Minggu, 17 Mei 2026

MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

Ilustrasi (Foto: Aditya Aji/AFP viahttps://www.trenmedia.co.id/)

(Akhir tahun memang selalu membuat was-was khususnya tahun ini. Pasalnya hujan dan angin selalu datang beriringan, bencana datang. Tragedi bencana alam tanggal 25 November 2025 menjadi bukti nyata bahwa akhir tahun menyimpan ceritanya sendiri dalam kalender akhir tahunku. Terkhusus Pulau Sumatera, aku mempunyai catatan sendiri tentang bencana alam karena mengingatkanku pada tahun 2004 saat tsunami menerjang Aceh karena bertepatan dengan ulang tahunku. Bencana di Sumatera tidak lahir dengan sendirinya, tetapi campur tangan manusia memberikan andil besar. Puisi ini lahir karena perkara ini sebagai bentuk catatan untuk kesadaran.)

Bulan November memasuki akhir

Aku mendongak meramal cuaca di pelataran rumah

Kataku dalam hati :

Biasanya akhir tahun angin kencang dan hujan

Sambil mengisap lingting rokok yang tinggal separuh

Dengan trauma kambuhanku,

Teringat pula tahun dua ribu empat

Tsunami menggulung Aceh

Tanggal dua puluh enam desember[1]

Tepat hari ulang tahunku

Rakyat berduka, Indonesia berduka.

Aku yang waktu itu menonton lewat televisi tetangga mengelus dada

 

Kini, di akhir tahun kembali

Aceh dan daerah sumatera lainnya kembali menangis dengan air[2]

Air bah yang melumat semuanya

Air mata kehilangan

Air mata kesedihan

Air mata doa

Air mata harapan

Seribu dua ratus lebih orang meregang nyawa[3]

Ratusan ribu orang mengungsi

Sementara yang lain ada yang mencuri simpati

Biar dikira peduli, memilukan diri lalu selfie

 

Mengapa tak pernah sadar?

Ada yang beda dari dua bencana ini

Satu karena alam, satunya campur tangan manusia

Kayu gelondongan menggelinding

Hutannya dibabat diganti sawit-sawit

Mineralnya diambil

Kapan sumatera akan damai?

 

Perlu kiranya duduk di teras rumah

Mengaji tanah dan hujan

Mengaji langit dan bumi

Mengaji air dan api

Agar semuanya seimbang[4]

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal dengan bahasa yang paling sederhana

Seorang penyanyi telah mengingatkan

“Mengapa di tanahku terjadi bencana?”[5]

Bertahun-tahun lagu ini tetap di putar

Kadang menjadi backsound gambar atau video duka di medsos

Sayangnya lagu ini jadi teman penikmat senja

Pembaca infografik keuntungan

Tanpa membaca kerugian untuk alam dan anak cucu

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal ucapan:

Selamat hari bumi

Selamat hari lingkungan hidup

Selamat hari air

Selamat hari udara

Dan hari-hari selamat lainnya yang banyak sekali

Justeru tidak menyelamatkan dari bencana

Poster dan ucapan dishare dari jari ke jari

Tapi tak sampai pada sanubari

 

Sumatera bukan anak kecil yang pura-pura menangis

Jika dibelikan balon dan permen kemudian diam

Sumatera adalah ruang belajar yang tak pernah dipelajari

Dari Suku Anak Dalam harusnya belajar[6]

Satu kehidupan satu pohon ditanam

Pada mereka harusnya belajar

Mengelola kidupan tanpa keserakahan

Pada mereka harusnya belajar

Untuk kembali mencintai bumi secara kaffah

 

 

 

 

Referensi

1Tsunami Aceh 2004 Kronologi, Korban, dan Reformasi Penanggulangan Bencana

2https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251127135953-20-1300085/fakta-fakta-banjir-besar-kepung-aceh-sumut-hingga-sumbar.

3 Tragis! BNPB Sebut 1.200 Orang Tewas dalam Bencana Sumatera 

4 Thales: “Keseimbangan sebagai Inti Keberadaan Alam Semesta"

5 Lirik Lagu Ebiet G. Ade - Berita Kepada Kawan dan Maknanya Bertema Musibah Alam | kumparan.com

6 Belajar Melestarikan Tradisi dan Menjaga Alam dari Suku Anak Dalam

 



[1] Pada 26 Desember 2004, sekitar pukul 07:58 WIB, sebuah gempa bumi dengan kekuatan luar biasa mengguncang kawasan Samudra Hindia, sekitar 250 kilometer barat daya Aceh. Gempa ini tercatat memiliki magnitudo 9,1-9,3 Skala Richter (SR), menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Di Aceh, lebih dari 167.000 orang tercatat tewas, dengan ribuan lainnya terluka dan hilang. 

[2] Banjir dan longsor parah melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar) menimbulkan korban jiwa hingga memutus akses komunikasi dan transportasi.

[3] Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak akhir November 2025 hingga 20 Januari 2026

[4] Menurut Thales, alam semesta bekerja secara harmonis melalui interaksi elemen-elemen seperti air, tanah, udara, dan api. Ketidakseimbangan di antara elemen-elemen ini dapat menyebabkan kekacauan

[5] Salah satu karya Ebiet G. Ade yang sangat terkenal tentang musibah adalah Berita Kepada Kawan. Ebiet G. Ade ungkap bencana alam tersebut untuk mengintropeksi diri.

[6] Suku Anak Dalam bermukim di Pelepat, Bungo, Jambi. Masyarakat yang biasa disebut sebagai Orang Rimba ini terus menjaga tradisi nenek moyangnya, di mana nilai-nilai kehidupan tertinggi adalah menyatu dan bersahabat dengan alam.

Sabtu, 09 Mei 2026

Lepas Kenang Penuh Makna, SMAS Plus Miftahul Ulum Tekankan Ilmu dan Nilai Spiritual

Lepas Kenang Penuh Makna, SMAS Plus Miftahul Ulum Tekankan Ilmu dan Nilai Spiritual

Foto bersama lepas kenang siswa kelas XII


Suasana haru dan penuh kebanggaan menyelimuti kegiatan lepas kenang siswa kelas XII SMAS Plus Miftahul Ulum yang digelar pada Jumat, 8 Mei 2026. Kegiatan tersebut menjadi momentum emosional bagi para siswa, guru, dan orang tua dalam melepas 99 siswa-siswi menuju jenjang kehidupan yang lebih luas.

Acara berlangsung khidmat dengan berbagai penampilan persembahan siswa, penyampaian pesan dan kesan, serta prosesi pelepasan yang dipenuhi suasana haru. Tidak sedikit siswa dan guru yang tampak meneteskan air mata ketika mengenang perjalanan panjang selama menempuh pendidikan di sekolah tersebut.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya atas kelulusan para siswa. Saat ditemui tim redaksi, ia menegaskan bahwa kelulusan bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal untuk menghadapi kehidupan yang lebih besar.

“Hari ini, dengan rasa syukur dan bangga, kami melepas 99 siswa-siswi kelas XII SMAS Plus Miftahul Ulum. Ini bukanlah akhir perjalanan, tetapi awal dari langkah baru menuju kehidupan yang lebih luas,” ujarnya.

Ia juga memberikan pesan motivasi yang disambut antusias para siswa.

“Anak-anakku yang saya banggakan, lulus bukan akhir, ini baru level up. Setiap capaian bukan untuk berhenti, tetapi untuk naik menuju tangga kehidupan berikutnya,” tambahnya.

Dalam pesannya, ia turut mengingatkan pentingnya meluruskan niat dalam setiap langkah kehidupan dengan mengutip sebuah ungkapan penuh makna:

مَا كَانَ لِلَّهِ يَبْقَى، وَمَا كَانَ لِغَيْرِهِ يَفْنَى

“Apa yang dilakukan karena Allah akan tetap bernilai, dan yang bukan karena-Nya akan sirna.”

Menurutnya, nilai spiritual dan ketulusan menjadi fondasi penting bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman yang semakin kompleks.

Di lain pihak, Wakasek Kesiswaan Tutik Herawati juga menyampaikan rasa bangga terhadap para siswa yang telah menyelesaikan pendidikan dengan penuh perjuangan.

“Melihat anak-anak mampu sampai di titik kelulusan hari ini adalah kebahagiaan tersendiri bagi kami para guru. Kami menyaksikan bagaimana mereka bertumbuh, belajar menghadapi tantangan, dan berproses menjadi pribadi yang lebih dewasa,” tuturnya.

Ia berharap para lulusan tidak berhenti belajar dan terus menjaga nama baik almamater di mana pun berada.

“Kami berharap lulusan SMAS Plus Miftahul Ulum tidak hanya unggul dalam akademik, tetapi juga memiliki akhlak, tanggung jawab, dan semangat untuk terus belajar. Jangan pernah merasa puas hanya karena sudah lulus SMA. Teruslah melangkah, gapai cita-cita setinggi mungkin, dan jadilah generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan agama,” lanjutnya.

Lepas kenang tahun ini bukan sekadar seremoni perpisahan, tetapi menjadi ruang refleksi atas perjuangan panjang para siswa selama menempuh pendidikan. Di tengah derasnya tantangan zaman, sekolah berharap para lulusan mampu menjadi generasi tangguh yang tetap memegang nilai moral, spiritual, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Jumat, 08 Mei 2026

Ngopene Bhasa Ebhu menangka Tareka Ngajhum Bhangsa

Ngopene Bhasa Ebhu menangka Tareka Ngajhum Bhangsa

Amaliyah Hasanah saat menerima penghargaan


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillahirabbil alamin wabihi nasta'inu ala umuriddunya waddin wassholatu wassalamu ala asyrofil anbiya'i wal mursalin sayyidina Muhammadin wa ala alihi wa shohbihi ajma'in. Amma ba'du.

Saleraepon se molja dewan juri...

Kaonjuga saleraepon para guru...

Para Rabu se same-same emolja'agi Allah.

Kabidhan ator, ngereng areng-sareng ngatorraghi okara pojhi sokkor alhamdulillah da’ ajunannepon Allah se amorbha jhaghat, amargha bhadhan kaula sareng para ajunan salgghi’ kapareng bherkat omor, se abhunggher cengngar bhinar pada sama Rambha.

Sholawat sareng salam samoga'a tettep eatoragi dha' ajunan se molja Nabi Muhammad SAW, se kaonang ate tennang, kaponjuk sadaja ummat tor se ampon andaddiyagi obur sareng kaca kebbang dha' kaula sadaja e dunyya kantos akherat.

Sakone' kaula maemot dha' ajunan sadaja ja' basa Madura ka'dhinto ampon on-laon elang dhari oca' re-sa’are, husussepon neng Kottha Songennep. Aponapa ma' ekoca'agi elang on-laon? Amarga ampon bannya' na'-kana' ngongodhadan se arassa todhus aguna'agi Bhasa Madura. Bannya' oreng seppo se ampon ngajari pottrana Bhasa Inggris, Bhasa Jerman tor laennepon, ta' sakone' potra-potre madura se epatoman abhasa Indonesia, la-mala ampon ekabidi dhari na'-kana' TK.

Para Rabu se same molja,

Ngopene bhasa Madhura dalem hal paneka bhasa ebhu, banne ghun pakakas dalem abhanta da’ pasera’a bisaos, bhasa ebhu paneka tamonena nyaba, gambarranna ate, serta wujud dari karakter settong bhangsa. Bada dalem oca’ parebhasan, “Bhasa notthuwaghi Bhangsa” searte epon manabi Bhasana sae, maka dhrajhaddha bhangsana jhughan tengghi. Manabi Bhasana elang, maka jathidhiri otaba identitas bhangsa kasebbhut jhughan bakal elang.

Para Rabu se same molja,

Tantangan meyara bhasa Madhura edalem jaman samangken sajan berra’, bannya' na'-kana' ngongodhadan se ampon ngarassa kerras otaba todhus aghuna’aghi Bhasa Madhura se sae. Mela darika’dinto da’pasera’a bisaos wajib ka angguy arabat bhasa ebhu tor bangaseppo se ampon para' tadha’a, katopowan sareng bhasa se dhari lowar, bhasa se kasambat gaul tor samacem mepon. Kadinapa carana arabat bhasa sopaja tettep kalonta? Ngereng kabidi baja samangken, areng-sareng gadhuwan neyat ikhlas kaangguy merte tor gumate dhalem malanggeng tor masekken bhasa Madura.

Para rabu se same parjuga.

Menorot pamanggi badan kaula enggi ka'dhinto badha tello' tareka se kodu epeyara tor epatombu nojju bagussa kabadha'an magarsare se bakal dhateng se akor sareng ngajum bhangsa matombu bhasa;

Se sapesan: nyara pabinareng, ngobbar gumate para moret sopaja ajar bhasa Madura se lerres. Same-same alampa'agi ondhagga basa se ampon akor sareng atoran. Se ebukteyagi kalaban abadhi kasaroju’an e sakola’an, contoepon program JAMU (Jhum’at Amadhura) seka’dimma guru sareng mored ewajibbaghi aguna’agi Bhasa Madhura e sabben are Jum’at.

Se kapeng dhuwa’ enggi ka’dhinto; molae dhari aba’ dibi’, guna’agi Bhasa Madura e compo’ bang-sebangnga, pabiyasa tor-mator kalaban Bhasa Madura, ka potra/potre, ka oreng seppo tor tatangga (magarsare). Kantos Bhasa Madura ka’dhinto kapereng terros e antarana bhasa-bhasa manca.

Se kapeng tello’; manfa’attaghi Media Sosial khusus na'-kana' ngongodhadan kangguy ngenallaghi kabhaghusanna Bhasa Madhura tor kabhudhajhan saengghana kalonta dha’ naghara manca.


Para rabu se same parjuga.

Manabi bhadankaule sareng ajunan meyara bhasa ebhu, engghika’dinto ampon ajagha tangka ban budhajha Madhura, Manabi budhajana kowat, maka nagara paneka bhakal kowat. Bhangsa se molja paneka bhangsa se malepen ka asal-osolla, se ta’ loppa da’ Bhasa lesanna ebhuna dhibi’. Tor pangarep e bingkeng are Bhhasa Madhura bakal tettep daddi basa Ebhu se ta’ bhakal elang sampe’ aher jaman. Paleng bunten song-osong lambung, areng-sareng nyo’on Lella, petodu, kakowadan tor kalodhangan dhari Allah se Maha Pangaraksa kantos basa Madura daddi basa sekalonta.

Para rabu se same parjuga. 

Saka'dhinto tor-ator dhari badan kaula. Sakone', namong moga abakta'a barokah tor kasaeyan dha' kaula sadaja, manabi badha aeng seramma Lorong, panabussa teppal pamator jugan korang sonduk dha' panggaliyan para pangrabu abdina nyo'ona pangapora.

Du ma' ellang-ellang bhiru

Tada' ellang maradhara

Du ma' palang-palang gellu

Mon pas elang bhasa Madura

Wassalamualaikum wr.wb


* Teks pidato Amaliyah Hasanah yang mengantarkannya memenangi lomba pidato bahasa Madura tingkat Kabupaten Sumenep

Senin, 04 Mei 2026

SISWI SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM RAIH JUARA 1 LOMBA PIDATO BAHASA MADURA TINGKAT KABUPATEN SUMENEP

SISWI SMAS PLUS MIFTAHUL ULUM RAIH JUARA 1 LOMBA PIDATO BAHASA MADURA TINGKAT KABUPATEN SUMENEP

Sumenep – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh peserta didik SMAS Plus Miftahul Ulum. Amaliyah Hasanah, siswi kelas X-E, berhasil meraih Juara 1 dalam Lomba Berpidato Bahasa Madura tingkat SMA, SMK, dan PK-PLK Negeri/Swasta se-Kabupaten Sumenep.

Ajang bergengsi yang diselenggarakan oleh Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Kabupaten Sumenep ini berlangsung pada tanggal 18 April hingga 1 Mei 2026. Kompetisi tersebut diikuti oleh berbagai sekolah terbaik, sehingga keberhasilan ini menjadi pencapaian yang sangat membanggakan.

Keberhasilan Amaliyah Hasanah tidak terlepas dari kerja keras, latihan yang konsisten, serta dukungan dari guru pembimbing dan pihak sekolah. Kemampuan berbahasa daerah yang baik serta penguasaan materi pidato menjadi kunci utama dalam meraih prestasi tersebut.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd. turut memberikan apresiasi atas capaian gemilang ini. Dalam keterangannya beliau menyampaikan, “Kami dengan tulus menyampaikan apresiasi dan rasa bangga atas capaian tersebut. Keberhasilan Lia dinilai tidak hanya mengharumkan nama sekolah, tetapi juga menjadi kontribusi nyata dalam melestarikan bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya.

Selanjutnya kami berharap prestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi seluruh peserta didik yang lainnya untuk terus berusaha, berprestasi, serta menanamkan niat yang baik dalam setiap aktivitas, sehingga setiap langkah yang dilakukan bernilai ibadah dan membawa keberkahan.”

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi siswa-siswi lainnya untuk terus mengembangkan potensi diri, khususnya dalam bidang kebahasaan dan pelestarian budaya lokal. SMAS Plus Miftahul Ulum berkomitmen untuk terus mendukung peserta didik dalam meraih prestasi di berbagai bidang.

Minggu, 19 April 2026

Prestasi Membanggakan, Karya Inovasi Guru SMAS Plus Miftahul Ulum Masuk 50 Besar EJIES 2026

Prestasi Membanggakan, Karya Inovasi Guru SMAS Plus Miftahul Ulum Masuk 50 Besar EJIES 2026

Sumenep, 19 April 2026. SMAS Plus Miftahul Ulum kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah pendidikan Jawa Timur. Salah satu guru terbaiknya, Aisyah Fiyanti, S.Pd., berhasil masuk dalam 50 Besar Karya Inovasi Terbaik EJIES 2026 melalui karya inovatif bertajuk “Pemanfaatan Canva Code AI dalam Pembuatan Kalkulator Kimia pada Materi Konsep Mol.”

Capaian ini menjadi bukti nyata bahwa inovasi dalam dunia pendidikan terus berkembang, seiring dengan pemanfaatan teknologi digital yang kreatif dan relevan dengan kebutuhan pembelajaran masa kini. Karya yang diusung Aisyah tidak hanya menawarkan solusi praktis dalam pembelajaran kimia, tetapi juga menjadi contoh bagaimana guru dapat mengintegrasikan teknologi berbasis kecerdasan buatan untuk meningkatkan pemahaman siswa.

Dalam keterangannya, Aisyah Fiyanti mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas pencapaian tersebut.

"Saya merasa sangat terharu dan bersyukur, berada di titik ini merupakan buah dari dukungan banyak pihak. Hal ini juga pengingat bagi saya untuk tetap rendah hati dan terus belajar. Mohon doa restunya agar saya dapat menjalani proses ke tahap selanjutnya dengan hasil yang maksimal," tuturnya.

Sementara itu, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., memberikan apresiasi tinggi atas prestasi yang diraih.

"Alhamdulillah, capaian Ibu Aisyah Fiyanti, S.Pd masuk 50 Besar Karya Inovasi Terbaik EJIES Jawa Timur 2026 menjadi penanda awal keberhasilan guru SMAS Plus Miftahul Ulum di ajang EJIES. Ini bukan sekadar prestasi individu, tetapi langkah pembuka, pijakan pertama, dan energi penggerak bagi lahirnya inovasi-inovasi guru berikutnya," ungkapnya.

Ia juga menambahkan bahwa keberhasilan ini menunjukkan kesiapan guru SMAS Plus Miftahul Ulum untuk bersaing dan berprestasi di tingkat yang lebih luas.

"Dari sini kita belajar bahwa dengan semangat tumbuh, bergerak, dan berdampak, guru mampu menghadirkan karya yang diperhitungkan. Bahwa guru SMAS Plus Miftahul Ulum siap berkarya dan berprestasi di ruang yang lebih luas. Semoga ini menjadi awal dari banyak capaian berikutnya. Aamiin Allahumma Aamiin," pungkasnya.

Prestasi ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika untuk terus berinovasi dan berkontribusi dalam memajukan dunia pendidikan, khususnya dalam menghadapi tantangan era digital. SMAS Plus Miftahul Ulum pun semakin meneguhkan komitmennya sebagai lembaga pendidikan yang adaptif, kreatif, dan berorientasi pada masa depan.

Minggu, 08 Februari 2026

Hadiri Wisuda VII STAI Miftahul Ulum, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum Ucapkan Selamat

Hadiri Wisuda VII STAI Miftahul Ulum, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum Ucapkan Selamat

 

(Sumber : Dok. Pribadi) 

Sumenep — Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., menghadiri undangan Wisuda ke-VII STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep (Sabtu, 07/02/2026) yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Kehadiran tersebut menjadi wujud dukungan sekaligus penguatan hubungan kelembagaan antara SMAS Plus Miftahul Ulum dan STAI Miftahul Ulum yang berada dalam satu naungan yayasan.

Acara wisuda ini diikuti oleh para wisudawan dan wisudawati dari berbagai program studi yang telah menyelesaikan pendidikan tinggi mereka. Suasana haru dan kebanggaan tampak mewarnai prosesi wisuda yang menjadi momentum penting bagi para lulusan dalam menapaki jenjang kehidupan selanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Rumzil Azizah, M.Pd. menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati atas capaian akademik yang telah diraih. Ia berharap para lulusan STAI Miftahul Ulum mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, serta menjadi insan yang berilmu, berakhlak, dan bermanfaat bagi masyarakat.

“Wisuda bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari pengabdian nyata di tengah masyarakat. Semoga para lulusan mampu membawa nilai-nilai keilmuan dan keislaman dalam setiap peran yang dijalani,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa SMAS Plus Miftahul Ulum sebagai lembaga pendidikan menengah yang berada satu yayasan dengan STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep akan terus membangun dan memperkuat sinergi, khususnya dalam bidang pendidikan, pengembangan karakter, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, sinergi antarlembaga pendidikan dalam satu yayasan merupakan modal penting untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan dan terintegrasi, mulai dari jenjang menengah hingga perguruan tinggi.

Dengan terselenggaranya Wisuda ke-VII ini, STAI Miftahul Ulum Pandian Sumenep diharapkan semakin berkontribusi dalam mencetak generasi intelektual yang religius, profesional, dan siap menjawab tantangan zaman.

Jumat, 06 Februari 2026

JAIZ-NYA ALLAH

JAIZ-NYA ALLAH

(Sumber : id.pngtree.com) 

Jarum pendek menunjukkan angka sepuluh ketika handphone suami saya berdering.

“Assalamu’alaikum. Enggih, Bah. Kakdinto. Enggih, ngereng. Enggih, bisa.”

Tuttt… pembicaraan terputus.

Tak lama, suami meraih baju koko abu-abu yang tergantung di belakang pintu.

Wah, mau keluar nih, batin saya.

Saya pun bertanya, setengah berharap, setengah bercanda.

“Mas mau ke mana? Ikutttt…”

Suami menoleh. “Mau ikut?”

“Iyaaaa.” Peluang seperti ini harus segera diambil, sebab suami jarang-jarang ngajak keluar.

“Mas diajak Abah menjenguk Pak Asy’ari, beliau sedang sakit habis operasi.”

“Ya ayo, bawa oleh-oleh untuk buah tangan,” jawab saya sigap.

“Siap, Pak Ketua.”

Saya bergegas ke dapur, mencari tas oleh-oleh. Sambil mengisinya, saya nyeletuk,

“Oiya, beliau tiap kali diundang pondok selalu bawa anaknya yang kecil. Sebenarnya beliau punya anak berapa ya, Mas?”

“Gak tahu,” jawab suami singkat.

Tak lama kemudian, suami kembali bersiap.

“Mas mau keluar sebentar ya.”

“Lah, mau ke mana?”

“Ke Toko Barokah. Mau beli snack dan camilan anak.”

“Buat apa, Mas?”

“Buat anak beliau. Kata adek beliau punya anak kecil. Pasti suka kalau dapat hadiah.”

“Ooo… oke.” Saya mengangguk sambil tersenyum.

Setelah beberes, saya menunggu manis di teras rumah. Matahari sedang terik-teriknya. Beberapa hari ini cuaca memang aneh, kadang hujan seharian, kadang panas tak ketulungan berhari-hari. Dan hari ini, sepertinya saya kebagian jatah panasnya.

Ya sudahlah, saya menghela napas.

“Bremmm…”

Suara Sepeda motor suami berhenti dan terparkir di halaman.

“Yuk, Abah sudah menunggu di gerbang,” katanya.

“Kita naik apa, Mas?”

“Jalan kaki.”

“Hah?”

Alamakkk. Baru saja mengeluhkan panas, sekarang harus jalan kaki.

“Hmm… okelah.”

Saya pun mengekor suami.

“Mas jadi beli apa?”

Ia mengangkat kresek putih yang ditentengnya. Saya mengangguk-angguk.

Rumah Pak Asy’ari yang akan kami datangi cukup dekat, mungkin sekitar tiga ratus meter dari rumah. Jalannya melewati pinggiran sungai. Mungkin itu sebabnya Abah berinisiatif berjalan kaki. Setelah melewati wakaf, sebutan untuk musala kecil yang biasa ada di dekat sungai, sampailah kami di rumah Pak Asy’ari.

“Assalamu’alaikum,” ucap Abah.

Tak ada jawaban. Abah melangkah lebih dalam hingga naik ke teras rumah.

“Assalamu’alaikum,” ulang Abah.

“Wa’alaikum salam,” jawab seseorang dengan suara bergetar dan pelan. Sayup-sayup terdengar kata, “Ya Allah…”

Ternyata seorang nenek duduk di kasur yang terbentang di pojok teras rumah.

“Mau jenguk Asy’ari?” tanya si nenek.

“Enggih. Ponapa bedeh?” Abah balik bertanya.

“Masok… masok!” Nenek mempersilakan kami masuk.

Keadaan rumah gelap dan pengap.

Aduh, dari terang terbitlah gelap, batin saya.

“Asy’ari ada di kamarnya. Masuk… masuk. Asy’ari tidak dapat bangun,” celetuk nenek itu.

Abah dan suami saling celingak-celinguk. Si nenek hanya berdiri di dekat saya, tidak menunjukkan secara jelas di mana kamar Pak Asy’ari berada. Semakin masuk ke dalam, semakin gelap dan pengap.

“Di dalam,” lanjut nenek memberi instruksi.

“Yang ada pintunya.”

Akhirnya Abah dan suami masuk ke dalam kegelapan.

“Semoga berhasil,” doa saya dalam hati sambil tersenyum kecil.

Saya dipersilakan duduk di kursi. Di sekitar saya, beberapa mainan dan pakaian anak bertebaran.

“Dari mana?” tanya si nenek.

“Dari pondok, Nek.”

“Istri Asy’ari sedang keluar. Mungkin menjemput anaknya yang TK.”

Saya mengangguk pelan.

Oh, mungkin nenek ini ibunya Pak Asy’ari, pikir saya.

Beliau tampak sepuh, berperawakan kurus, mengenakan kebaya dan sampir khas nenek-nenek zaman dulu. Di tangannya terpasang gelang perak.

Oh… Bu Hajjah, gumam saya.

Kami terdiam. Saya tak tahu harus membuka percakapan bagaimana.

Tiba-tiba nenek itu bersuara lirih,

“Ya Allah, kenapa Asy’ari yang sakit. Ya Allah, ya Rasulallah…”

Suami saya tiba-tiba keluar dari dalam. Saya tersentak.

“Mau ke mana, Mas?”

“Mau ambil sepeda motor di rumah. Pulangnya Mas mau bonceng Abah ya.”

“Betul-betul-betul!” jawab saya sambil mengacungkan jempol.

Saya kembali duduk. Nenek itu pun melanjutkan cerita, cerita yang menjadi hikmah besar bagi saya.

Usianya sembilan puluh lima tahun. Pendengarannya sudah berkurang banyak. Saya tanya apa, si nenek jawab apa, sering tak nyambung. Tapi justru dari sanalah saya tersentuh.

Setiap ucapannya otomatis berisi kebaikan.

“Semoga anak saya sehat… anak saya berbakti pada saya. Dia tidak akan makan kalau saya tidak makan.”

Ia bercerita, makanan terasa pahit di mulutnya. Tapi anaknya, Pak Asy’ari sabar merawat.

“Mak, kalau tidak makan, saya juga tidak makan,” kata sang anak.

Akhirnya, nenek itu memaksakan diri makan walau pahit demi melihat anaknya ikut makan. Begitu terus setiap hari.

Padahal rumah yang mereka tinggali jauh dari kata mewah.

Nenek itu melanjutkan dengan suara bergetar,

“Ya Allah, kenapa Engkau beri ujian sakit pada anak hamba, bukan kepada hamba yang sudah tua ini? Anak ini berbakti, ya Allah. Sembuhkanlah, sehatkanlah kembali.”

Lalu ia berkata lagi,

“Allah Ta’ala memberi rezeki anak kepada saya banyak. Alhamdulillah, lima belas anak. Lima keguguran. Lima meninggal ketika kecil. Lima yang hidup sampai sekarang.”

“Kalo Allah jaiz, Allah berikan anak. Begitu juga jaiz-nya Allah Ta’ala bisa mengambil anak saya kembali—dengan cara meninggal ataupun keguguran.”

Saya tersentak.

Masya Allah… di usia sembilan puluh lima tahun, beliau lancar mengucapkan sifat jaiz Allah. Bukan hanya hafal istilahnya, tapi memahami dan mengaitkannya dengan perjalanan hidupnya.

Saya yang mengajar tarikh dan tauhid, yang biasa menjelaskan sifat-sifat Allah lengkap dengan dalil, mendadak merasa kosong. Di kelas, saya khusyuk. Tapi dalam keseharian, saya hanya terbiasa berkata, insya Allah, kalau Allah berkehendak, kalau sudah takdir.

Masya Allah.

Beliau juga bernadzar: jika anaknya sembuh, akan dibawa ziarah ke makam Kyai Legung, kakek buyutnya.

Lagi-lagi saya tersentak.

Amalan “orang kona”. Orang-orang tua zaman dahulu.

Mereka mungkin tak melewati pendidikan formal atau madrasah secara sempurna. Tapi ruh keagamaan mereka mendarah daging, menjadi karakter yang terus melekat.

Saya teringat mbah saya. Setiap kali saya sembuh dari sakit, beliau mengajak saya ziarah ke waliyullah. Di Sumenep, ada Asta Tinggi, Bujuk Lanjheng, Astana Sayyid Yusuf.

Setiap kali saya ujian, beliau membuat tajin alias bubur pandan hijau dengan serutan gula Jawa di atasnya untuk diberikan pada guru ngaji dan tetangga kanan kiri.

Setiap pagi, beliau bangun jam dua untuk tahajud. Membaca Al-Waqi’ah, Ar-Rahman, dan Yasin tanpa melihat mushaf. Karena sudah sepuh dan sudah hafal di luar kepala.

Begitu banyak amalan baik yang beliau kerjakan, diam-diam, istiqamah.

Tiba-tiba suara bariton mengagetkan saya.

“Ayok pulang, Dek.”

Suami saya mengajak pulang, disusul Abah yang menutup dengan doa, semoga Pak Asy’ari kembali pulih, sehat wal afiat, dan panjang umur.

Saya melangkah pulang dengan hati yang berbeda.

Terinspirasi .

Sekaligus lebih terang.


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 05 Februari 2026

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA

SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT DAN HIDUP BAHAGIA


SYAIR NASIHAT HIDUP BAHAGIA

Bangun malam menata niat

Ingat Allah hati pun kuat

Hidup singkat janganlah lalai 

Ibadah tulus jadi bekal sampai akhirat


Shalat dijaga waktu dan rasa

Dan dipanjat penuh percaya

Walau cobaan sering datang

Sabar dan ikhlas jadi cahaya


Hormati orang tua dan guru

Lembutkan lisan baikkan laku

Ilmu diamalkan agar tak jadi pilihan

Agar hidup penuh makna dan restu


Mari bersama memperbaiki diri

Dekatkan hati pada ilahi

Semoga kelak Allah rahmati

Bahagia dunia hingga akhir nanti


Ditulis oleh : Ayunita W, Kholifatul H. Fitriyatus S, Nur Azizah A, Siti Nur Asiyah, Anis Alfiyah, Siti Maulidatul M, & Nayla salsabila


SYAIR NASIHAT INGAT AKHIRAT

Ingatlah semua pada akhirat

Tinggalkan dosa mari bertaubat

Janganlah lupa kerjakan sholat

Agar selamat dunia akhirat


Tinggalkan zina perbanyak taubat 

Hindarkan maksiat agar selamat

Marilah kita baca shalawat

Supaya kita dapat syafaat


Jika ingin masuk ke syurga

Perbanyak amal dan juga derma

Supaya kita dapat pahala

Dari Allah yang maha kuasa


Itu petunjuk Allah Ta'ala

Untuk kita para hambanya

Kuatkan iman di dalam dada

Beribadahlah sepanjang masa


Ditulis oleh : Suci Hati, Arinatun Nauriyah Naysila Aulia Putri, Jamilatul Fitriyah, Eka Syifa LK., Aniatus Saira, & Sabrina M.

Selasa, 03 Februari 2026

SYAIR KEHIDUPAN

SYAIR KEHIDUPAN

 

(Sumber : bola.com) 


SYAIR NASIHAT KEHIDUPAN

Kalau mau hidup nyaman

Carilah kerjaan yang aman

Kalau kerjaan sudah aman

Hidup kan terasa nyaman


Makanlah makan sehat 

Biar badan jadi kuat

Kalau badan sudah kuat

Kerja pun tak terasa berat


Kalau kerja tidak berat 

Ibadah pun tidak berat 

Kalau ibadah tidak berat 

Hati tenang tiap saat


Kalau tenang tiap saat

Berarti ibadah di jaga ketat

Masalah hidup pun minggat 

Kalau ibadahmu jalan tiap saat


Disusun oleh : Noval, Romdan, Fiqri, Ubed


SYAIR HIDUP SELAMAT

Bersyukur kepada Allah yang maha kuasa

Melaksanakan beberapa yang diperintah

Jangan lupa menjauhi perkara yang salah 

Supaya selamat dari api neraka


Orang mati dimandikan disucikan

Dibungkus dengan beberapa kain kafan

Diangkat dipikul menuju kuburan

Keluarga dan tetangga saling mendoakan


Muslimin dan muslimat 

Mari berjamaah solat 

Sebagai bekal kelak di akhirat

Agar kita sama-sama selamat


Malaikat Atid mencatat amal buruknya

Maka dari itu janganlah berbuat dosa

Akan tetapi perbanyaklah doa

Agar diampuni segala dosanya


Disusun oleh : Faisal, Fachri, Rofiq, Sitky, dan Arifin

Senin, 02 Februari 2026

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah


Sumenep, 2 Februari 2026 — SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan upacara bendera rutin hari Senin pada awal pekan ini. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat di halaman sekolah.

Upacara dipimpin oleh petugas dari siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Seluruh rangkaian kegiatan upacara berlangsung sesuai tata tertib, mencerminkan sikap disiplin serta semangat kebangsaan warga sekolah.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Moh. Lutfi menyampaikan amanat yang sarat nilai edukatif dan reflektif, khususnya terkait pentingnya pembentukan karakter peserta didik. Dalam amanatnya, beliau menjelaskan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yakni charassein, yang berarti mengukir atau memahat. Makna tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terus dibiasakan dan dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, pembina upacara menekankan tiga poin penting dalam membangun karakter yang baik. Pertama, mengetahui hal yang baik (knowing the good), yaitu memahami dan mengenali nilai-nilai kebaikan secara benar. Kedua, menginginkan hal yang baik (desiring the good), yakni menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk mencintai kebaikan. Ketiga, melakukan hal yang baik (doing the good), yaitu membiasakan diri mewujudkan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam tindakan nyata.

Dalam amanatnya, pembina juga mengingatkan bahwa karakter buruk sejatinya terbentuk dari kebalikan tiga poin tersebut, yakni ketika seseorang tidak mengetahui nilai kebaikan, tidak menginginkan kebaikan, serta tidak membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu menjaga keselarasan antara pengetahuan, niat, dan perbuatan agar terbentuk pribadi yang berkarakter mulia.

Amanat tersebut menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh peserta upacara untuk terus menguatkan nilai-nilai karakter dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Upacara bendera rutin hari Senin ini pun menjadi salah satu sarana strategis SMAS Plus Miftahul Ulum dalam menanamkan disiplin, nasionalisme, serta pendidikan karakter kepada seluruh peserta didik.

Jumat, 30 Januari 2026

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

 

Ilustrasi: Tony Liong via rise.smeru.or.id

Guru

Ditulis oleh : Hoza Putri Romadani, Rona Salsabila, Ayu Tina Prastiwi, & Khoirotun Nisa

Di pagi yang belum menampakkan fajarnya

Dia bangun lebih awal

Dengan niat yang begitu mulia

Dia tak kenal lelah

​Guru...

Dia tak kenal sakit

Kadang tubuhnya lelah tapi

Hatinya begitu kuat dengan niat yang membara

​Niat baiknya membuat kita

Jauh dari yang namanya kebodohan

Karena-nya kita tahu membaca

Menulis bahkan menciptakan bait kata

​Yang ia sampaikan lewat kata

Ia menyampaikan ilmu-ilmunya

Tanpanya kita tak jadi apa


Jejak Pena di Ujung Harapan

Ditulia oleh : Aisyah Hammuliya, RA. Siti Maufirah, Siti Khoirotun Nisa, & Nurul Kholifah

Di ruang hening fajar menyapa

Langkah kaki meniti ilmu

Buku terbuka menantang mata

Mengejar mimpi yang dituju

​Pena menari di atas kertas

Mengukir kisah perjuangan

Hati tulus tak pernah terbatas

Membakar kebodohan, menyulut harapan

​Guratan waktu takkan percuma

Ilmu tertanam di dalam dada

Menjadi bekal tuk masa depan

Jembatan emas impian mulia...


Ibu Lautan Kasih

Ditulis oleh : Siti Khotijah, Dewi Khofifah, Rahayu Maulidia, & Amelia Nur Faizah

Ibu...

Samudra kasihmu begitu luas tak bertepi

Menenggelamkan segala luka, mengalirkan damai

Setiap tetes air matamu adalah doa

Menjadi tujuan yang menyuburkan jiwaku

​Kau ajarkan tentang kekuatan

Tentang keikhlasan, tentang bertahan

Meski dunia berubah

Cintamu tetap abadi, tak pernah goyah.

​Kau adalah rumah tempatku kembali

Tempatku bersandar, tempatku mengabdi

Di setiap helaan nafas dan langkah kaki

Selalu ada bayangmu Ibu, di hati.


Untuk Sang Permata Surga

Ditulis oleh : Shelvyna, Hilmatul Ilmiyah, Siti Abelia Putri, & Intan Nur Jannah

Ayah...

Keringatmu bercucuran karena panasnya matahari

Lelah dan letih telah kau rasakan

Demi menghidupkan keluarga kecilmu tercinta

Kini, kau berharap segala pengorbananmu dibalas Sang Ilahi

Dibalas dengan kebahagiaan tiada tara

Ibu...

Kau kehangatan yang Tuhan ciptakan

Kau melahirkanku dengan mengorbankan separuh nyawamu

Kau merawatku hingga aku merasakan lika-liku dunia

Kau pemilik kesabaran sedalam samudra

Kini aku berharap kebahagiaan setinggi gunung untukmu

​Maaf ayah, ibu...

Aku belum bisa membalas segala jasamu

Aku hanya selalu bersimpuh dan berdoa

Untuk segala kebahagiaanmu

Tameng Negara

Ditulis oleh : Devi Avia, Lizatul Maghfiroh, Dewi Kholiyatul Jannah, & Fita Khoirotun Nisa

Ayunan pedang di mana-mana

Tombakpun melesat pada sasarannya

Suara pistol menggema memenuhi gendang telinga

Mengalir darah

Mewarnai tanah sang pertiwi

Di sana berdiri dengan gagah

Manusia-manusia mulia

Dengan api semangat yang berkobar di mata mereka

Yang menyerahkan nyawanya

Pada pedang yang dipegangnya

Di depan mereka hanya ada dua jalan

Maju dengan tenang

Atau mundur dengan menjadi pecundang


​Harapan Masa Depan

Ditulia oleh : Eizatul Aulia, Siti Mairani Putri, & Siti Anisa

Harapan....

Masa depan kita telah menunggu

Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita

Bahagiakah?

Sedihkah?

Tidak ada kata terlambat

​Masa depan...

Jangan hanya dirancang

Gapai apa yang sudah dirancanakan

Raih apa yang diinginkan

Terjatuh

Bangkit kembali

Sehingga apa yang kita inginkan

Ada di tangan kita

Ayah

Ditulia oleh : Syahnaz, Fela, Mala, & Syahadatillah. 

Ayah...

Kaulah cinta pertamaku

Kau pelindungku disaat ku membutuhkanmu

Kau tak banyak bicara, tapi hatimu penuh cerita

Kau adalah tempat berteduh saat badai datang

Kau pernah bilang "Jangan pernah menyerah saat menghadapi cobaan"

Kau bukan hanya ayah

Tapi juga sahabat terbaik terbaikku

Setiap kali aku butuh

Kamu selalu ada tepat waktu

​Ayah...

Setiap detik aku merasa beruntung

Karna punya kamu yang selalu menjadi pelindungku

Guru

Ditulis Oleh: Safira Aulia & Putri Zahrotul Jannah

Di gelap malam gulita

Seorang datang dengan lentera

Menebarkan cahaya dalam sebuah asa yang hampir sirna

Menunjuk arah disaat langkah tersesat

Dalam gelapnya kebodohan

Seorang yang tak kenal letih

Seorang yang mengabaikan rasa lelah

Demi bintang kecil yang menanti bagiannya

tuk bersinar

dialah guru, guru

yang mengorbankan detik menit dan

jam berharganya, untuk kita bisa

meraih ridho sang kuasa



Kamis, 29 Januari 2026

Rindu, Cahaya dan Harapan

Rindu, Cahaya dan Harapan

 

Foto: wirestock/Freepik via detik.com

Tangis dalam Rindu

Sudah lama aku merindu
Menangis dengan air mata sendu
Hanya dengan menyebut namamu
Mengapa hati ini begitu rindu
Ya Rasulullah …
Engkaulah cahaya bukan bayangan
Engkaulah pelita dalam kegelapan
Meski shalawat dilantunkan dengan syahdu
Hati ini akan tetap selalu merindu
Ya Rasulullah …
Selama ini rindu ini bersemayam dalam hati
Kian memuncah saat menyebut namamu ya habibi
Sudah lama menunggu dalam ruang waktu
Diri ini ingin bertemu
Mencium tanganmu
Memelukmu
Bertemu denganmu ya Rasul …
Meski rindu ku simpan dalam hati
Namun shalawat tak kan terhenti
Engkau membawa hidup selamat
Memberi cahaya pada seluruh ummat
Engkau penolong pemberi syafaat
Pada seluruh ummat kelak di akhirat

Ditulis oleh : (Nur Anisa Putri, Nailatun Naura, Kamiliya Azmi, & Rahwaniya)


Jalan Terang

Langkah kaki menapaki jalan
Tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan

Hidup tanpa ilmu
Bagai rumah tak berlampu
Gelap bagai abu
Seperti bayangan yang semu

Pada siapa kubertanya
Tentang arti hidup yang sebenarnya
Ketika ilmu tak kupunya
Pendidikanlah yang menjadi jalannya.

Ditulis oleh: (Zulfa Fariha, Lailatul Farina Aurillah, Nurrohmi Amelia, Qurrotu Aini, & Yuni Aisyah F.)


Jejak Harapan

Jika haru tak kurindu
Bisikan maut menyoraki kegelapan
Tangan demi angan aku hempaskan
Meniti sejuta harapan.

Berisik mengelilingi ingatan
Akan kupanggil di kala terkesan
Membuka sejuta harapan
Walaupun berbalut dengan kenyataan

Jika jiwaku terlalu buram
Maka kupastikan terang lewat khayalan
Aku adalah aku
Tak seorang tau tentang diriku
Rindu yang menyapa kehangatan
Terlalu rawan untuk diutamakan
Jejak itu akan ku kejar sampai menjadi harapan.

Ditulis oleh: (Ratno Kurnia R., Ida Royani, Imroatul A., Badriyatul M.)

Rabu, 28 Januari 2026

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Sumber gambar: Wikipedia

Bertakwa Kepada Allah

Jadi anak janganlah nakal
Lebih baik kita beramal
Kita semua di beri akal
Agar kita semua tawakal

Wajib kita menjaga sholat
Agar kita tidak di laknat
Wajib kita perbanyak tobat
Agar selamat dunia akhirat

Mari kita rajin sedekah
Biar hidup jadi berkah
Jadi orang janganlah serakah
Dibenci orang Tuhan pun marah

Hidup di dunia hanya sementara
Jangan kita berbuat dosa
Mari kita semua bertakwa
Agar kita semua bahagia


Syair di atas adalah syair nasihat yang ditulis oleh Bhisma, Khairil, Hariyanto dan Kamaluddin. Syair ini memiliki pesan agar kita bertakwa kepada Allah SWT. untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. 


Cinta Indonesia

Kita ini anak muda
Yang menjadi penerus bangsa
Jangan sia-siakan waktu kita
Untuk belajar dan berusaha

Anak muda tubuhnya sehat
Banyak olahraga agar tubuhnya kuat
Makanlah makanan yang sehat
Agar penerus bangsa selalu sehat dan kuat

Negara kita negara Indonesia
Pernah di jajah tiga setengah abad lamanya
Hari ini kita sudah merdeka
senantiasa bahagia dan menjaganya

Negara kita negara yang kaya
Dari Sumatera sampai papua
Banyak ragam suku dan bahasa
Kita semua harus bahagia


Syair di atas adalah syair cinta terhadap tanah air yang ditulis oleh Ari, Agus, Risky dan Ramadhani. Syair ini memiliki pesan agar kita cinta dan bangga terhadap kekayaan Indonesia. 


Menuntut Ilmu

Berguru ke palang ajar
Bagai bunga mekar di waktu fajar
Bergaul janganlah kurang ajar
Jika tidak ingin terkena haja

Kalau guru bermurah hati
Bimbinglah kami setiap hari
Jika guru bersedia diri
Kami siap menunggu dari pagi hari

Cari ilmu setiap hari
Ilmu agama yang paling pasti
Ingatlah kita pada mati
Supaya banyak bekal di akhirat nanti

Agar banyak ilmu di hari tua nanti
Orang cerdas akan memahami
Belajar tidak cukup satu kali
Tuntutlah ilmu sampai mati


Syair di atas adalah syair nasihat agar kita menuntut ilmu untuk bekal dunia dan akhirat. Syair ini ditulis oleh Isbet, Rosi, Ubai dan Rafi.