Info

Jumat, 14 Agustus 2020

Seputar Alasan Mengapa Tulisan Tak Kunjung Selesai dan Terkesan Susah

Seputar Alasan Mengapa Tulisan Tak Kunjung Selesai dan Terkesan Susah

  

Ilustrasi menulis di buku catatan (Sumber: shutterstock via kompas.com) 


"Anak-anak adakah di sini yang suka membaca novel?" Tanya Bu Guru Rani kepada siswa. 

"Banyak Bu. " Jawab siswa serentak sambil mengacungkan tangan. Hanya ada sebagian siswa yang tangannya tetap dibawah dan barangkali memang tidak suka membaca. 

"Baiklah, luar biasa. Novel apa yang dibaca?" Bu Rani mulai menelisik kegemaran siswa. 

"Yang romantis-romantis Bu. " Kelas kembali riuh. 

"Seru kan ceritanya?" 

"Iya Bu!" Dengan kompak. 

"Terus, ada yang ingin menulis seperti itu? Ada yang suka menulis?" Akhirnya Bu Rani mulai bertanya tentang tujuan pembelajarannya. 

Pada bagian pertanyaan ini siswa mulai kicep. Hanya sebagian siswa yang berani mengacungkan tangan dan menjawab. 

"Ada yang bisa menulis?" 


Pertanyaan Guru Rani yang bagian tersebut justru membuat siswa tidak mengacung dan malah membuat siswa bertanya dan mengeluh. Ada yang bilang kalau menulis itu susah dan lebih mudah berbicara. Ada pula yang mengatakan kalau lebih senang membaca ketimbang menulisnya. 


Ilustrasi seperti di atas acapkali kita temukan. Bahkan, bukan hanya untuk kalangan siswa. Di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas pun begitu. Rasa-rasanya menulis memang memunculkan permasalahan serius dan menjadi tantangan yang perlu keberanian untuk menerabasnya. 


Menulis yang sifatnya aktif produktif sama halnya dengan keterampilan berbicara dalam bahasa. Dalam berbicara, perasaan minder atau tidak percaya diri dalam menyampaikan sesuatu melalui lisan membuat si pembicara gugup dan kadang gagap ketika tampil. 


Begitu pula dengan menulis, perasaan takut salah dan tulisan jelek membuat seseorang enggan untuk memperlihatkan tulisannya. Paling apesnya, rasa tidak percaya diri ini malah memundurkan hajat seseorang untuk menjadi penulis. Alasan lain yang menyebabkan tulisan tidak kunjung selesai dan terkesan susah dapat disimak berikut ini. 


Dihantui rasa malas

Rasa malas tidak hanya menjangkitii keinginan seseorang dalam menulis. Kegiatan apa saja dapat menjadi terbengkalai karena penyakit yang satu ini. Terlebih dalam kegiatan yang berhubungan dengan kebaikan. Jangankan menulis, dalam ritual-ritual keagamaan semisal shalat dan puasa saja sering kali harus berjibaku melawan rasa malas ini. 


Dalam kegiatan menulis, rasa malas menjadi momok yang dapat mengurungkan keinginan menulis. Rasa malas ini dapat hadir dalam setiap waktu, sebelum menulis, saat menulis dan akhir menulis. Saat di awal menulis yang identik dengan tahap persiapan, rasa malas menghampiri saat pengumpulan referensi dan membacanya. 


Kita tahu bahwa salah satu resep untuk menulis adalah membaca. Membaca dapat menjadi modal pertama seseorang untuk menulis. Dengan membaca, setidaknya berbagai kosa kata telah dikuasai, cara-cara penulisan sedikit banyak diketahui. Namun, berbeda jika rasa malas menghantui, kita tidak akan memeroleh apa-apa. 


Tidak berhenti pada tahap awal, rasa malas justru dapat hadir saat proses menulis itu berlangsung. Di tengah proses menulis kadang kita malah merasa tiba-tiba malas untuk melanjutkan tulisan atau kerap juga memilih menunda dan melanjutkan di lain waktu padahal tulisan itu dapat diselesaikan waktu itu juga. 


Di akhir pun juga begitu, kerap kali malas untuk mempublikasikan tulisan tersebut sehingga memilihnya untuk disimpan dan didiamkan begitu saja. Tulisan yang layak untuk dibaca oleh khalayak ramai kemudian menjadi konsumsi pribadi. 


Pandangan yang keliru

Mari alihkan sejenak pandangan kita kepada anak kecil yang sedang belajar berjalan atau anak kecil yang sedang belajar naik sepeda. Kita dapat mengambil pesan dari semangatnya belajar, semangat mencoba meski mereka beberapa kali jatuh dan bersimpuh. Mereka kadang tidak peduli kalau lututnya harus lecet dan lebam. Pada intinya mereka akan bisa berjalan dan naik sepeda. 


Anak-anak yang belajar berjalan atau naik sepeda tidak berpandangan bahwasannya berjalan itu susah dan bersepeda itu rumit. Mereka tidak peduli kalau harus jatuh berkali-kali dan menyurutkan niat mereka agar bisa berjalan dan bersepeda. Hingga pada akhirnya mereka pun bisa dan orang tuanya turut bangga. 


Anak-anak kecil tersebut yang tidak memandang sulitnya belajar berjalan dan naik sepeda setali tiga uang dengan kegiatan menulis. Menulis amatlah mudah jika ada kemauan dan percobaan yang rutin. Pandangan tentang susahnya menulis hanya bagi orang yang enggan untuk mencobanya dan bersabar dalam mempraktikannya. 


Pandangan tentang menulis itu susah merupakan pandangan yang keliru. Secara sederhana, kita telah mengetahui jumlah huruf alfabet dalam bahasa Indonesia sebanyak 26 dengan 5 huruf vokal dan 21 huruf konsonan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita telah menggunakan huruf-huruf tersebut ketika berbahasa baik dalam bahasa tulis maupun lisan. Kita dapat membayangkan betapa mudahnya bukan bermain-main dengan huruf sebagaimana dalam kehidupan sehari-hari? 


Sebatas impian

Pernah rasanya ketika mengikuti seminar dan penyajinya adalah penulis-penulis buku best seller macam Asma Nadia dan Tere Liye tiba-tiba muncul perasaan tergugah untuk menulis. Perasaan tersebut menggebu-gebu dan rasanya ingin segera dihadapan komputer atau laptop. Namun, setelah acara seminar selesai, malah perasaan tersebut selesai pula. 


Pernah juga merasa tergugah ketika membaca novel romantis seperti Dilan, lly From 3800 FT,  Dear Nathan dan novel romantis lainnya. Novel-novel tersebut seperti memberi pengaruh positif untuk menuliskan guratan kisah pembaca di atas lembaran. Akan tetapi, setelah selesai membaca, pembaca tak kunjung menuliskannya. 


Apa yang terjadi? Mengapa cita-cita ingin menuliskan kisah hidup tidak terealisasi? Jawabannya barangkali apa yang diinginkan hanya sebatas impian. Dalam artian, keinginan yang menggebu tidak diikuti dengan tindakan nyata. Sebab, kita tahu bahwasannya menulis yang sifatnya aktif produktif tidak akan selesai jika hanya sebatas mimpi yang ada di angan-angan. 


Menulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak seinstan memasak mie instan. Latihan menjadi modal penting bagi siapa saja yang ingin menulis atau bahkan menjadi penulis. Menulis akan terasa susah dan tak kunjung selesai manakala hanya sebatas impian. 


Tidak istiqomah

Jika memiliki pandangan bahwa penulis hebat itu hanya sekali mencoba dan langsung jadi kemudian terkenal, maka pandangan ini perlu kita ubah sedikit. Ada banyak penulis terkenal yang tak sedikit ditempa cobaan, penolakan penerbitan hasil tulisan, bahkan ada yang harus rela mengeluarkan modal besar untuk menerbitkan karyanya sendiri. Namun, mereka tetap berusaha keras berusaha agar tulisannya enak dibaca dan layak terbit. 


Apa hikmah dari semua itu? Hikmah yang dapat kita ambil adalah bagaimana mereka terus mencoba dan tidak menyerah. Mereka tetap istiqomah atau teguh pendirian bahwa karya mereka layak untuk dibaca khalayak ramai. Di samping itu mereka tetap mengasah kemampuan mereka dengan tetap menulis. Ibarat kata, pisau semakin diasah makan semakin tajam. Begitu pula mereka, kemampuan menulis yang terus diasah berujung pada hasil karya yang hebat dan terkenal. 


Bagi yang ingin belajar menulis, kadang hal yang seperti ini terlewati untuk diamati. Tidak istiqomahnya keinginan yang dibarengi dengan tidak istiqomahnya tindakan atau praktik menulis yang berkelanjutan malah akan menimbulkan mundurnya kemampuan. Terlebih lagi bagi orang yang menulisnya musimam, akan menyebabkan tidak terasahnya kemahiran menulis. 


Gagal fokus

Istiqomah tidak melulu pada tindakan terus-menurus menulis secara rutin. Akan tetapi, istiqomah perlu diterapkan pada pembahasan satu topik dalam menulis. Artinya, penulis harus fokus terhadap satu ide tulisan yang harus diselesaikan.


Misalnya, ketika sedang asyik menulis perihal lingkungan hidup kemudian muncul lagi ide tentang pendidikan. Dari munculnya ide baru ini kemudian si penulis beralih ke topi satunya. Nah, peralihan dari satu ide ke ide lainnya inilah yang disebut dengan penulis yang gagal fokus. 


Gagal fokus yang tidak diatasi akan menyebabkan tulisan sebelumnya tidak terselesaikan. Jika berkelanjutan, maka bertumpuklah tulisan-tulisan yang tidak selesai. Oleh karena itu, penulis harus bersabar dan mampu mengendalikan hasrat untuk menulis ide lain. 


Berkonsentrasi atau berfokus pada satu ide tulisan akan membantu si penulis untuk segera menyelesaikan tulisannya. Cara lain yang dapat dilakukan penulis untuk mengatasi hal ini adalah dengan mencatat pokok-pokok ide baru yang muncul dalam catatan yang berbeda. Ide baru tersebut kemudian dapat dilanjutkan setelah tulisan sebelumnya selesai. 


Sebagai kesimpulan dan motivasi, apa yang kita inginkan dalam menulis pasti akan terwujud manakala ada niat, usaha dan keberanian melawan hambatan dalam menulis. Kelima alasan tulisan tidak selesai dan terkesan susah yang telah disebutkan di atas merupakan hambatan secara umum. Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda. Oleh karena mari sambung dalam komentar. 

Salam 


Disclaimer: Images, articles or videos that exist on the web sometimes come from various sources of other media. Copyright is fully owned by the source. If there is a problem with this matter, you can contact