Tahun Baru Islam

Rumzil Azizah, M.Pd

"Tetap didik dan doakan anak kita menjadi manusia yang terbaik, karena kita bukan hakim yang harus memutuskan masa depan."

Moh. Nur, S.Kom

“Teruslah belajar dan siapkan masa depan dengan proses yang menyenangkan, bersabar dan ulet untuk menyelesaikan persoalan”

Ema Yuliatin, S.Pd

“Belajar akan lebih mudah meraih masa depan, ingat wajah orantuamu, maka kamu akan semangat kembali ”

SAMBUTAN KEPALA

Assalamu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh.


Puji syukur kepada Alloh SWT, Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Anugerah-Nya kepada kita semua. Sebagai salah satu sekolah penggerak yang ada di Kab. Sumenep dimana informasi sangat dibutuhkan untuk menjawa dan meyampaikan perkembangan sekolah kami. Besar harapan kami, sarana ini dapat memberi manfaat bagi semua pihak yang ada dilingkup pendidikan dan pemerhati pendidikan secara khusus bagi SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Sekolah kami berada didalam Pondok Pesatren Al-Uysmini dimana AHLAQ menjadi yang paling utama bagi seluruh keluarga besar SMA PLUS MIFTAHUL ULUM. Terima kasih atas kunjungannya di website kami maju terus untuk mencapai SMA PLUS MIFTAHUL ULUM yang lebih baik lagi. Wallahul muwafiq ila aqwamith thariq Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Informasi TERBARU

Kami sajikan informasi terupdate disini khusunya pekembangan SMAS PLUS MU SUMENEP

polio

MENGENAL LEBIH JAUH

SMA Plus Miftahul Ulum bediri sejak 2016 atas pemikiran Drs. K.H. Abdullah Cholil M.Hum dimana beliau resah terhadap santri yang menetap dipesantren dan masih sekolah umum diluar pesantren, sebab diluar berbeda dalam pergaulan, tidak seperti pesantren. Jika santri sekolah didalam maka bagi pengasuh lebih mudah dalam mengontrol santri sebagaimana yang diamanahkan oleh wali santri.


SMA ini tentu harus berbeda dengan SMA lain sehingga pengasuh memberi nama Plus Miftahul Ulum, Plus disini lebih dikhususkan kepada pendalaman ilmu agama, dan tidak menutup kemungkinan plus plus yang lain. sejak awal berdiri sampai sekarang SMA Plus Miftahul Ulum mendapat sambutan baik dari masyarakat hal ini dapat dilihat dari kwantitas siswa/i dan kwalitas dalam kegitan belajar mengajar oleh pendidik yang berdidikasi tinggi,


Kapan Berdiri
Baca sejarah SMA Plus
1
...
Kurikulum Sekolah
....
1
...
Fasilitas yang disediakan
...
1
...
Kemudahan dalam belajar
...
1
...
Apa saja kretivitas yang telah dihasilkan
...
1
...

Informasi UMUM

Kami akan suguhkan informasi seputra pendidikan

Selasa, 20 Januari 2026

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

 


Sumenep — OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum menyelenggarakan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 20 Januari 2025, bertempat di lingkungan sekolah. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme, diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta tenaga kependidikan.

Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, selawat, dan sambutan.  Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd. dalam sambutannya  menyampaikan bahwa di manapun adalah tempat belajar. Belajar, menurutnya, ibarat akar yang menancap kuat, menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Beliau juga berharap agar seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari tersebut benar-benar diniatkan karena Allah SWT, sehingga memperoleh barokah.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Panitia, Faizi Al Wildani. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan rasa bangga dan bahagia karena peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dapat terlaksana dengan lancar dan sukses.

Memasuki acara inti, mauidah hasanah disampaikan oleh K.H. Nur Kholish Arifin. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada masa penuh kesedihan dalam kehidupan Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Pada masa tersebut, Rasulullah SAW kehilangan dua sosok yang sangat berarti, yakni pamannya Abu Thalib serta istrinya tercinta, Khadijah r.a.

Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa Isra Mikraj merupakan bentuk kemuliaan Rasulullah SAW, ketika Allah SWT menjemput langsung Rasulullah untuk menghadap kepada-Nya, sekaligus memperlihatkan kebesaran dan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada beliau dan umat manusia.

Dalam ceramah tersebut juga disampaikan bahwa oleh-oleh terpenting Rasulullah SAW dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah sholat. Oleh karena itu, K.H. Nur Kholish Arifin mengajak seluruh hadirin untuk memperbaiki dan menjaga kualitas sholat, baik dari segi ketepatan waktu, kekhusyukan, maupun pemahaman maknanya, sebagai bentuk nyata kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Dalam penutup mauidahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk menghubungkan diri dengan Rasulullah SAW melalui pengamalan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan panca indra untuk kebaikan, seperti mata untuk membaca Al-Qur’an, kaki melangkah ke majelis zikir, serta menata hati dengan sifat-sifat mulia Rasulullah SAW, seperti sabar, tawaduk, dan akhlakul karimah.

Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW ini diharapkan dapat meningkatkan keimanan, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membentuk karakter religius peserta didik SMAS Plus Miftahul Ulum.

Jumat, 16 Januari 2026

 Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah

Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah



Peristiwa Isra Mikraj sering dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang penuh keajaiban. Lebih dari itu, sesungguhnya peristiwa tersebut juga menyimpan pesan mendalam tentang etos belajar dan tanggung jawab keilmuan. Isra Mikraj menegaskan bahwa peningkatan derajat manusia tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesungguhan dalam menjalani proses pembelajaran. Bagi dunia pendidikan, khususnya di sekolah, momentum Isra Mikraj menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah yang menuntut keseriusan, disiplin, dan ketekunan.

Kesungguhan Nabi Muhammad saw. dalam menerima dan melaksanakan perintah salat pada peristiwa Isra Mikraj mencerminkan sikap totalitas dalam mengemban tugas. Nilai ini relevan dengan dunia pelajar yang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak mudah menyerah, dan konsisten dalam menuntut ilmu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya. Dengan demikian, belajar di sekolah bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan ikhtiar sadar untuk meraih kemuliaan hidup melalui ilmu pengetahuan.

Selain kesungguhan, Isra Mikraj juga mengajarkan pentingnya akhlak ilmiah. Ilmu yang diperoleh tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan kering nilai. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak manusia. Dalam konteks sekolah, akhlak ilmiah tercermin dalam kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian, sikap kritis namun santun dalam berdiskusi, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain. Inilah karakter pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Lebih jauh, Isra Mikraj menanamkan nilai tanggung jawab dalam mengemban amanah. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa tersebut adalah simbol amanah besar yang harus dijaga secara konsisten. Begitu pula ilmu yang diperoleh siswa di sekolah merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Imam al-Syafi’i menyatakan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang memberi manfaat. Artinya, pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Dengan demikian, Isra Mikraj dapat dimaknai sebagai inspirasi transformatif bagi dunia pendidikan. Ia mengajarkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan intelektual harus seiring dengan pendalaman spiritual dan penguatan karakter. Jika semangat Isra Mikraj dihidupkan di sekolah, maka proses belajar tidak hanya melahirkan siswa yang berprestasi, tetapi juga generasi yang berakhlak ilmiah, bertanggung jawab, dan siap mengemban amanah ilmu untuk kebaikan bersama. 

Senin, 12 Januari 2026

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

 

Kegiatan Kokurikuler dengan Perhutani

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih milik Perhutani yang berlokasi di Desa Lalangon, Kabupaten Sumenep, Senin (12/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kookurikuler yang bertujuan memperkaya wawasan siswa melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.

Kunjungan tersebut diikuti oleh tim literasi bersama pendamping guru dengan fokus pada penguatan literasi kontekstual berbasis potensi lokal. Pabrik minyak kayu putih dipilih sebagai lokasi kunjungan karena memiliki nilai edukatif yang berkaitan dengan sains, lingkungan, ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat Sumenep.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses penyulingan minyak kayu putih yang masih mempertahankan prinsip tradisional namun terkelola secara profesional. Proses diawali dengan pengumpulan daun kayu putih yang telah tua dan siap disuling. Daun-daun tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ketel penyulingan berukuran besar.

Selanjutnya, ketel dipanaskan menggunakan uap air dengan suhu tertentu. Uap panas yang dihasilkan akan membawa sari minyak dari daun kayu putih. Uap tersebut dialirkan melalui pipa pendingin hingga mengalami proses pengembunan. Dari proses ini dihasilkan cairan yang terdiri atas air dan minyak kayu putih, yang kemudian terpisah secara alami karena perbedaan massa jenis.

Kepala Resort Perhutani Kabupaten Sumenep, Bapak Imam Syafii, dalam paparannya menjelaskan bahwa pengelolaan minyak kayu putih dimulai sejak tahap pembibitan.

“Pembibitan kayu putih dilakukan secara terencana agar keberlanjutan hutan tetap terjaga. Setelah tanaman siap panen, daun dipetik dengan pola tertentu agar tidak merusak pohon,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa hasil penyulingan minyak kayu putih dari Desa Lalangon tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal.

“Hasil minyak kayu putih yang telah melalui proses penyulingan dan pengujian mutu kemudian dikirim ke cabang Perhutani di Pamekasan untuk selanjutnya didistribusikan,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa ketelitian dalam mengatur suhu, waktu penyulingan, serta kualitas bahan baku sangat menentukan mutu minyak kayu putih yang dihasilkan.

Melalui pengamatan langsung terhadap proses penyulingan, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga belajar tentang keterkaitan antara ilmu pengetahuan, lingkungan, dan ekonomi lokal. Kegiatan ini sekaligus melatih kemampuan literasi kritis siswa, khususnya dalam mengamati, mencatat, dan mengolah informasi faktual menjadi pemahaman yang utuh.

Salah satu anggota tim literasi, Syahriyatul, siswi kelas XI, mengungkapkan kesannya,

“Dengan melihat langsung proses penyulingan, saya jadi lebih memahami bagaimana pelajaran sains diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sangat menarik dan membuka wawasan.”

Sementara itu, Andin, siswi kelas X, menyampaikan rasa antusiasnya mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya senang bisa belajar di luar kelas. Ternyata potensi daerah kita sangat besar dan bisa menjadi sumber pengetahuan sekaligus ekonomi,” ujarnya.

Penanggung jawab kegiatan, Ibu Aisyah, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas sambutan yang diberikan oleh pihak Perhutani.

“Kami merasa sangat senang karena kunjungan literasi ini diterima dengan baik oleh Perhutani. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” tuturnya.

Melalui kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani ini, SMAS Plus Miftahul Ulum berharap peserta didik mampu mengembangkan budaya literasi yang kontekstual, kritis, dan bermakna, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap potensi serta kearifan lokal daerah.

Sabtu, 03 Januari 2026

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Ilustrasi menulis (sumber: penerbitdepublish.com)

Belajar bukan sekadar menghitung berapa halaman yang dibaca, bukan pula tentang tumpukan soal yang selesai dikerjakan atau deretan tugas yang dikumpulkan tepat waktu. Belajar adalah apa yang benar-benar tinggal di dalam diri: pemahaman yang mengendap, karakter yang perlahan terbentuk, serta kebiasaan berpikir yang terus bertumbuh. Di ruang belajar—baik kelas, pesantren, maupun forum ngaji—kita sejatinya sedang membangun lebih dari sekadar pengetahuan. Kita menata cara berpikir, membiasakan kesabaran, dan melatih kejujuran pada proses. Karena itu, ilmu tidak pernah berjalan sendiri; ia selalu berdampingan dengan adab. Sebagaimana doa yang sering kita langitkan, semoga ruang belajar menjadi taman keberkahan: tempat adab mendahului ilmu, sabar mengiringi prestasi, dan akhlak mulia tumbuh bersama kecerdasan.

Dalam konteks inilah, perjalanan dari membaca menuju menulis menjadi penting—sebuah peralihan dari sikap konsumtif menuju produktif. Dalam Ngaji Jurnalistik bersama Ning Vivi Nafidzatin Nadhor, satu pesan kuat ditekankan: jangan berhenti sebagai pembaca yang baik, tetapi jadilah penulis yang bertumbuh. Membaca yang sejati tidak berhenti pada halaman terakhir; ia berlanjut pada proses memfrasekan ulang, mengendapkan makna, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Dari proses inilah tulisan yang hidup lahir, bukan sekadar rangkuman, melainkan refleksi yang bernapas.

Salah satu metode sederhana namun kuat untuk melatih proses tersebut adalah dengan menentukan satu tema besar—misalnya pesantren—lalu mengumpulkan sekitar empat puluh kata kunci yang berkaitan, seperti santri, ngaji, khidmat, kiai, tirakat, adab, dan sabar. Setiap kata kemudian diuraikan menjadi refleksi dan deskripsi yang mendalam. Dengan cara ini, empat puluh kata tidak lagi sekadar kosakata, melainkan pintu menuju ratusan halaman makna. Menulis pun menjadi lebih terarah, tidak membingungkan, dan terasa membumi.

Namun, menulis tidak pernah menunggu inspirasi datang. Banyak orang ingin menulis, tetapi terjebak menanti mood yang sempurna. Padahal, waktu terbaik untuk menulis hanya satu: sekarang. Menulis ibarat mengayuh sepeda; ketika berhenti, kita kehilangan keseimbangan, tetapi ketika terus mengayuh, kita akan sampai meski perlahan. Karena itu, karya terbaik bukanlah karya paling indah, melainkan karya yang selesai. Pada titik tertentu, menulis bahkan menjadi terapi—sebuah healing productivity—cara menyembuhkan diri dengan berkarya, menumpahkan keresahan, mengurai pengalaman, dan merawat batin melalui kata-kata.

Dari para penulis, kita belajar bahwa kekuatan tulisan sering lahir dari kesederhanaan yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Tere Liye, misalnya, menunjukkan pentingnya bahasa yang lugas, kalimat efektif, dan konsistensi latihan. Kepala penulis harus terus diisi dengan bacaan, riset, dan pengalaman hidup agar tulisan memiliki “isi”. Sementara itu, Raditya Dika mengajarkan bahwa cerita yang kuat kerap berawal dari satu premis kalimat yang jelas. Draf pertama tidak harus sempurna—bahkan boleh berantakan—karena revisi adalah ruang tempat keindahan dilahirkan. Tulis, perbaiki, lalu tulis lagi. Sejalan dengan itu, Bruce Lee mengingatkan bahwa ketekunan jauh lebih menakutkan daripada bakat sesaat; satu kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengalahkan ribuan rencana yang tak pernah dimulai.

Pada akhirnya, menulis adalah jalan untuk bertumbuh. Ia bukan semata tentang ingin terkenal atau diterbitkan, melainkan cara belajar yang paling jujur. Dengan menulis, kita tahu apa yang benar-benar kita pahami, apa yang masih kosong, dan apa yang sedang kita cari. Ketika lelah, kita belajar berhenti sejenak tanpa menyerah. Ketika keliru, kita merevisi tanpa menyesali. Ketika berhasil, kita bersyukur tanpa jumawa. Sebab belajar dan menulis bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita bertumbuh sepanjang perjalanan.

Jumat, 02 Januari 2026

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

 

Ilustrasi ayah dan anak

“Kinaaaa! Sudah jam enam. Ayo cepat berangkat!”

Suara ayah memecah pagi.

Lepp!—roti dan telur mata sapi yang tinggal segigit langsung masuk ke mulut.

“Iyaaa, Yah,” jawabku dengan mulut penuh.

Kaos kakiku kutarik kuat-kuat. Syuuuut! Menutupi betisku sampai lutut. Kaos kaki ini warisan ayah. Kata ayah, kaos kaki bapak-bapak itu tebal dan tidak mudah sobek. Hanya saja sudah melar di bagian atas. Supaya tidak melorot, kuikat dengan karet gelang warna-warni.

Tas kusempitkan di bahu, lalu kutaruh di keranjang sepeda. Aku meraih tangan ayah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab ayah sambil mencium pipi kanan dan kiriku.

Kami tinggal berdua. Ayah adalah orang tuaku satu-satunya. Ia bekerja sebagai pegawai TU di sebuah sekolah dengan gaji yang tak seberapa, tapi selalu cukup membuatku merasa punya segalanya.

Aku mengayuh sepeda Phoenix-ku, sepeda bekas dari Pasar Bangkal, tapi gagah di mataku. Hasil jerih payah ku menabung. Ayah mengecat ulang bagian-bagian yang karatan. Katanya, yang penting masih kuat dan kokoh.

Sampai di jalan besar, aku menoleh kanan kiri, memastikan tak ada motor meluncur dari arah Asta Tinggi. Desaku, Banasokon, berada di dataran tinggi Kebonagung, Sumenep. Di puncak bukit itulah makam raja-raja Sumenep berada, tempat tua penuh cerita yang sering ayah kisahkan dengan suara pelan dan mata serius.

“Nanaaaa!”

Aku menghentikan sepeda di depan rumah putih.

Eboknya Nana sedang menyapu teras.

“Kina, masuk saja. Nana masih makan.”

“Enggih,” jawabku.

Ku standar Phoenix-ku, kucium tangan ebok, lalu masuk ngeloyor mencari Nana.

“Hai, Kina, siniii!”

Nana memanggil sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan kerupuk ke mulutku.

“Hmppph!”

Refleks aku ikut mangap. Suapan dari Nana langsung masuk ke mulutku. Nana tertawa. Pipinya gembul, empluk, dengan lesung pipit yang dalam. Setiap dia tertawa, matanya seperti hilang; tinggal dua garis lengkung saja. Temanku ini selalu lucu kalau tersenyum.

“Ayok cepat,” bujukku.

“Oke, oke!” Jawabnya. 

Ia meneguk air minum dari gelas bulat bertuliskan NUVO. Setelah itu kami buru-buru naik sepeda masing-masing.

Sampai di pertelon menuju jembatan Kebonagung, seseorang berteriak dari seberang jalan.

“Kinaaaa! Mampir sini!”

Aku menoleh.

Mbah Sumi berdiri di depan gubuk kecilnya, tubuhnya agak tertatih, tangannya melambai-lambai ke arahku.

“Aduh, bisa telat nih,” bisik Nana.

“Ayok, Kin, sudah hampir upacara.”

Aku gelagapan.

“Mbahhh Sumi, nanti yaaa. Pulang sekolah aku mampir,” teriakku.

Mbah Sumi adalah penjual pisang yang tinggal sendirian di gubuk pinggir jalan Asta Tinggi. Entah sejak kapan ia di sana. Tak pernah kulihat anak, suami, atau saudara menemaninya. Aku mengenalnya karena ayah sering membeli pisang darinya untuk pakan burung. Ayah memelihara banyak burung, sepuluh sangkar, delapan berjejer di teras, dua di dapur.

Aku kembali mengayuh sepeda. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang.

Mbah Sumi masih berdiri, memandang ke arahku.

Aku mengangguk kecil.

Nanti saja… pulang sekolah.

Kami tiba di sekolah hampir telat. Pak Mat, tukang kebun merangkap satpam, sudah berdiri di gerbang.

“Pak Mat, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam, Kina. Hampir Bapak tutup gerbang ini.”

Aku nyengir kuda. Bibirku bergerak tanpa suara, makasih.

Kami berbaris di lapangan.

“Yang tinggi di depan,” kata Pak Ainul.

Nana mendorongku ke depan.

“Panas…” bisikku.

“Tapi kamu tinggi, Kin,” jawabnya asal.

Huffh. Beginilah nasib bertubuh jangkung. Ada plus minusnya. Plusnya, kalau mau ambil buah kersen, aku tak perlu cari galah. Tinggal hupp! tarik ranting terdekat.

Waktu terasa berjalan lambat. Akhirnya bel pulang berbunyi. Alhamdulillah. Jam menunjukkan pukul 13.00. Aku memasukkan buku sekenanya ke tas.

Panas… panas sekali.

Di parkiran sepeda aku menoleh ke sana-sini mencari Nana. Tak lama ia berlari kecil menghampiriku. Kami pulang bersama.

Jalan pulang jauh lebih berat. Tanjakan terasa panjang, matahari tepat di atas kepala. Aspal tampak seperti berair, menyilaukan mata. Sepedaku berderit kreek… kreek… mengikuti kayuhanku yang melemah.

Di jembatan Kebonagung aku turun, menuntun sepeda. Napasku tersengal.

“Aku nggak kuat,” kataku.

Nana ikut turun.

“Pengen minum es,” rajuknya.

Aku mengangguk sambil mengusap peluh dengan kerudung. Bau kecut. Asemm!

Saat turunan, aku kembali naik sepeda. Dari kejauhan terlihat orang berkerumun.

“Ada apa ya?” Nana menoleh padaku.

Aku mengangkat bahu.

“Lihat yuk,” ajaknya.

Kami mendekat. Orang-orang berkumpul di depan gubuk Mbah Sumi.

“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak bersarung.

“Buk Sumi adinggel omor.”

Hah?

Dunia seperti berhenti.

Bagai petir di siang bolong.

Pagi tadi…

Mbah Sumi memanggil namaku.

Melambai.

Menungguku.

Mataku berkabut. Airnya tumpah tanpa izin.

“Mbah Sumi…” isakku.

Nana mendekap bahuku erat.

Kenapa harus ditunda?

Kenapa tadi aku tidak mampir?

Sekadar menyapa. Sekadar salim. Sekadar bertanya, mbah ada apa?

Penyesalan merayap pelan, menusuk-nusuk hatiku.

Sejak hari itu aku belajar:

tidak semua panggilan bisa menunggu,

tidak semua “nanti” diberi kesempatan kedua.

Dan sekarang setiap kali aku melewati jalan itu,

aku selalu teringat satu lambaian tangan

yang tak pernah sempat kusambut. 

Al fatihah untuk Mbah Sumi. 💫


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 01 Januari 2026

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Bergembira dengan kokurikuler sekolah

Liburan telah usai, lonceng sekolah kembali berbunyi, dan ruang-ruang kelas kembali dipenuhi peserta didik dengan beragam cerita serta harapan baru. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi tanda dimulainya aktivitas belajar, tetapi juga saat yang tepat untuk merenungkan kembali hakikat pembelajaran itu sendiri.

Belajar dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah yang melibatkan hati, akal, dan perilaku. Al-Qur’an menegaskan pentingnya ilmu yang disertai kesadaran dan pemahaman, sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa belajar dalam Islam bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan spiritual dan moral. Inilah yang sejalan dengan konsep deep learning (pembelajaran mendalam) yang menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sehingga ilmu tidak berhenti di pikiran, tetapi menggerakkan hati dan amal.

Pembelajaran Berkesadaran: Belajar sebagai Ibadah

Prinsip berkesadaran mengajak peserta didik untuk memahami tujuan belajar secara utuh. Dalam Islam, kesadaran ini dimulai dari niat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Belajar dengan kesadaran berarti menyadari bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah dan sarana untuk memperbaiki diri serta memberi manfaat bagi orang lain. Ketika kesadaran ini tumbuh, peserta didik tidak belajar karena terpaksa, melainkan dengan tanggung jawab dan keikhlasan.

Kesadaran yang terbangun akan menuntun peserta didik untuk memahami ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia tetapi juga akhirat. "Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang berdoa untuknya." (HR. Muslim)

Pembelajaran Bermakna: Tantangan Sekolah Saat Ini

Pembelajaran bermakna terjadi ketika ilmu tidak berhenti pada hafalan, tetapi dipahami, dikaitkan, dan direnungkan. Al-Qur’an mendorong umatnya untuk terus berpikir dan mengambil pelajaran:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)

Dalam pendidikan Islam, pembelajaran bermakna mengajak peserta didik untuk mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata, nilai moral, dan tujuan hidup. Ketika peserta didik memahami makna kejujuran, ia belajar berlaku jujur. Ketika mempelajari kesabaran, ia mampu mengendalikan diri. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di ingatan. Dengan pemahaman demikian insyaallah tidak akan ada lagi istilah sekolah tetapi tidak belajar. 

Pembelajaran Menggembirakan: Ilmu yang Menenangkan Jiwa

Islam memandang belajar sebagai aktivitas yang membawa ketenangan dan kebahagiaan. Rasulullah ﷺ mengajarkan agama dengan kasih sayang, dialog, dan suasana yang menyejukkan. Allah Swt. berfirman : 

"Allah  menghendaki  kemudahan  bagimu,  dan  tidak  menghendaki  kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 18)

Prinsip pembelajaran menggembirakan yang diterapkan saat ini sejalan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, dan membangkitkan rasa ingin tahu. 

Ketika peserta didik merasa dihargai dan bahagia, mereka lebih terbuka untuk belajar secara mendalam. Kegembiraan bukan berarti tanpa kesungguhan, tetapi suasana positif yang membuat ilmu mudah diterima dan diresapi.

Momentum kembalinya peserta didik ke sekolah setelah liburan adalah saat yang tepat untuk menata ulang arah pembelajaran. Prinsip pembelajaran mendalam bukan konsep baru dalam Islam, melainkan ruh pendidikan yang telah lama diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah ﷺ. Ketika sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, maka pendidikan akan kembali pada hakikatnya: menghidupkan hati, mencerdaskan akal, dan menuntun manusia dari ilmu menuju amal.

PENGELOLA SMAS PLUS MU

Rumzil Azizah, M.Pd

(Kepala)

Nilta Najmur R., M.Pd

(W. Kurikulum)

Tutik Herawti, S.Pd

(W. Kesiswaan)

Hisbullah Huda, SH.I

(W. Sarpas)

Moh. Hariyanto

(W. Humas)

Sofiyatul Husna

(Bendahara)

Hairul Jamal

(K. TU)

MOH. NUR

(OPS)

Maps Dan Kontak

Jika ada yang ingin ditanyakan silahkan kirim E-Mail, WA dan bisa berkunjung ke alamat dibawah ini

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Featured