Minggu, 17 Mei 2026

MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

Ilustrasi (Foto: Aditya Aji/AFP viahttps://www.trenmedia.co.id/)

(Akhir tahun memang selalu membuat was-was khususnya tahun ini. Pasalnya hujan dan angin selalu datang beriringan, bencana datang. Tragedi bencana alam tanggal 25 November 2025 menjadi bukti nyata bahwa akhir tahun menyimpan ceritanya sendiri dalam kalender akhir tahunku. Terkhusus Pulau Sumatera, aku mempunyai catatan sendiri tentang bencana alam karena mengingatkanku pada tahun 2004 saat tsunami menerjang Aceh karena bertepatan dengan ulang tahunku. Bencana di Sumatera tidak lahir dengan sendirinya, tetapi campur tangan manusia memberikan andil besar. Puisi ini lahir karena perkara ini sebagai bentuk catatan untuk kesadaran.)

Bulan November memasuki akhir

Aku mendongak meramal cuaca di pelataran rumah

Kataku dalam hati :

Biasanya akhir tahun angin kencang dan hujan

Sambil mengisap lingting rokok yang tinggal separuh

Dengan trauma kambuhanku,

Teringat pula tahun dua ribu empat

Tsunami menggulung Aceh

Tanggal dua puluh enam desember[1]

Tepat hari ulang tahunku

Rakyat berduka, Indonesia berduka.

Aku yang waktu itu menonton lewat televisi tetangga mengelus dada

 

Kini, di akhir tahun kembali

Aceh dan daerah sumatera lainnya kembali menangis dengan air[2]

Air bah yang melumat semuanya

Air mata kehilangan

Air mata kesedihan

Air mata doa

Air mata harapan

Seribu dua ratus lebih orang meregang nyawa[3]

Ratusan ribu orang mengungsi

Sementara yang lain ada yang mencuri simpati

Biar dikira peduli, memilukan diri lalu selfie

 

Mengapa tak pernah sadar?

Ada yang beda dari dua bencana ini

Satu karena alam, satunya campur tangan manusia

Kayu gelondongan menggelinding

Hutannya dibabat diganti sawit-sawit

Mineralnya diambil

Kapan sumatera akan damai?

 

Perlu kiranya duduk di teras rumah

Mengaji tanah dan hujan

Mengaji langit dan bumi

Mengaji air dan api

Agar semuanya seimbang[4]

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal dengan bahasa yang paling sederhana

Seorang penyanyi telah mengingatkan

“Mengapa di tanahku terjadi bencana?”[5]

Bertahun-tahun lagu ini tetap di putar

Kadang menjadi backsound gambar atau video duka di medsos

Sayangnya lagu ini jadi teman penikmat senja

Pembaca infografik keuntungan

Tanpa membaca kerugian untuk alam dan anak cucu

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal ucapan:

Selamat hari bumi

Selamat hari lingkungan hidup

Selamat hari air

Selamat hari udara

Dan hari-hari selamat lainnya yang banyak sekali

Justeru tidak menyelamatkan dari bencana

Poster dan ucapan dishare dari jari ke jari

Tapi tak sampai pada sanubari

 

Sumatera bukan anak kecil yang pura-pura menangis

Jika dibelikan balon dan permen kemudian diam

Sumatera adalah ruang belajar yang tak pernah dipelajari

Dari Suku Anak Dalam harusnya belajar[6]

Satu kehidupan satu pohon ditanam

Pada mereka harusnya belajar

Mengelola kidupan tanpa keserakahan

Pada mereka harusnya belajar

Untuk kembali mencintai bumi secara kaffah

 

 

 

 

Referensi

1Tsunami Aceh 2004 Kronologi, Korban, dan Reformasi Penanggulangan Bencana

2https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251127135953-20-1300085/fakta-fakta-banjir-besar-kepung-aceh-sumut-hingga-sumbar.

3 Tragis! BNPB Sebut 1.200 Orang Tewas dalam Bencana Sumatera 

4 Thales: “Keseimbangan sebagai Inti Keberadaan Alam Semesta"

5 Lirik Lagu Ebiet G. Ade - Berita Kepada Kawan dan Maknanya Bertema Musibah Alam | kumparan.com

6 Belajar Melestarikan Tradisi dan Menjaga Alam dari Suku Anak Dalam

 



[1] Pada 26 Desember 2004, sekitar pukul 07:58 WIB, sebuah gempa bumi dengan kekuatan luar biasa mengguncang kawasan Samudra Hindia, sekitar 250 kilometer barat daya Aceh. Gempa ini tercatat memiliki magnitudo 9,1-9,3 Skala Richter (SR), menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Di Aceh, lebih dari 167.000 orang tercatat tewas, dengan ribuan lainnya terluka dan hilang. 

[2] Banjir dan longsor parah melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar) menimbulkan korban jiwa hingga memutus akses komunikasi dan transportasi.

[3] Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak akhir November 2025 hingga 20 Januari 2026

[4] Menurut Thales, alam semesta bekerja secara harmonis melalui interaksi elemen-elemen seperti air, tanah, udara, dan api. Ketidakseimbangan di antara elemen-elemen ini dapat menyebabkan kekacauan

[5] Salah satu karya Ebiet G. Ade yang sangat terkenal tentang musibah adalah Berita Kepada Kawan. Ebiet G. Ade ungkap bencana alam tersebut untuk mengintropeksi diri.

[6] Suku Anak Dalam bermukim di Pelepat, Bungo, Jambi. Masyarakat yang biasa disebut sebagai Orang Rimba ini terus menjaga tradisi nenek moyangnya, di mana nilai-nilai kehidupan tertinggi adalah menyatu dan bersahabat dengan alam.

Tags :

bm

Lutfi

MEDIA SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM

Ditunggu ide-idenya pada kolom komentar sebagai ikhtiar bersama meningkatkan kualitas pendidikan

  • Lutfi
  • Jl. Pesantren No. 11 Tarate Pandian Sumenep
  • smaplusmu@gmail.com
  • 085233233188

Posting Komentar