juga berharap agar seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari tersebut benar-benar diniatkan karena Allah SWT, sehingga memperoleh barokah.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Panitia, Faizi Al Wildani. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan rasa bangga dan bahagia karena peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dapat terlaksana dengan lancar dan sukses.

Memasuki acara inti, mauidah hasanah disampaikan oleh K.H. Nur Kholish Arifin. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada masa penuh kesedihan dalam kehidupan Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Pada masa tersebut, Rasulullah SAW kehilangan dua sosok yang sangat berarti, yakni pamannya Abu Thalib serta istrinya tercinta, Khadijah r.a.

Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa Isra Mikraj merupakan bentuk kemuliaan Rasulullah SAW, ketika Allah SWT menjemput langsung Rasulullah untuk menghadap kepada-Nya, sekaligus memperlihatkan kebesaran dan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada beliau dan umat manusia.

Dalam ceramah tersebut juga disampaikan bahwa oleh-oleh terpenting Rasulullah SAW dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah sholat. Oleh karena itu, K.H. Nur Kholish Arifin mengajak seluruh hadirin untuk memperbaiki dan menjaga kualitas sholat, baik dari segi ketepatan waktu, kekhusyukan, maupun pemahaman maknanya, sebagai bentuk nyata kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Dalam penutup mauidahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk menghubungkan diri dengan Rasulullah SAW melalui pengamalan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan panca indra untuk kebaikan, seperti mata untuk membaca Al-Qur’an, kaki melangkah ke majelis zikir, serta menata hati dengan sifat-sifat mulia Rasulullah SAW, seperti sabar, tawaduk, dan akhlakul karimah.

Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW ini diharapkan dapat meningkatkan keimanan, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membentuk karakter religius peserta didik SMAS Plus Miftahul Ulum.

Jumat, 16 Januari 2026

 Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah

Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah



Peristiwa Isra Mikraj sering dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang penuh keajaiban. Lebih dari itu, sesungguhnya peristiwa tersebut juga menyimpan pesan mendalam tentang etos belajar dan tanggung jawab keilmuan. Isra Mikraj menegaskan bahwa peningkatan derajat manusia tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesungguhan dalam menjalani proses pembelajaran. Bagi dunia pendidikan, khususnya di sekolah, momentum Isra Mikraj menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah yang menuntut keseriusan, disiplin, dan ketekunan.

Kesungguhan Nabi Muhammad saw. dalam menerima dan melaksanakan perintah salat pada peristiwa Isra Mikraj mencerminkan sikap totalitas dalam mengemban tugas. Nilai ini relevan dengan dunia pelajar yang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak mudah menyerah, dan konsisten dalam menuntut ilmu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya. Dengan demikian, belajar di sekolah bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan ikhtiar sadar untuk meraih kemuliaan hidup melalui ilmu pengetahuan.

Selain kesungguhan, Isra Mikraj juga mengajarkan pentingnya akhlak ilmiah. Ilmu yang diperoleh tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan kering nilai. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak manusia. Dalam konteks sekolah, akhlak ilmiah tercermin dalam kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian, sikap kritis namun santun dalam berdiskusi, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain. Inilah karakter pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Lebih jauh, Isra Mikraj menanamkan nilai tanggung jawab dalam mengemban amanah. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa tersebut adalah simbol amanah besar yang harus dijaga secara konsisten. Begitu pula ilmu yang diperoleh siswa di sekolah merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Imam al-Syafi’i menyatakan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang memberi manfaat. Artinya, pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Dengan demikian, Isra Mikraj dapat dimaknai sebagai inspirasi transformatif bagi dunia pendidikan. Ia mengajarkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan intelektual harus seiring dengan pendalaman spiritual dan penguatan karakter. Jika semangat Isra Mikraj dihidupkan di sekolah, maka proses belajar tidak hanya melahirkan siswa yang berprestasi, tetapi juga generasi yang berakhlak ilmiah, bertanggung jawab, dan siap mengemban amanah ilmu untuk kebaikan bersama. 

Senin, 12 Januari 2026

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

 

Kegiatan Kokurikuler dengan Perhutani

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih milik Perhutani yang berlokasi di Desa Lalangon, Kabupaten Sumenep, Senin (12/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kookurikuler yang bertujuan memperkaya wawasan siswa melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.

Kunjungan tersebut diikuti oleh tim literasi bersama pendamping guru dengan fokus pada penguatan literasi kontekstual berbasis potensi lokal. Pabrik minyak kayu putih dipilih sebagai lokasi kunjungan karena memiliki nilai edukatif yang berkaitan dengan sains, lingkungan, ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat Sumenep.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses penyulingan minyak kayu putih yang masih mempertahankan prinsip tradisional namun terkelola secara profesional. Proses diawali dengan pengumpulan daun kayu putih yang telah tua dan siap disuling. Daun-daun tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ketel penyulingan berukuran besar.

Selanjutnya, ketel dipanaskan menggunakan uap air dengan suhu tertentu. Uap panas yang dihasilkan akan membawa sari minyak dari daun kayu putih. Uap tersebut dialirkan melalui pipa pendingin hingga mengalami proses pengembunan. Dari proses ini dihasilkan cairan yang terdiri atas air dan minyak kayu putih, yang kemudian terpisah secara alami karena perbedaan massa jenis.

Kepala Resort Perhutani Kabupaten Sumenep, Bapak Imam Syafii, dalam paparannya menjelaskan bahwa pengelolaan minyak kayu putih dimulai sejak tahap pembibitan.

“Pembibitan kayu putih dilakukan secara terencana agar keberlanjutan hutan tetap terjaga. Setelah tanaman siap panen, daun dipetik dengan pola tertentu agar tidak merusak pohon,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa hasil penyulingan minyak kayu putih dari Desa Lalangon tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal.

“Hasil minyak kayu putih yang telah melalui proses penyulingan dan pengujian mutu kemudian dikirim ke cabang Perhutani di Pamekasan untuk selanjutnya didistribusikan,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa ketelitian dalam mengatur suhu, waktu penyulingan, serta kualitas bahan baku sangat menentukan mutu minyak kayu putih yang dihasilkan.

Melalui pengamatan langsung terhadap proses penyulingan, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga belajar tentang keterkaitan antara ilmu pengetahuan, lingkungan, dan ekonomi lokal. Kegiatan ini sekaligus melatih kemampuan literasi kritis siswa, khususnya dalam mengamati, mencatat, dan mengolah informasi faktual menjadi pemahaman yang utuh.

Salah satu anggota tim literasi, Syahriyatul, siswi kelas XI, mengungkapkan kesannya,

“Dengan melihat langsung proses penyulingan, saya jadi lebih memahami bagaimana pelajaran sains diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sangat menarik dan membuka wawasan.”

Sementara itu, Andin, siswi kelas X, menyampaikan rasa antusiasnya mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya senang bisa belajar di luar kelas. Ternyata potensi daerah kita sangat besar dan bisa menjadi sumber pengetahuan sekaligus ekonomi,” ujarnya.

Penanggung jawab kegiatan, Ibu Aisyah, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas sambutan yang diberikan oleh pihak Perhutani.

“Kami merasa sangat senang karena kunjungan literasi ini diterima dengan baik oleh Perhutani. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” tuturnya.

Melalui kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani ini, SMAS Plus Miftahul Ulum berharap peserta didik mampu mengembangkan budaya literasi yang kontekstual, kritis, dan bermakna, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap potensi serta kearifan lokal daerah.

Sabtu, 03 Januari 2026

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Ilustrasi menulis (sumber: penerbitdepublish.com)

Belajar bukan sekadar menghitung berapa halaman yang dibaca, bukan pula tentang tumpukan soal yang selesai dikerjakan atau deretan tugas yang dikumpulkan tepat waktu. Belajar adalah apa yang benar-benar tinggal di dalam diri: pemahaman yang mengendap, karakter yang perlahan terbentuk, serta kebiasaan berpikir yang terus bertumbuh. Di ruang belajar—baik kelas, pesantren, maupun forum ngaji—kita sejatinya sedang membangun lebih dari sekadar pengetahuan. Kita menata cara berpikir, membiasakan kesabaran, dan melatih kejujuran pada proses. Karena itu, ilmu tidak pernah berjalan sendiri; ia selalu berdampingan dengan adab. Sebagaimana doa yang sering kita langitkan, semoga ruang belajar menjadi taman keberkahan: tempat adab mendahului ilmu, sabar mengiringi prestasi, dan akhlak mulia tumbuh bersama kecerdasan.

Dalam konteks inilah, perjalanan dari membaca menuju menulis menjadi penting—sebuah peralihan dari sikap konsumtif menuju produktif. Dalam Ngaji Jurnalistik bersama Ning Vivi Nafidzatin Nadhor, satu pesan kuat ditekankan: jangan berhenti sebagai pembaca yang baik, tetapi jadilah penulis yang bertumbuh. Membaca yang sejati tidak berhenti pada halaman terakhir; ia berlanjut pada proses memfrasekan ulang, mengendapkan makna, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Dari proses inilah tulisan yang hidup lahir, bukan sekadar rangkuman, melainkan refleksi yang bernapas.

Salah satu metode sederhana namun kuat untuk melatih proses tersebut adalah dengan menentukan satu tema besar—misalnya pesantren—lalu mengumpulkan sekitar empat puluh kata kunci yang berkaitan, seperti santri, ngaji, khidmat, kiai, tirakat, adab, dan sabar. Setiap kata kemudian diuraikan menjadi refleksi dan deskripsi yang mendalam. Dengan cara ini, empat puluh kata tidak lagi sekadar kosakata, melainkan pintu menuju ratusan halaman makna. Menulis pun menjadi lebih terarah, tidak membingungkan, dan terasa membumi.

Namun, menulis tidak pernah menunggu inspirasi datang. Banyak orang ingin menulis, tetapi terjebak menanti mood yang sempurna. Padahal, waktu terbaik untuk menulis hanya satu: sekarang. Menulis ibarat mengayuh sepeda; ketika berhenti, kita kehilangan keseimbangan, tetapi ketika terus mengayuh, kita akan sampai meski perlahan. Karena itu, karya terbaik bukanlah karya paling indah, melainkan karya yang selesai. Pada titik tertentu, menulis bahkan menjadi terapi—sebuah healing productivity—cara menyembuhkan diri dengan berkarya, menumpahkan keresahan, mengurai pengalaman, dan merawat batin melalui kata-kata.

Dari para penulis, kita belajar bahwa kekuatan tulisan sering lahir dari kesederhanaan yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Tere Liye, misalnya, menunjukkan pentingnya bahasa yang lugas, kalimat efektif, dan konsistensi latihan. Kepala penulis harus terus diisi dengan bacaan, riset, dan pengalaman hidup agar tulisan memiliki “isi”. Sementara itu, Raditya Dika mengajarkan bahwa cerita yang kuat kerap berawal dari satu premis kalimat yang jelas. Draf pertama tidak harus sempurna—bahkan boleh berantakan—karena revisi adalah ruang tempat keindahan dilahirkan. Tulis, perbaiki, lalu tulis lagi. Sejalan dengan itu, Bruce Lee mengingatkan bahwa ketekunan jauh lebih menakutkan daripada bakat sesaat; satu kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengalahkan ribuan rencana yang tak pernah dimulai.

Pada akhirnya, menulis adalah jalan untuk bertumbuh. Ia bukan semata tentang ingin terkenal atau diterbitkan, melainkan cara belajar yang paling jujur. Dengan menulis, kita tahu apa yang benar-benar kita pahami, apa yang masih kosong, dan apa yang sedang kita cari. Ketika lelah, kita belajar berhenti sejenak tanpa menyerah. Ketika keliru, kita merevisi tanpa menyesali. Ketika berhasil, kita bersyukur tanpa jumawa. Sebab belajar dan menulis bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita bertumbuh sepanjang perjalanan.