Tahun Baru Islam

Rumzil Azizah, M.Pd

"Tetap didik dan doakan anak kita menjadi manusia yang terbaik, karena kita bukan hakim yang harus memutuskan masa depan."

Moh. Nur, S.Kom

“Teruslah belajar dan siapkan masa depan dengan proses yang menyenangkan, bersabar dan ulet untuk menyelesaikan persoalan”

Ema Yuliatin, S.Pd

“Belajar akan lebih mudah meraih masa depan, ingat wajah orantuamu, maka kamu akan semangat kembali ”

SAMBUTAN KEPALA

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.


Puji syukur kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Anugerah-Nya kepada kita semua. Sebagai salah satu sekolah penggerak yang ada di Kab. Sumenep dimana informasi sangat dibutuhkan untuk menjawa dan meyampaikan perkembangan sekolah kami. Besar harapan kami, sarana ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang ada dilingkup pendidikan dan pemerhati pendidikan secara khusus bagi SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Sekolah kami berada didalam Pondok Pesatren Al-Uysmini dimana AHLAQ menjadi yang paling utama bagi seluruh keluarga besar SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Terima kasih atas kunjungannya di website kami maju terus untuk mencapai SMA PLUS MIFTAHUL ULUM yang lebih baik lagi. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Informasi TERBARU

Kami sajikan informasi terupdate disini khusunya pekembangan SMAS PLUS MU SUMENEP

polio

MENGENAL LEBIH JAUH

SMA Plus Miftahul Ulum bediri sejak 2016 atas pemikiran Drs. K.H. Abdullah Cholil M.Hum dimana beliau resah terhadap santri yang menetap dipesantren dan masih sekolah umum diluar pesantren, sebab diluar berbeda dalam pergaulan, tidak seperti pesantren. Jika santri sekolah didalam maka bagi pengasuh lebih mudah dalam mengontrol santri sebagaimana yang diamanahkan oleh wali santri.


SMA ini tentu harus berbeda dengan SMA lain sehingga pengasuh memberi nama Plus Miftahul Ulum, Plus disini lebih dikhususkan kepada pendalaman ilmu agama, dan tidak menutup kemungkinan plus plus yang lain. sejak awal berdiri sampai sekarang SMA Plus Miftahul Ulum mendapat sambutan baik dari masyarakat hal ini dapat dilihat dari kwantitas siswa/i dan kwalitas dalam kegitan belajar mengajar oleh pendidik yang berdidikasi tinggi,


Kapan Berdiri
Baca sejarah SMA Plus
1
...
Kurikulum Sekolah
....
1
...
Fasilitas yang disediakan
...
1
...
Kemudahan dalam belajar
...
1
...
Apa saja kretivitas yang telah dihasilkan
...
1
...

Informasi UMUM

Kami akan suguhkan informasi seputra pendidikan

Sabtu, 03 Januari 2026

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Ilustrasi menulis (sumber: penerbitdepublish.com)

Belajar bukan sekadar menghitung berapa halaman yang dibaca, bukan pula tentang tumpukan soal yang selesai dikerjakan atau deretan tugas yang dikumpulkan tepat waktu. Belajar adalah apa yang benar-benar tinggal di dalam diri: pemahaman yang mengendap, karakter yang perlahan terbentuk, serta kebiasaan berpikir yang terus bertumbuh. Di ruang belajar—baik kelas, pesantren, maupun forum ngaji—kita sejatinya sedang membangun lebih dari sekadar pengetahuan. Kita menata cara berpikir, membiasakan kesabaran, dan melatih kejujuran pada proses. Karena itu, ilmu tidak pernah berjalan sendiri; ia selalu berdampingan dengan adab. Sebagaimana doa yang sering kita langitkan, semoga ruang belajar menjadi taman keberkahan: tempat adab mendahului ilmu, sabar mengiringi prestasi, dan akhlak mulia tumbuh bersama kecerdasan.

Dalam konteks inilah, perjalanan dari membaca menuju menulis menjadi penting—sebuah peralihan dari sikap konsumtif menuju produktif. Dalam Ngaji Jurnalistik bersama Ning Vivi Nafidzatin Nadhor, satu pesan kuat ditekankan: jangan berhenti sebagai pembaca yang baik, tetapi jadilah penulis yang bertumbuh. Membaca yang sejati tidak berhenti pada halaman terakhir; ia berlanjut pada proses memfrasekan ulang, mengendapkan makna, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Dari proses inilah tulisan yang hidup lahir, bukan sekadar rangkuman, melainkan refleksi yang bernapas.

Salah satu metode sederhana namun kuat untuk melatih proses tersebut adalah dengan menentukan satu tema besar—misalnya pesantren—lalu mengumpulkan sekitar empat puluh kata kunci yang berkaitan, seperti santri, ngaji, khidmat, kiai, tirakat, adab, dan sabar. Setiap kata kemudian diuraikan menjadi refleksi dan deskripsi yang mendalam. Dengan cara ini, empat puluh kata tidak lagi sekadar kosakata, melainkan pintu menuju ratusan halaman makna. Menulis pun menjadi lebih terarah, tidak membingungkan, dan terasa membumi.

Namun, menulis tidak pernah menunggu inspirasi datang. Banyak orang ingin menulis, tetapi terjebak menanti mood yang sempurna. Padahal, waktu terbaik untuk menulis hanya satu: sekarang. Menulis ibarat mengayuh sepeda; ketika berhenti, kita kehilangan keseimbangan, tetapi ketika terus mengayuh, kita akan sampai meski perlahan. Karena itu, karya terbaik bukanlah karya paling indah, melainkan karya yang selesai. Pada titik tertentu, menulis bahkan menjadi terapi—sebuah healing productivity—cara menyembuhkan diri dengan berkarya, menumpahkan keresahan, mengurai pengalaman, dan merawat batin melalui kata-kata.

Dari para penulis, kita belajar bahwa kekuatan tulisan sering lahir dari kesederhanaan yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Tere Liye, misalnya, menunjukkan pentingnya bahasa yang lugas, kalimat efektif, dan konsistensi latihan. Kepala penulis harus terus diisi dengan bacaan, riset, dan pengalaman hidup agar tulisan memiliki “isi”. Sementara itu, Raditya Dika mengajarkan bahwa cerita yang kuat kerap berawal dari satu premis kalimat yang jelas. Draf pertama tidak harus sempurna—bahkan boleh berantakan—karena revisi adalah ruang tempat keindahan dilahirkan. Tulis, perbaiki, lalu tulis lagi. Sejalan dengan itu, Bruce Lee mengingatkan bahwa ketekunan jauh lebih menakutkan daripada bakat sesaat; satu kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengalahkan ribuan rencana yang tak pernah dimulai.

Pada akhirnya, menulis adalah jalan untuk bertumbuh. Ia bukan semata tentang ingin terkenal atau diterbitkan, melainkan cara belajar yang paling jujur. Dengan menulis, kita tahu apa yang benar-benar kita pahami, apa yang masih kosong, dan apa yang sedang kita cari. Ketika lelah, kita belajar berhenti sejenak tanpa menyerah. Ketika keliru, kita merevisi tanpa menyesali. Ketika berhasil, kita bersyukur tanpa jumawa. Sebab belajar dan menulis bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita bertumbuh sepanjang perjalanan.

Jumat, 02 Januari 2026

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

 

Ilustrasi ayah dan anak

“Kinaaaa! Sudah jam enam. Ayo cepat berangkat!”

Suara ayah memecah pagi.

Lepp!—roti dan telur mata sapi yang tinggal segigit langsung masuk ke mulut.

“Iyaaa, Yah,” jawabku dengan mulut penuh.

Kaos kakiku kutarik kuat-kuat. Syuuuut! Menutupi betisku sampai lutut. Kaos kaki ini warisan ayah. Kata ayah, kaos kaki bapak-bapak itu tebal dan tidak mudah sobek. Hanya saja sudah melar di bagian atas. Supaya tidak melorot, kuikat dengan karet gelang warna-warni.

Tas kusempitkan di bahu, lalu kutaruh di keranjang sepeda. Aku meraih tangan ayah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab ayah sambil mencium pipi kanan dan kiriku.

Kami tinggal berdua. Ayah adalah orang tuaku satu-satunya. Ia bekerja sebagai pegawai TU di sebuah sekolah dengan gaji yang tak seberapa, tapi selalu cukup membuatku merasa punya segalanya.

Aku mengayuh sepeda Phoenix-ku, sepeda bekas dari Pasar Bangkal, tapi gagah di mataku. Hasil jerih payah ku menabung. Ayah mengecat ulang bagian-bagian yang karatan. Katanya, yang penting masih kuat dan kokoh.

Sampai di jalan besar, aku menoleh kanan kiri, memastikan tak ada motor meluncur dari arah Asta Tinggi. Desaku, Banasokon, berada di dataran tinggi Kebonagung, Sumenep. Di puncak bukit itulah makam raja-raja Sumenep berada, tempat tua penuh cerita yang sering ayah kisahkan dengan suara pelan dan mata serius.

“Nanaaaa!”

Aku menghentikan sepeda di depan rumah putih.

Eboknya Nana sedang menyapu teras.

“Kina, masuk saja. Nana masih makan.”

“Enggih,” jawabku.

Ku standar Phoenix-ku, kucium tangan ebok, lalu masuk ngeloyor mencari Nana.

“Hai, Kina, siniii!”

Nana memanggil sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan kerupuk ke mulutku.

“Hmppph!”

Refleks aku ikut mangap. Suapan dari Nana langsung masuk ke mulutku. Nana tertawa. Pipinya gembul, empluk, dengan lesung pipit yang dalam. Setiap dia tertawa, matanya seperti hilang; tinggal dua garis lengkung saja. Temanku ini selalu lucu kalau tersenyum.

“Ayok cepat,” bujukku.

“Oke, oke!” Jawabnya. 

Ia meneguk air minum dari gelas bulat bertuliskan NUVO. Setelah itu kami buru-buru naik sepeda masing-masing.

Sampai di pertelon menuju jembatan Kebonagung, seseorang berteriak dari seberang jalan.

“Kinaaaa! Mampir sini!”

Aku menoleh.

Mbah Sumi berdiri di depan gubuk kecilnya, tubuhnya agak tertatih, tangannya melambai-lambai ke arahku.

“Aduh, bisa telat nih,” bisik Nana.

“Ayok, Kin, sudah hampir upacara.”

Aku gelagapan.

“Mbahhh Sumi, nanti yaaa. Pulang sekolah aku mampir,” teriakku.

Mbah Sumi adalah penjual pisang yang tinggal sendirian di gubuk pinggir jalan Asta Tinggi. Entah sejak kapan ia di sana. Tak pernah kulihat anak, suami, atau saudara menemaninya. Aku mengenalnya karena ayah sering membeli pisang darinya untuk pakan burung. Ayah memelihara banyak burung, sepuluh sangkar, delapan berjejer di teras, dua di dapur.

Aku kembali mengayuh sepeda. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang.

Mbah Sumi masih berdiri, memandang ke arahku.

Aku mengangguk kecil.

Nanti saja… pulang sekolah.

Kami tiba di sekolah hampir telat. Pak Mat, tukang kebun merangkap satpam, sudah berdiri di gerbang.

“Pak Mat, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam, Kina. Hampir Bapak tutup gerbang ini.”

Aku nyengir kuda. Bibirku bergerak tanpa suara, makasih.

Kami berbaris di lapangan.

“Yang tinggi di depan,” kata Pak Ainul.

Nana mendorongku ke depan.

“Panas…” bisikku.

“Tapi kamu tinggi, Kin,” jawabnya asal.

Huffh. Beginilah nasib bertubuh jangkung. Ada plus minusnya. Plusnya, kalau mau ambil buah kersen, aku tak perlu cari galah. Tinggal hupp! tarik ranting terdekat.

Waktu terasa berjalan lambat. Akhirnya bel pulang berbunyi. Alhamdulillah. Jam menunjukkan pukul 13.00. Aku memasukkan buku sekenanya ke tas.

Panas… panas sekali.

Di parkiran sepeda aku menoleh ke sana-sini mencari Nana. Tak lama ia berlari kecil menghampiriku. Kami pulang bersama.

Jalan pulang jauh lebih berat. Tanjakan terasa panjang, matahari tepat di atas kepala. Aspal tampak seperti berair, menyilaukan mata. Sepedaku berderit kreek… kreek… mengikuti kayuhanku yang melemah.

Di jembatan Kebonagung aku turun, menuntun sepeda. Napasku tersengal.

“Aku nggak kuat,” kataku.

Nana ikut turun.

“Pengen minum es,” rajuknya.

Aku mengangguk sambil mengusap peluh dengan kerudung. Bau kecut. Asemm!

Saat turunan, aku kembali naik sepeda. Dari kejauhan terlihat orang berkerumun.

“Ada apa ya?” Nana menoleh padaku.

Aku mengangkat bahu.

“Lihat yuk,” ajaknya.

Kami mendekat. Orang-orang berkumpul di depan gubuk Mbah Sumi.

“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak bersarung.

“Buk Sumi adinggel omor.”

Hah?

Dunia seperti berhenti.

Bagai petir di siang bolong.

Pagi tadi…

Mbah Sumi memanggil namaku.

Melambai.

Menungguku.

Mataku berkabut. Airnya tumpah tanpa izin.

“Mbah Sumi…” isakku.

Nana mendekap bahuku erat.

Kenapa harus ditunda?

Kenapa tadi aku tidak mampir?

Sekadar menyapa. Sekadar salim. Sekadar bertanya, mbah ada apa?

Penyesalan merayap pelan, menusuk-nusuk hatiku.

Sejak hari itu aku belajar:

tidak semua panggilan bisa menunggu,

tidak semua “nanti” diberi kesempatan kedua.

Dan sekarang setiap kali aku melewati jalan itu,

aku selalu teringat satu lambaian tangan

yang tak pernah sempat kusambut. 

Al fatihah untuk Mbah Sumi. 💫


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 01 Januari 2026

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Bergembira dengan kokurikuler sekolah

Liburan telah usai, lonceng sekolah kembali berbunyi, dan ruang-ruang kelas kembali dipenuhi peserta didik dengan beragam cerita serta harapan baru. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi tanda dimulainya aktivitas belajar, tetapi juga saat yang tepat untuk merenungkan kembali hakikat pembelajaran itu sendiri.

Belajar dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah yang melibatkan hati, akal, dan perilaku. Al-Qur’an menegaskan pentingnya ilmu yang disertai kesadaran dan pemahaman, sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa belajar dalam Islam bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan spiritual dan moral. Inilah yang sejalan dengan konsep deep learning (pembelajaran mendalam) yang menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sehingga ilmu tidak berhenti di pikiran, tetapi menggerakkan hati dan amal.

Pembelajaran Berkesadaran: Belajar sebagai Ibadah

Prinsip berkesadaran mengajak peserta didik untuk memahami tujuan belajar secara utuh. Dalam Islam, kesadaran ini dimulai dari niat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Belajar dengan kesadaran berarti menyadari bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah dan sarana untuk memperbaiki diri serta memberi manfaat bagi orang lain. Ketika kesadaran ini tumbuh, peserta didik tidak belajar karena terpaksa, melainkan dengan tanggung jawab dan keikhlasan.

Kesadaran yang terbangun akan menuntun peserta didik untuk memahami ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia tetapi juga akhirat. "Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang berdoa untuknya." (HR. Muslim)

Pembelajaran Bermakna: Tantangan Sekolah Saat Ini

Pembelajaran bermakna terjadi ketika ilmu tidak berhenti pada hafalan, tetapi dipahami, dikaitkan, dan direnungkan. Al-Qur’an mendorong umatnya untuk terus berpikir dan mengambil pelajaran:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)

Dalam pendidikan Islam, pembelajaran bermakna mengajak peserta didik untuk mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata, nilai moral, dan tujuan hidup. Ketika peserta didik memahami makna kejujuran, ia belajar berlaku jujur. Ketika mempelajari kesabaran, ia mampu mengendalikan diri. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di ingatan. Dengan pemahaman demikian insyaallah tidak akan ada lagi istilah sekolah tetapi tidak belajar. 

Pembelajaran Menggembirakan: Ilmu yang Menenangkan Jiwa

Islam memandang belajar sebagai aktivitas yang membawa ketenangan dan kebahagiaan. Rasulullah ﷺ mengajarkan agama dengan kasih sayang, dialog, dan suasana yang menyejukkan. Allah Swt. berfirman : 

"Allah  menghendaki  kemudahan  bagimu,  dan  tidak  menghendaki  kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 18)

Prinsip pembelajaran menggembirakan yang diterapkan saat ini sejalan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, dan membangkitkan rasa ingin tahu. 

Ketika peserta didik merasa dihargai dan bahagia, mereka lebih terbuka untuk belajar secara mendalam. Kegembiraan bukan berarti tanpa kesungguhan, tetapi suasana positif yang membuat ilmu mudah diterima dan diresapi.

Momentum kembalinya peserta didik ke sekolah setelah liburan adalah saat yang tepat untuk menata ulang arah pembelajaran. Prinsip pembelajaran mendalam bukan konsep baru dalam Islam, melainkan ruh pendidikan yang telah lama diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah ﷺ. Ketika sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, maka pendidikan akan kembali pada hakikatnya: menghidupkan hati, mencerdaskan akal, dan menuntun manusia dari ilmu menuju amal.

Rabu, 24 Desember 2025

 MENYOAL KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM BAYANG-BAYANG MEDIA SOSIAL

MENYOAL KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM BAYANG-BAYANG MEDIA SOSIAL


Ilustrasi kecanduan medai sosial


Semakin canggihnya teknologi di era digital masa kini membuat masyarakat dunia menggunakan dunia maya seperti media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat secara virtual. Selain itu, mereka menggunakan dunia maya untuk mengenalkan dirinya kepada khalayak ramai dengan media social. Hadirnya media sosial memudahkan penggunanya berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dunia tanpa biaya yang mahal. Hal ini menyebabkan media sosial menarik banyak pengguna dari berbagai kalangan. Media sosial yang menarik perhatian ini menjadi primadona yang dapat digunakan di setiap kesempatan. Maka, tidak salah jika kita melihat remaja dimana pun berada terus-menerus berselancar ria dengan gawainya.

Pengguna dunia maya atau media sosial salah satunya adalah kalangan remaja. Menurut (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) dalam penggunaannya, remaja biasanya menggunakannya untuk membagikan kegiatan pribadinya, seperti curhatan dan foto bersama teman-temannya. Secara lumrah remaja selalu ingin mencoba hal-hal baru. Mereka selalu merasa penasaran dan tidak pernah merasa puas jika hanya mencobanya sekali. Hal inilah yang lama-kelamaan menimbulkan rasa kecanduan pada diri mereka. Selain menimbulkan kecanduan, media sosial juga berdampak pada kesehatan mental remaja yang jika dibiarkan dapat memperparah keadaan remaja masa kini. Dampak-dampak ini bukan hanya dampak positif tetapi juga berdampak negatif.   

Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja

Sebagai makhluk sosial tentunya masyarakat tidak lepas dari masyarakat lainnya. Terlepas dari hal tersebut tentunya untuk berkomunikasi dengtan masyarakat lain, mereka membutuhkan media untuk mengabarkan kondisinya pada yang lain. Pada era digital ini masyarakat menggunakan untuk saling berinteraksi satu sama lain secara virtual. Salah satu dunia maya yang sering digunakan adalah media sosial.

Media sosial seperti tiktok, instagram, facebook, youtube dan lain sebagainya  memang sangat terkenal dalam berbagai kalangan usia, salah satunya kalangan remaja. Penggunaan media sosial selain memudahkan para pengguna dalam berinteraksi, juga memudahkan penggunanya berteman dengan masyarakat dunia tanpa mengenal usia bahkan gendermya. Berdasarkan laporan Statistik Pendidikan 2024 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik di antara 80,32 persen peserta didik yang menggunakan internet pada tahun 2024, mayoritas (90,76 persen) menggunakan internet untuk hiburan. Kemudian, tujuan penggunaan internet yang besar lainnya adalah mengakses media sosial (67,65 persen) dan mencari informasi/berita (61,65 persen). Selain itu, sekitar 27,53 persen peserta didik yang menggunakan internet adalah untuk pembelajaran online (Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2024).

Namun tanpa disadari para penggunanya, internet khususnya media sosial selain memberikan dampak positif, media sosial juga memberikan dampak negatif yang dapat menimbulkan tindak kejahatan bagi para penggunanya. Pengguna yang sering menjadi bumerang bagi tindak kejahatan remaja. Pada fase ini biasanya mereka masih mencari jati dirinya. Mereka akan mencoba hal-hal baru yang mampu membuat mereka penasaran. Selain itu, masa remaja merupakan masa tahapan kehidupan manusia yang ditandai dengan pemikiran yang labil (Mawaddah & Prastya, 2023).

Sebagaimana telah disampaikan di atas media sosial membuat penggunanya menjadi kecanduan. Kecanduan media sosial merupakan dampak negatif awal terhadap kesehatan mental remaja. Penyakit kecanduan ini membuat remaja tidak ingin lepas dari berselancar di media sosial sehingga mengabaikan realitas sebenarnya yang ada dalam lingkungan mereka. Kita bisa melihat terkadang para remaja abai terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, tidak salah jika ada istilah bersama tetapi tidak berkumpu karena asyik dengan media sosialnya masing-masing. Penyakit kecanduan ini pula nantinya akan memberikan peluang lebih besar terhadap remaja untuk terkena dampak lebih lanjut yaitu cyberbullying.

Dikutip dari situs unicef.org cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran.

Remaja yang mengalami kecanduan media sosial akan mengalami kecemasan apabila tidak bermedia sosial. Dirinya akan merasa gelisah dan merasakan ada sesuatu yang kurang dalam pikirinnya. Kecemasan ini meningkat saat remaja mengalami cyberbullying. Hal ini biasanya dimulai ketika mereka mendapatkan pesan-pesan ancaman dari seseorang yang dikenal atau tidak dikenal. Dari sisi pelaku bullying, luasnya media sosial tentunya memudahkan seseorang untuk mengirim hal-hal yang mereka inginkan yang berupa ancaman kepada orang lain. Remaja menjadi korban akan mengalami kecemasan berkelanjutan jika tidak mampu mengontrol mental mereka.

Dampak lanjutan dari kecanduan dan kecemasan yang diakibatkan oleh media sosial adalah depresi. Menurut penelitian, penggunaan media sosial inilah yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja. Dampak yang paling menonjol adalah depresi yang disebabkan oleh cyberbullying. Remaja yang mengalami perundungan cenderung mengalami tekanan mental yang berujung pada depresi sehingga dapat melakukan hal-hal negatif. Dampak paling parah dari depresi yang diakibatkan perundungan di media sosial adalah tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh remaja. Yurika dikutip dari laman brin.go.id, menyebutkan kasus bunuh diri terjadi karena tekanan akademis, sosial, harapan-harapan tinggi untuk lebih berprestasi dan berkompeten di bidang akademi, perubahan hormon, emosi, permasalahan keluarga, makin banyak bullyingcyber bullying, pengaruh media informasi bebas, masalah identitas diri, dan kurangnya akses sumber dukungan kepada para remaja.

Tips dan Trik Menjaga Kesehatan Mental Remaja

Keasyikan dunia maya telah menghipnotis penggunanya khusunya remaja untuk terus menerus berselancar dalam dunia maya. Keasyikan kemudian bertransformasi menjadi candu yang menyebabkan para remaja lupa akan dirinya dan lingkungan sosial. Masalah semacam ini menjadi gejala bahwa si pengguna mengalami penurunan kesehatan mental karena tidak dapat mengontrol diri. Dampak bersarnya sebagaimana telah disebutkan di atas saat ini bukanlah sesuatu yang baru lagi tetapi telah menjadi momok menakutkan. Maka dari itu, perlu penanganan yang serius juga dalam mengatasi masalah kesehatan mental remaja akibat keasyikan bermedia sosial.

Sejatinya dalam penangan penurunan kesehatan mental remaja akibat pengaruh media sosial dapat melibatkan tiga elemen penting dalam kehidupan di lingkungan, yaitu diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Ketiga elemen tersebut yang menurut Rosmalina dan (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) disebut factor internal dan eksternal. Factor internal merupakan factor yang berasal dari dalam diri sendiri seperti sifat, bakat, hereditas, dan lain sebagainya. Sementara itu, factor eksternal merupakan factor yang memengaruhi remaja dari luar seperti keluarga dan lingkungan.

Secara individu, remaja dapat menjaga kesehatan mentalnya dengan beragam cara. Keberhasilan beberapa cara tersebut diperlukan kekonsistenan diri untuk melawan keinginan berlebihan mengakses dunia maya. Para remaja yang berjuang untuk memerangi keinginan berlebih dalam berselancar di dunia maya dapat mengikuti tips dan trik yang diutarakan oleh (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) ini.

Pertama, hal yang harus dilakuakn untuk menjaga kesehatan mental remaja adalah membatasi penggunaan media sosial. Hal ini digunakan agar remaja bisa mebagi waktu. Selain itu juga, cara ini dapat mengurangi dampak kecanduan yang berlebihan pada remaja. Cara yang digunakan untuk membatasi penggunaan media sosial adalah dengan alarm pengingat yang berbunyi saat batas waktu penggunaan media sosial. Kedua, media sosial dapat digunakan untuk mencari informasi seputar pengetahuan yang berhubungan dengan diri dan sekolah. Artinya, media sosial berfungsi sebagai sumber pengetahuan. Selanjutanya, carilah kesibukan lain untuk mengatasi kecanduan yang disebabkan oleh media sosial seperti menonton televise, membaca koran, berkumpul bersama keluarga dan tetangga dan lain sebagainya..

Ketiga, Melakukan hal positif selain mengakses internet dapat membantu mengurangi kecanduan penggunaan media sosial. Para remaja dapat melakukan aktivitas di dalam rumah atau luar rumah. Di dalam rumah, remaja dapat membantu pekerjaan orang tua, mengerjakan tugas, dan mengasah keterampilan membaca dan menulis. Di luar rumah, para remaja dapat berolahraga dan bersosialisasi dengan teman dan tetangga. Keempat, menggunakan media sosial dengan bijak menjadi factor penting untuk terhindar dari penurunan kesehatan mental remaja. Biasanya remaja menggunakan media sosial untuk hal-hal yang menarik perhatian mereka tanpa melihat dampak yang diperoleh. Mulai sekarang mulailah menggunakanakan medua sosial dengan bijak. Kelima, hal terakhir yang dapat dilakukan adalah menghapus media sosial dari perangkat untuk menghindari dampak kesehatan mental yang lebih serius.

Factor internal remaja memberikan dukungan penting agar remaja tidak mengalami penuruan kesehatan mental saat bermedia sosial. Keinginan kuat dari individu remaja untuk terlepas dari jerat media sosial yang berdampak pada kesehatan mental harus didukung factor eksternal yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pengaruh keluarga terhadap kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting. Dukungan dan dorongan penuh dari keluarga membuat semangat dari remaja tumbuh. Hal inilah yang membuat mereka sedikit demi sedikit melupakan dunia maya khususnya media sosial. Selain dukungan, interaksi satu sama lain juga membuat masalah yang terjadi pada kesehatan mental remaja sedikit demi sedikit juga terobati.

Selain keluarga, lingkungan sekolah juga dapat mengobati kesehatan mental remaja. Kesibukan yang terjadi di lingkungan sekolah membuat perhatian remaja terhadap dunia maya menjadi teralihkan. Mereka akan memikirkan hal-hal yang terjadi di sekolah tanpa memikirkan masalah yang terjadi di media sosial. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat. Lingkungan memberikan peran penting dalam menjaga kesehatan mental remaja dari pengaruh media sosial. Dengan mengikuti kegiatan yang terjadi di masyarakat, mereka sibuk pada organisasinya tanpa memiliki kesempatan untuk bergabung dengan kesibukan di  media sosial. Dengan begitu, remaja akan berada dalam lingkungan yang positif dan tidak mendapatkan ancaman-ancaman dari media sosial seperti cyberbullying.

Kemajuan teknologi khususnya media sosial seperti tiktok, instagram, facebook, dan youtube tidak dapat ditolak. Produk teknologi tersebut memang harus juga dikenalkan kepada remaja khususnya dalam penggunaan secara bijak. Kecanduan, kecemasan dan depresi bahkan bunuh diri merupakan dampak serius yang salah satunya disebabkan oleh media sosial tanpa kesadaran dan rasa bijak. Maka dari itu perhatian diri sindiri, keluarga, teman, sekolah, dan masyarakat menjadi penting untuk membimbing remaja berada dalam koridor yang tepat dalam penggunaan media sosial sehingga kesehatan mental tetap terjaga.

Penulis : Nur Azizah Asura Baihaqi (XII-C)

Selasa, 23 Desember 2025

Lima Ribu dari Langit

Lima Ribu dari Langit

 


Pagi itu, Ahmad terbangun agak kesiangan. Tangannya cepat-cepat meraih kopiah, disusulkannya langkah menuju masjid. Azan Subuh hampir selesai.

Tasss!

Sandal Swallow-nya terlepas. Jempol kakinya membentur paving lapangan. Kukunya retak, darah keluar. Ahmad meringis, tapi tak berhenti. Dengan langkah tertatih ia tetap menuju masjid.

“Yang telat shalatnya di gazebo!”

Suara mu’allim terdengar tegas.

Ahmad tersentak. Ia menunduk, berjalan ke barisan santri yang telat. Setelah shalat dan membaca Yasin bersama, mereka mendapat ta’ziran membersihkan tempat wudu.

“Kenapa telat, Mad? Biasanya kamu paling rajin,” tanya temannya.

Sambil menyikat lumut di saluran air, Ahmad menjawab pelan,

“Semalam hujan deras. Aku nggak bisa tidur. Takut banjir masuk kamar. Kamarku kan bunker, kalau hujan air suka rembes.”

Temannya mengangguk paham.

Setelah ta’ziran selesai, Ahmad dan teman-temannya melapor kepada mu’allim. Ahmad lalu melangkah ke pasarean para kiai di dekat masjid. Ia berwudu kembali, lalu mengambil mushaf lusuh yang tersusun rapi di rak pojok.

Setiap hari, selain wirid wajib santri, Ahmad punya kebiasaan khusus: ngaji Surah At-Taubah. Entah mengapa hatinya selalu tertarik pada surah itu. Ia tahu, surah At-Taubah tidak diawali basmalah. Namun dua ayat terakhirnya selalu membuat dadanya lapang, seolah menjadi pegangan hidupnya.

“Kriukkk…”

Perut Ahmad berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan.

Ia menyelesaikan bacaannya, menutup mushaf, menciumnya, lalu mengangkatnya ke atas kepala.

“Shadaqallâhul ‘azhîm…” ucapnya lirih.

Sandal yang tadi terlepas ia perbaiki dengan peniti kapal agar tidak putus lagi. Ahmad merogoh saku.

Seribu, dua ribu, tiga ribu, dan beberapa receh.

Tersisa tiga ribu lima ratus rupiah.

“Cukup,” gumamnya. Seribu lima ratus buat nasi terong dan telor ceplok di warung depan, dua ribu buat ongkos bis mini ke Situbondo kota. Hari ini ia berniat mengambil kiriman uang dari abahnya di Madura.

Setelah izin ke bagian keamanan pondok, Ahmad berjalan kaki cukup jauh menuju jalan Pantura. Setengah jam menunggu, bis mini datang. Ahmad melambai, naik, dan turun tepat di depan BRI Situbondo kota.

Di dalam bank, suasananya dingin, wangi, dan rapi. Ahmad mengisi slip, duduk menunggu. Nomor antreannya tujuh. Tak lama, ia dipanggil ke teller nomor satu. Seorang ibu paruh baya dengan name tag bertuliskan Sulastri.

“Ambil kiriman, Dek?” tanyanya lembut.

“Iya, Bu,” jawab Ahmad sambil menyerahkan buku tabungan dan slip.

Beberapa menit kemudian, kening ibu itu berkerut.

“Belum ada uang masuk, Dek.”

“Apa…?”

Hati Ahmad seakan runtuh. Ibu teller memastikan lagi. Tetap sama. Tidak ada kiriman.

Ahmad terdiam. Dadanya panas. Air matanya menggenang. Sejak pagi cobaan datang beruntun: telat Subuh, sandal putus, ta’zir, dan kini kiriman abah belum sampai. Uangnya habis. Tidak tersisa ongkos pulang.

Tangis Ahmad pecah di depan teller.

“Jangan menangis, Dek,” ujar Bu Sulastri.

“Kamu punya uang buat balik ke pondok?”

Ahmad menggeleng, sambil mengusap mata dengan ujung lengan bajunya.

Ibu itu terdiam sejenak. Lalu ia membuka dompet, mengambil beberapa lembar uang, dan menyodorkannya.

“Ini, Dek. Buat ongkos. Sabar ya.”

Ahmad menerimanya dengan tangan gemetar.

Lima ribu rupiah.

“Masya Allah…”

Air matanya jatuh, kali ini karena syukur.

Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih, menunduk penuh adab. Bagi orang lain mungkin kecil, tapi bagi Ahmad, uang itu adalah bukti nyata pertolongan Allah.

Di luar bank, Ahmad menengadah pelan.

“Terima kasih, ya Allah. Engkau datang menolong hamba-Mu lewat tangan siapa saja yang Engkau kehendaki.”

Dan pagi itu, Ahmad belajar:

santri boleh tidak punya apa-apa, asal hatinya tetap penuh tawakkal pada Allah SWT. 

Terima kasih ya Allah 

Terima kasih Bu Sulastri. ✨


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 18 Desember 2025

Teman Tak Terduga

Teman Tak Terduga

 


Aku mengintip dari balik tirai jendela. Di luar, anak-anak kecil ramai menyoraki Ayung, seorang pemuda lusuh dengan tubuh tinggi kurus. Bicaranya tak pernah jelas; bibir sumbingnya membuat ucapannya terdengar patah-patah. Katanya ia agak terbelakang mental. Ia sering berkeliaran, kadang meminta-minta dari rumah ke rumah.

Sesekali ibuk memberinya uang receh. Kadang kue. Seadanya yang kami punya. Namun jujur saja, aku takut padanya. Entah kenapa. Mungkin karena ia sering diledek oleh kami, para bocil yang merasa paling berani. Ayung kerap mengejar, kami pun lari tunggang-langgang sambil tertawa tanpa tahu bahwa tawa itu melukai hatinya.

Konon, nama aslinya Saiful.

Tapi kami lupa.

Karena ia senang melihat orang bersarung dan sering menggumamkan kata yang sama, “ayung… ayung…” (sarung… sarung…)

Maka sejak itu, kami memanggilnya Ayung.

Sore hari sepulang madrasah, aku bermain ke sawah bersama teman-teman. Jika beruntung, kami menemukan tebu. Kami cabut, kami bawa pulang, lalu ibuk akan memotongnya kecil-kecil agar mudah digigit dan diisap sari manisnya.

Tanpa sadar, kami bermain terlalu jauh.

Saat matahari tenggelam dan langit berubah jingga gelap, barulah kami tersadar: waktu Maghrib hampir tiba. Panik. Kami berlarian pulang.

Aku tertinggal di belakang, napasku tersengal.

Tiba-tiba, krek!

Sandal jepitku putus. Aku jatuh tersungkur. Lututku perih terantuk batu. Teman-temanku sudah tak terlihat. Aku menangis kesakitan, takut, dan sendirian.

Lalu…

ada bayangan jongkok di dekatku.

Aku terkesiap.

Itu Ayung.

Ia tersenyum.

Tak berkata apa-apa. Ia melepas sandalnya, lalu menyodorkannya padaku.

Tangisku makin pecah.

Dengan sandal itu di kakiku, Ayung menuntunku pelan-pelan. Diam. Sabar. Sampai akhirnya lampu pekarangan rumahku tampak dari kejauhan. Aku tersenyum hangat, lega, dan malu pada diriku sendiri.

Aku menatapnya.

“Kalangkong, Ayung…”

Ia hanya mengangguk kecil.

Sejak hari itu, setiap kali Ayung lewat depan rumah, aku selalu menyapanya. Kadang kuberi kue. Kadang permen.

Sederhana.

Dan sejak itulah aku belajar: 

Kadang orang yang sering kita anggap remeh justru memiliki hati yang paling baik. Jangan menilai seseorang dari rupanya,

karena Allah menitipkan kemuliaan di hati, bukan di penampilan. 🌼


_writing by Rumzil Azizah_

PENGELOLA SMAS PLUS MU

Rumzil Azizah, M.Pd

(Kepala)

Nilta Najmur R., M.Pd

(W. Kurikulum)

Tutik Herawti, S.Pd

(W. Kesiswaan)

Hisbullah Huda, SH.I

(W. Sarpas)

Moh. Hariyanto

(W. Humas)

Sofiyatul Husna

(Bendahara)

Hairul Jamal

(K. TU)

MOH. NUR

(OPS)

Maps Dan Kontak

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan kirim E-Mail, WA dan bisa berkunjung ke alamat dibawah ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Featured