Selasa, 03 Februari 2026

SYAIR KEHIDUPAN

SYAIR KEHIDUPAN

 

(Sumber : bola.com) 


SYAIR NASIHAT KEHIDUPAN

Kalau mau hidup nyaman

Carilah kerjaan yang aman

Kalau kerjaan sudah aman

Hidup kan terasa nyaman


Makanlah makan sehat 

Biar badan jadi kuat

Kalau badan sudah kuat

Kerja pun tak terasa berat


Kalau kerja tidak berat 

Ibadah pun tidak berat 

Kalau ibadah tidak berat 

Hati tenang tiap saat


Kalau tenang tiap saat

Berarti ibadah di jaga ketat

Masalah hidup pun minggat 

Kalau ibadahmu jalan tiap saat


Disusun oleh : Noval, Romdan, Fiqri, Ubed


SYAIR HIDUP SELAMAT

Bersyukur kepada Allah yang maha kuasa

Melaksanakan beberapa yang diperintah

Jangan lupa menjauhi perkara yang salah 

Supaya selamat dari api neraka


Orang mati dimandikan disucikan

Dibungkus dengan beberapa kain kafan

Diangkat dipikul menuju kuburan

Keluarga dan tetangga saling mendoakan


Muslimin dan muslimat 

Mari berjamaah solat 

Sebagai bekal kelak di akhirat

Agar kita sama-sama selamat


Malaikat Atid mencatat amal buruknya

Maka dari itu janganlah berbuat dosa

Akan tetapi perbanyaklah doa

Agar diampuni segala dosanya


Disusun oleh : Faisal, Fachri, Rofiq, Sitky, dan Arifin

Senin, 02 Februari 2026

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah

Upacara Bendera Senin Pagi di SMAS Plus Miftahul Ulum Berlangsung Khidmat dan Penuh Hikmah


Sumenep, 2 Februari 2026 — SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan upacara bendera rutin hari Senin pada awal pekan ini. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh siswa, dewan guru, serta tenaga kependidikan tersebut berlangsung dengan tertib, lancar, dan penuh khidmat di halaman sekolah.

Upacara dipimpin oleh petugas dari siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum yang menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Seluruh rangkaian kegiatan upacara berlangsung sesuai tata tertib, mencerminkan sikap disiplin serta semangat kebangsaan warga sekolah.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Moh. Lutfi menyampaikan amanat yang sarat nilai edukatif dan reflektif, khususnya terkait pentingnya pembentukan karakter peserta didik. Dalam amanatnya, beliau menjelaskan bahwa istilah karakter berasal dari bahasa Yunani, yakni charassein, yang berarti mengukir atau memahat. Makna tersebut menunjukkan bahwa karakter tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang yang terus dibiasakan dan dikuatkan dalam kehidupan sehari-hari.

Lebih lanjut, pembina upacara menekankan tiga poin penting dalam membangun karakter yang baik. Pertama, mengetahui hal yang baik (knowing the good), yaitu memahami dan mengenali nilai-nilai kebaikan secara benar. Kedua, menginginkan hal yang baik (desiring the good), yakni menumbuhkan kesadaran dan kemauan untuk mencintai kebaikan. Ketiga, melakukan hal yang baik (doing the good), yaitu membiasakan diri mewujudkan nilai-nilai kebaikan tersebut dalam tindakan nyata.

Dalam amanatnya, pembina juga mengingatkan bahwa karakter buruk sejatinya terbentuk dari kebalikan tiga poin tersebut, yakni ketika seseorang tidak mengetahui nilai kebaikan, tidak menginginkan kebaikan, serta tidak membiasakan diri melakukan perbuatan baik. Oleh karena itu, siswa diharapkan mampu menjaga keselarasan antara pengetahuan, niat, dan perbuatan agar terbentuk pribadi yang berkarakter mulia.

Amanat tersebut menjadi pengingat sekaligus motivasi bagi seluruh peserta upacara untuk terus menguatkan nilai-nilai karakter dalam lingkungan sekolah maupun kehidupan sehari-hari. Upacara bendera rutin hari Senin ini pun menjadi salah satu sarana strategis SMAS Plus Miftahul Ulum dalam menanamkan disiplin, nasionalisme, serta pendidikan karakter kepada seluruh peserta didik.

Jumat, 30 Januari 2026

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

Ayah, Ibu, Guru dan Lautan Kasih

 

Ilustrasi: Tony Liong via rise.smeru.or.id

Guru

Ditulis oleh : Hoza Putri Romadani, Rona Salsabila, Ayu Tina Prastiwi, & Khoirotun Nisa

Di pagi yang belum menampakkan fajarnya

Dia bangun lebih awal

Dengan niat yang begitu mulia

Dia tak kenal lelah

​Guru...

Dia tak kenal sakit

Kadang tubuhnya lelah tapi

Hatinya begitu kuat dengan niat yang membara

​Niat baiknya membuat kita

Jauh dari yang namanya kebodohan

Karena-nya kita tahu membaca

Menulis bahkan menciptakan bait kata

​Yang ia sampaikan lewat kata

Ia menyampaikan ilmu-ilmunya

Tanpanya kita tak jadi apa


Jejak Pena di Ujung Harapan

Ditulia oleh : Aisyah Hammuliya, RA. Siti Maufirah, Siti Khoirotun Nisa, & Nurul Kholifah

Di ruang hening fajar menyapa

Langkah kaki meniti ilmu

Buku terbuka menantang mata

Mengejar mimpi yang dituju

​Pena menari di atas kertas

Mengukir kisah perjuangan

Hati tulus tak pernah terbatas

Membakar kebodohan, menyulut harapan

​Guratan waktu takkan percuma

Ilmu tertanam di dalam dada

Menjadi bekal tuk masa depan

Jembatan emas impian mulia...


Ibu Lautan Kasih

Ditulis oleh : Siti Khotijah, Dewi Khofifah, Rahayu Maulidia, & Amelia Nur Faizah

Ibu...

Samudra kasihmu begitu luas tak bertepi

Menenggelamkan segala luka, mengalirkan damai

Setiap tetes air matamu adalah doa

Menjadi tujuan yang menyuburkan jiwaku

​Kau ajarkan tentang kekuatan

Tentang keikhlasan, tentang bertahan

Meski dunia berubah

Cintamu tetap abadi, tak pernah goyah.

​Kau adalah rumah tempatku kembali

Tempatku bersandar, tempatku mengabdi

Di setiap helaan nafas dan langkah kaki

Selalu ada bayangmu Ibu, di hati.


Untuk Sang Permata Surga

Ditulis oleh : Shelvyna, Hilmatul Ilmiyah, Siti Abelia Putri, & Intan Nur Jannah

Ayah...

Keringatmu bercucuran karena panasnya matahari

Lelah dan letih telah kau rasakan

Demi menghidupkan keluarga kecilmu tercinta

Kini, kau berharap segala pengorbananmu dibalas Sang Ilahi

Dibalas dengan kebahagiaan tiada tara

Ibu...

Kau kehangatan yang Tuhan ciptakan

Kau melahirkanku dengan mengorbankan separuh nyawamu

Kau merawatku hingga aku merasakan lika-liku dunia

Kau pemilik kesabaran sedalam samudra

Kini aku berharap kebahagiaan setinggi gunung untukmu

​Maaf ayah, ibu...

Aku belum bisa membalas segala jasamu

Aku hanya selalu bersimpuh dan berdoa

Untuk segala kebahagiaanmu

Tameng Negara

Ditulis oleh : Devi Avia, Lizatul Maghfiroh, Dewi Kholiyatul Jannah, & Fita Khoirotun Nisa

Ayunan pedang di mana-mana

Tombakpun melesat pada sasarannya

Suara pistol menggema memenuhi gendang telinga

Mengalir darah

Mewarnai tanah sang pertiwi

Di sana berdiri dengan gagah

Manusia-manusia mulia

Dengan api semangat yang berkobar di mata mereka

Yang menyerahkan nyawanya

Pada pedang yang dipegangnya

Di depan mereka hanya ada dua jalan

Maju dengan tenang

Atau mundur dengan menjadi pecundang


​Harapan Masa Depan

Ditulia oleh : Eizatul Aulia, Siti Mairani Putri, & Siti Anisa

Harapan....

Masa depan kita telah menunggu

Kita tidak tahu bagaimana masa depan kita

Bahagiakah?

Sedihkah?

Tidak ada kata terlambat

​Masa depan...

Jangan hanya dirancang

Gapai apa yang sudah dirancanakan

Raih apa yang diinginkan

Terjatuh

Bangkit kembali

Sehingga apa yang kita inginkan

Ada di tangan kita

Ayah

Ditulia oleh : Syahnaz, Fela, Mala, & Syahadatillah. 

Ayah...

Kaulah cinta pertamaku

Kau pelindungku disaat ku membutuhkanmu

Kau tak banyak bicara, tapi hatimu penuh cerita

Kau adalah tempat berteduh saat badai datang

Kau pernah bilang "Jangan pernah menyerah saat menghadapi cobaan"

Kau bukan hanya ayah

Tapi juga sahabat terbaik terbaikku

Setiap kali aku butuh

Kamu selalu ada tepat waktu

​Ayah...

Setiap detik aku merasa beruntung

Karna punya kamu yang selalu menjadi pelindungku

Guru

Ditulis Oleh: Safira Aulia & Putri Zahrotul Jannah

Di gelap malam gulita

Seorang datang dengan lentera

Menebarkan cahaya dalam sebuah asa yang hampir sirna

Menunjuk arah disaat langkah tersesat

Dalam gelapnya kebodohan

Seorang yang tak kenal letih

Seorang yang mengabaikan rasa lelah

Demi bintang kecil yang menanti bagiannya

tuk bersinar

dialah guru, guru

yang mengorbankan detik menit dan

jam berharganya, untuk kita bisa

meraih ridho sang kuasa



Kamis, 29 Januari 2026

Rindu, Cahaya dan Harapan

Rindu, Cahaya dan Harapan

 

Foto: wirestock/Freepik via detik.com

Tangis dalam Rindu

Sudah lama aku merindu
Menangis dengan air mata sendu
Hanya dengan menyebut namamu
Mengapa hati ini begitu rindu
Ya Rasulullah …
Engkaulah cahaya bukan bayangan
Engkaulah pelita dalam kegelapan
Meski shalawat dilantunkan dengan syahdu
Hati ini akan tetap selalu merindu
Ya Rasulullah …
Selama ini rindu ini bersemayam dalam hati
Kian memuncah saat menyebut namamu ya habibi
Sudah lama menunggu dalam ruang waktu
Diri ini ingin bertemu
Mencium tanganmu
Memelukmu
Bertemu denganmu ya Rasul …
Meski rindu ku simpan dalam hati
Namun shalawat tak kan terhenti
Engkau membawa hidup selamat
Memberi cahaya pada seluruh ummat
Engkau penolong pemberi syafaat
Pada seluruh ummat kelak di akhirat

Ditulis oleh : (Nur Anisa Putri, Nailatun Naura, Kamiliya Azmi, & Rahwaniya)


Jalan Terang

Langkah kaki menapaki jalan
Tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan

Hidup tanpa ilmu
Bagai rumah tak berlampu
Gelap bagai abu
Seperti bayangan yang semu

Pada siapa kubertanya
Tentang arti hidup yang sebenarnya
Ketika ilmu tak kupunya
Pendidikanlah yang menjadi jalannya.

Ditulis oleh: (Zulfa Fariha, Lailatul Farina Aurillah, Nurrohmi Amelia, Qurrotu Aini, & Yuni Aisyah F.)


Jejak Harapan

Jika haru tak kurindu
Bisikan maut menyoraki kegelapan
Tangan demi angan aku hempaskan
Meniti sejuta harapan.

Berisik mengelilingi ingatan
Akan kupanggil di kala terkesan
Membuka sejuta harapan
Walaupun berbalut dengan kenyataan

Jika jiwaku terlalu buram
Maka kupastikan terang lewat khayalan
Aku adalah aku
Tak seorang tau tentang diriku
Rindu yang menyapa kehangatan
Terlalu rawan untuk diutamakan
Jejak itu akan ku kejar sampai menjadi harapan.

Ditulis oleh: (Ratno Kurnia R., Ida Royani, Imroatul A., Badriyatul M.)

Rabu, 28 Januari 2026

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Bertakwa pada Allah, Cinta Indonesia dan Rajin Menuntut Ilmu

Sumber gambar: Wikipedia

Bertakwa Kepada Allah

Jadi anak janganlah nakal
Lebih baik kita beramal
Kita semua di beri akal
Agar kita semua tawakal

Wajib kita menjaga sholat
Agar kita tidak di laknat
Wajib kita perbanyak tobat
Agar selamat dunia akhirat

Mari kita rajin sedekah
Biar hidup jadi berkah
Jadi orang janganlah serakah
Dibenci orang Tuhan pun marah

Hidup di dunia hanya sementara
Jangan kita berbuat dosa
Mari kita semua bertakwa
Agar kita semua bahagia


Syair di atas adalah syair nasihat yang ditulis oleh Bhisma, Khairil, Hariyanto dan Kamaluddin. Syair ini memiliki pesan agar kita bertakwa kepada Allah SWT. untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. 


Cinta Indonesia

Kita ini anak muda
Yang menjadi penerus bangsa
Jangan sia-siakan waktu kita
Untuk belajar dan berusaha

Anak muda tubuhnya sehat
Banyak olahraga agar tubuhnya kuat
Makanlah makanan yang sehat
Agar penerus bangsa selalu sehat dan kuat

Negara kita negara Indonesia
Pernah di jajah tiga setengah abad lamanya
Hari ini kita sudah merdeka
senantiasa bahagia dan menjaganya

Negara kita negara yang kaya
Dari Sumatera sampai papua
Banyak ragam suku dan bahasa
Kita semua harus bahagia


Syair di atas adalah syair cinta terhadap tanah air yang ditulis oleh Ari, Agus, Risky dan Ramadhani. Syair ini memiliki pesan agar kita cinta dan bangga terhadap kekayaan Indonesia. 


Menuntut Ilmu

Berguru ke palang ajar
Bagai bunga mekar di waktu fajar
Bergaul janganlah kurang ajar
Jika tidak ingin terkena haja

Kalau guru bermurah hati
Bimbinglah kami setiap hari
Jika guru bersedia diri
Kami siap menunggu dari pagi hari

Cari ilmu setiap hari
Ilmu agama yang paling pasti
Ingatlah kita pada mati
Supaya banyak bekal di akhirat nanti

Agar banyak ilmu di hari tua nanti
Orang cerdas akan memahami
Belajar tidak cukup satu kali
Tuntutlah ilmu sampai mati


Syair di atas adalah syair nasihat agar kita menuntut ilmu untuk bekal dunia dan akhirat. Syair ini ditulis oleh Isbet, Rosi, Ubai dan Rafi.


Selasa, 27 Januari 2026

Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum Ikuti Pendampingan Ponkestren di Pondok Pesantren Al-Usymuni

Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum Ikuti Pendampingan Ponkestren di Pondok Pesantren Al-Usymuni

 


Sumenep — Siswa SMAS Plus Miftahul Ulum yang juga merupakan santri Pondok Pesantren Al-Usymuni mengikuti kegiatan Pendampingan Pondok Pesantren (Ponkestren) pada Selasa, 27 Januari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di lingkungan Pondok Pesantren Al-Usymuni sebagai upaya peningkatan kesadaran dan pengetahuan kesehatan bagi siswa dan santri.

Kegiatan pendampingan tersebut diselenggarakan oleh SMAS Plus Miftahul Ulum bekerja sama dengan Puskesmas Pandian Sumenep. Para siswa mengikuti kegiatan dengan antusias, mengingat materi yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari di sekolah maupun di pesantren.

Dalam kegiatan ini, siswa mendapatkan edukasi mengenai cara menjaga kesehatan mulut dan gigi, serta pemahaman tentang penggunaan obat yang aman dan benar berdasarkan prinsip DAGUSIBU, yaitu Dapatkan obat dengan benar, Gunakan obat dengan benar, Simpan obat dengan benar, dan Buang obat dengan benar.

Kepala sekolah SMAS Plus Miftahul Ulum menyampaikan bahwa kegiatan ini sangat penting bagi siswa yang hidup di lingkungan pesantren.

“Sebagai siswa yang juga santri, mereka perlu memiliki pemahaman yang baik tentang kesehatan diri dan penggunaan obat agar dapat menerapkannya secara mandiri dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Salah satu peserta kegiatan, Syahriyatul, siswi kelas XI C, mengungkapkan bahwa kegiatan pendampingan ini memberikan pengetahuan baru yang bermanfaat.

“Dengan adanya kegiatan ini, saya jadi lebih memahami cara menjaga kesehatan gigi dan mulut serta mengetahui prosedur penggunaan obat yang benar,” tuturnya.

Melalui kegiatan pendampingan Ponkestren ini, diharapkan siswa SMAS Plus Miftahul Ulum semakin sadar akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, baik di lingkungan sekolah maupun di pondok pesantren.

Selasa, 20 Januari 2026

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW

 


Sumenep — OSIS SMAS Plus Miftahul Ulum menyelenggarakan peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW pada Selasa, 20 Januari 2025, bertempat di lingkungan sekolah. Kegiatan ini berlangsung dengan khidmat dan penuh antusiasme, diikuti oleh seluruh siswa, guru, serta tenaga kependidikan.

Acara diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Alquran, selawat, dan sambutan.  Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd. dalam sambutannya  menyampaikan bahwa di manapun adalah tempat belajar. Belajar, menurutnya, ibarat akar yang menancap kuat, menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter dan akhlak peserta didik. Beliau juga berharap agar seluruh rangkaian kegiatan yang dilakukan pada hari tersebut benar-benar diniatkan karena Allah SWT, sehingga memperoleh barokah.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua Panitia, Faizi Al Wildani. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dengan penuh rasa syukur, ia menyampaikan rasa bangga dan bahagia karena peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW dapat terlaksana dengan lancar dan sukses.

Memasuki acara inti, mauidah hasanah disampaikan oleh K.H. Nur Kholish Arifin. Dalam ceramahnya, beliau menjelaskan bahwa peristiwa Isra Mikraj terjadi pada masa penuh kesedihan dalam kehidupan Rasulullah SAW, yang dikenal sebagai ‘Amul Huzni (Tahun Kesedihan). Pada masa tersebut, Rasulullah SAW kehilangan dua sosok yang sangat berarti, yakni pamannya Abu Thalib serta istrinya tercinta, Khadijah r.a.

Lebih lanjut, beliau menuturkan bahwa Isra Mikraj merupakan bentuk kemuliaan Rasulullah SAW, ketika Allah SWT menjemput langsung Rasulullah untuk menghadap kepada-Nya, sekaligus memperlihatkan kebesaran dan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada beliau dan umat manusia.

Dalam ceramah tersebut juga disampaikan bahwa oleh-oleh terpenting Rasulullah SAW dari peristiwa Isra Mikraj adalah perintah sholat. Oleh karena itu, K.H. Nur Kholish Arifin mengajak seluruh hadirin untuk memperbaiki dan menjaga kualitas sholat, baik dari segi ketepatan waktu, kekhusyukan, maupun pemahaman maknanya, sebagai bentuk nyata kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT serta Rasulullah SAW.

Dalam penutup mauidahnya, beliau mengajak seluruh peserta untuk menghubungkan diri dengan Rasulullah SAW melalui pengamalan ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan panca indra untuk kebaikan, seperti mata untuk membaca Al-Qur’an, kaki melangkah ke majelis zikir, serta menata hati dengan sifat-sifat mulia Rasulullah SAW, seperti sabar, tawaduk, dan akhlakul karimah.

Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW ini diharapkan dapat meningkatkan keimanan, memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW, serta membentuk karakter religius peserta didik SMAS Plus Miftahul Ulum.

Jumat, 16 Januari 2026

 Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah

Isra Mikraj sebagai Inspirasi Semangat Belajar di Sekolah



Peristiwa Isra Mikraj sering dipahami sebagai perjalanan spiritual Nabi Muhammad saw. yang penuh keajaiban. Lebih dari itu, sesungguhnya peristiwa tersebut juga menyimpan pesan mendalam tentang etos belajar dan tanggung jawab keilmuan. Isra Mikraj menegaskan bahwa peningkatan derajat manusia tidak hanya melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kesungguhan dalam menjalani proses pembelajaran. Bagi dunia pendidikan, khususnya di sekolah, momentum Isra Mikraj menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah yang menuntut keseriusan, disiplin, dan ketekunan.

Kesungguhan Nabi Muhammad saw. dalam menerima dan melaksanakan perintah salat pada peristiwa Isra Mikraj mencerminkan sikap totalitas dalam mengemban tugas. Nilai ini relevan dengan dunia pelajar yang dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam belajar, tidak mudah menyerah, dan konsisten dalam menuntut ilmu. Ibnu Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa ilmu merupakan cahaya yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh mencarinya. Dengan demikian, belajar di sekolah bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan ikhtiar sadar untuk meraih kemuliaan hidup melalui ilmu pengetahuan.

Selain kesungguhan, Isra Mikraj juga mengajarkan pentingnya akhlak ilmiah. Ilmu yang diperoleh tanpa adab hanya akan melahirkan kecerdasan kering nilai. Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa tujuan utama ilmu adalah mendekatkan diri kepada Allah dan memperbaiki akhlak manusia. Dalam konteks sekolah, akhlak ilmiah tercermin dalam kejujuran saat mengerjakan tugas dan ujian, sikap kritis namun santun dalam berdiskusi, serta kesediaan menghargai pendapat orang lain. Inilah karakter pelajar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara moral.

Lebih jauh, Isra Mikraj menanamkan nilai tanggung jawab dalam mengemban amanah. Salat yang diwajibkan dalam peristiwa tersebut adalah simbol amanah besar yang harus dijaga secara konsisten. Begitu pula ilmu yang diperoleh siswa di sekolah merupakan amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan. Imam al-Syafi’i menyatakan bahwa ilmu yang sejati adalah ilmu yang memberi manfaat. Artinya, pengetahuan tidak boleh berhenti di ruang kelas, tetapi harus diwujudkan dalam sikap, perilaku, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.

Dengan demikian, Isra Mikraj dapat dimaknai sebagai inspirasi transformatif bagi dunia pendidikan. Ia mengajarkan bahwa perjalanan menuju kesuksesan intelektual harus seiring dengan pendalaman spiritual dan penguatan karakter. Jika semangat Isra Mikraj dihidupkan di sekolah, maka proses belajar tidak hanya melahirkan siswa yang berprestasi, tetapi juga generasi yang berakhlak ilmiah, bertanggung jawab, dan siap mengemban amanah ilmu untuk kebaikan bersama. 

Senin, 12 Januari 2026

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum Kunjungi Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani di Desa Lalangon

 

Kegiatan Kokurikuler dengan Perhutani

Tim Literasi SMAS Plus Miftahul Ulum melaksanakan kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih milik Perhutani yang berlokasi di Desa Lalangon, Kabupaten Sumenep, Senin (12/1/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran kookurikuler yang bertujuan memperkaya wawasan siswa melalui pengalaman belajar langsung di lapangan.

Kunjungan tersebut diikuti oleh tim literasi bersama pendamping guru dengan fokus pada penguatan literasi kontekstual berbasis potensi lokal. Pabrik minyak kayu putih dipilih sebagai lokasi kunjungan karena memiliki nilai edukatif yang berkaitan dengan sains, lingkungan, ekonomi, serta kearifan lokal masyarakat Sumenep.

Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses penyulingan minyak kayu putih yang masih mempertahankan prinsip tradisional namun terkelola secara profesional. Proses diawali dengan pengumpulan daun kayu putih yang telah tua dan siap disuling. Daun-daun tersebut kemudian dimasukkan ke dalam ketel penyulingan berukuran besar.

Selanjutnya, ketel dipanaskan menggunakan uap air dengan suhu tertentu. Uap panas yang dihasilkan akan membawa sari minyak dari daun kayu putih. Uap tersebut dialirkan melalui pipa pendingin hingga mengalami proses pengembunan. Dari proses ini dihasilkan cairan yang terdiri atas air dan minyak kayu putih, yang kemudian terpisah secara alami karena perbedaan massa jenis.

Kepala Resort Perhutani Kabupaten Sumenep, Bapak Imam Syafii, dalam paparannya menjelaskan bahwa pengelolaan minyak kayu putih dimulai sejak tahap pembibitan.

“Pembibitan kayu putih dilakukan secara terencana agar keberlanjutan hutan tetap terjaga. Setelah tanaman siap panen, daun dipetik dengan pola tertentu agar tidak merusak pohon,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa hasil penyulingan minyak kayu putih dari Desa Lalangon tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal.

“Hasil minyak kayu putih yang telah melalui proses penyulingan dan pengujian mutu kemudian dikirim ke cabang Perhutani di Pamekasan untuk selanjutnya didistribusikan,” ungkapnya. Ia menegaskan bahwa ketelitian dalam mengatur suhu, waktu penyulingan, serta kualitas bahan baku sangat menentukan mutu minyak kayu putih yang dihasilkan.

Melalui pengamatan langsung terhadap proses penyulingan, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis, tetapi juga belajar tentang keterkaitan antara ilmu pengetahuan, lingkungan, dan ekonomi lokal. Kegiatan ini sekaligus melatih kemampuan literasi kritis siswa, khususnya dalam mengamati, mencatat, dan mengolah informasi faktual menjadi pemahaman yang utuh.

Salah satu anggota tim literasi, Syahriyatul, siswi kelas XI, mengungkapkan kesannya,

“Dengan melihat langsung proses penyulingan, saya jadi lebih memahami bagaimana pelajaran sains diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini sangat menarik dan membuka wawasan.”

Sementara itu, Andin, siswi kelas X, menyampaikan rasa antusiasnya mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya senang bisa belajar di luar kelas. Ternyata potensi daerah kita sangat besar dan bisa menjadi sumber pengetahuan sekaligus ekonomi,” ujarnya.

Penanggung jawab kegiatan, Ibu Aisyah, menyampaikan rasa senang dan apresiasinya atas sambutan yang diberikan oleh pihak Perhutani.

“Kami merasa sangat senang karena kunjungan literasi ini diterima dengan baik oleh Perhutani. Anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang bermakna dan kontekstual. Semoga kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut,” tuturnya.

Melalui kunjungan literasi ke Pabrik Minyak Kayu Putih Perhutani ini, SMAS Plus Miftahul Ulum berharap peserta didik mampu mengembangkan budaya literasi yang kontekstual, kritis, dan bermakna, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap potensi serta kearifan lokal daerah.

Sabtu, 03 Januari 2026

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Menulis, Dari Ruang Belajar Menuju Karya Bermakna

Ilustrasi menulis (sumber: penerbitdepublish.com)

Belajar bukan sekadar menghitung berapa halaman yang dibaca, bukan pula tentang tumpukan soal yang selesai dikerjakan atau deretan tugas yang dikumpulkan tepat waktu. Belajar adalah apa yang benar-benar tinggal di dalam diri: pemahaman yang mengendap, karakter yang perlahan terbentuk, serta kebiasaan berpikir yang terus bertumbuh. Di ruang belajar—baik kelas, pesantren, maupun forum ngaji—kita sejatinya sedang membangun lebih dari sekadar pengetahuan. Kita menata cara berpikir, membiasakan kesabaran, dan melatih kejujuran pada proses. Karena itu, ilmu tidak pernah berjalan sendiri; ia selalu berdampingan dengan adab. Sebagaimana doa yang sering kita langitkan, semoga ruang belajar menjadi taman keberkahan: tempat adab mendahului ilmu, sabar mengiringi prestasi, dan akhlak mulia tumbuh bersama kecerdasan.

Dalam konteks inilah, perjalanan dari membaca menuju menulis menjadi penting—sebuah peralihan dari sikap konsumtif menuju produktif. Dalam Ngaji Jurnalistik bersama Ning Vivi Nafidzatin Nadhor, satu pesan kuat ditekankan: jangan berhenti sebagai pembaca yang baik, tetapi jadilah penulis yang bertumbuh. Membaca yang sejati tidak berhenti pada halaman terakhir; ia berlanjut pada proses memfrasekan ulang, mengendapkan makna, lalu menuliskannya kembali dengan bahasa sendiri. Dari proses inilah tulisan yang hidup lahir, bukan sekadar rangkuman, melainkan refleksi yang bernapas.

Salah satu metode sederhana namun kuat untuk melatih proses tersebut adalah dengan menentukan satu tema besar—misalnya pesantren—lalu mengumpulkan sekitar empat puluh kata kunci yang berkaitan, seperti santri, ngaji, khidmat, kiai, tirakat, adab, dan sabar. Setiap kata kemudian diuraikan menjadi refleksi dan deskripsi yang mendalam. Dengan cara ini, empat puluh kata tidak lagi sekadar kosakata, melainkan pintu menuju ratusan halaman makna. Menulis pun menjadi lebih terarah, tidak membingungkan, dan terasa membumi.

Namun, menulis tidak pernah menunggu inspirasi datang. Banyak orang ingin menulis, tetapi terjebak menanti mood yang sempurna. Padahal, waktu terbaik untuk menulis hanya satu: sekarang. Menulis ibarat mengayuh sepeda; ketika berhenti, kita kehilangan keseimbangan, tetapi ketika terus mengayuh, kita akan sampai meski perlahan. Karena itu, karya terbaik bukanlah karya paling indah, melainkan karya yang selesai. Pada titik tertentu, menulis bahkan menjadi terapi—sebuah healing productivity—cara menyembuhkan diri dengan berkarya, menumpahkan keresahan, mengurai pengalaman, dan merawat batin melalui kata-kata.

Dari para penulis, kita belajar bahwa kekuatan tulisan sering lahir dari kesederhanaan yang dilihat dari sudut pandang berbeda. Tere Liye, misalnya, menunjukkan pentingnya bahasa yang lugas, kalimat efektif, dan konsistensi latihan. Kepala penulis harus terus diisi dengan bacaan, riset, dan pengalaman hidup agar tulisan memiliki “isi”. Sementara itu, Raditya Dika mengajarkan bahwa cerita yang kuat kerap berawal dari satu premis kalimat yang jelas. Draf pertama tidak harus sempurna—bahkan boleh berantakan—karena revisi adalah ruang tempat keindahan dilahirkan. Tulis, perbaiki, lalu tulis lagi. Sejalan dengan itu, Bruce Lee mengingatkan bahwa ketekunan jauh lebih menakutkan daripada bakat sesaat; satu kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan mengalahkan ribuan rencana yang tak pernah dimulai.

Pada akhirnya, menulis adalah jalan untuk bertumbuh. Ia bukan semata tentang ingin terkenal atau diterbitkan, melainkan cara belajar yang paling jujur. Dengan menulis, kita tahu apa yang benar-benar kita pahami, apa yang masih kosong, dan apa yang sedang kita cari. Ketika lelah, kita belajar berhenti sejenak tanpa menyerah. Ketika keliru, kita merevisi tanpa menyesali. Ketika berhasil, kita bersyukur tanpa jumawa. Sebab belajar dan menulis bukan tentang seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa dalam kita bertumbuh sepanjang perjalanan.

Jumat, 02 Januari 2026

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

Kaos Kaki Ayah, Sepeda Phoenix, dan Panggilan yang Terlambat

 

Ilustrasi ayah dan anak

“Kinaaaa! Sudah jam enam. Ayo cepat berangkat!”

Suara ayah memecah pagi.

Lepp!—roti dan telur mata sapi yang tinggal segigit langsung masuk ke mulut.

“Iyaaa, Yah,” jawabku dengan mulut penuh.

Kaos kakiku kutarik kuat-kuat. Syuuuut! Menutupi betisku sampai lutut. Kaos kaki ini warisan ayah. Kata ayah, kaos kaki bapak-bapak itu tebal dan tidak mudah sobek. Hanya saja sudah melar di bagian atas. Supaya tidak melorot, kuikat dengan karet gelang warna-warni.

Tas kusempitkan di bahu, lalu kutaruh di keranjang sepeda. Aku meraih tangan ayah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab ayah sambil mencium pipi kanan dan kiriku.

Kami tinggal berdua. Ayah adalah orang tuaku satu-satunya. Ia bekerja sebagai pegawai TU di sebuah sekolah dengan gaji yang tak seberapa, tapi selalu cukup membuatku merasa punya segalanya.

Aku mengayuh sepeda Phoenix-ku, sepeda bekas dari Pasar Bangkal, tapi gagah di mataku. Hasil jerih payah ku menabung. Ayah mengecat ulang bagian-bagian yang karatan. Katanya, yang penting masih kuat dan kokoh.

Sampai di jalan besar, aku menoleh kanan kiri, memastikan tak ada motor meluncur dari arah Asta Tinggi. Desaku, Banasokon, berada di dataran tinggi Kebonagung, Sumenep. Di puncak bukit itulah makam raja-raja Sumenep berada, tempat tua penuh cerita yang sering ayah kisahkan dengan suara pelan dan mata serius.

“Nanaaaa!”

Aku menghentikan sepeda di depan rumah putih.

Eboknya Nana sedang menyapu teras.

“Kina, masuk saja. Nana masih makan.”

“Enggih,” jawabku.

Ku standar Phoenix-ku, kucium tangan ebok, lalu masuk ngeloyor mencari Nana.

“Hai, Kina, siniii!”

Nana memanggil sambil menyuapkan satu sendok nasi dengan kerupuk ke mulutku.

“Hmppph!”

Refleks aku ikut mangap. Suapan dari Nana langsung masuk ke mulutku. Nana tertawa. Pipinya gembul, empluk, dengan lesung pipit yang dalam. Setiap dia tertawa, matanya seperti hilang; tinggal dua garis lengkung saja. Temanku ini selalu lucu kalau tersenyum.

“Ayok cepat,” bujukku.

“Oke, oke!” Jawabnya. 

Ia meneguk air minum dari gelas bulat bertuliskan NUVO. Setelah itu kami buru-buru naik sepeda masing-masing.

Sampai di pertelon menuju jembatan Kebonagung, seseorang berteriak dari seberang jalan.

“Kinaaaa! Mampir sini!”

Aku menoleh.

Mbah Sumi berdiri di depan gubuk kecilnya, tubuhnya agak tertatih, tangannya melambai-lambai ke arahku.

“Aduh, bisa telat nih,” bisik Nana.

“Ayok, Kin, sudah hampir upacara.”

Aku gelagapan.

“Mbahhh Sumi, nanti yaaa. Pulang sekolah aku mampir,” teriakku.

Mbah Sumi adalah penjual pisang yang tinggal sendirian di gubuk pinggir jalan Asta Tinggi. Entah sejak kapan ia di sana. Tak pernah kulihat anak, suami, atau saudara menemaninya. Aku mengenalnya karena ayah sering membeli pisang darinya untuk pakan burung. Ayah memelihara banyak burung, sepuluh sangkar, delapan berjejer di teras, dua di dapur.

Aku kembali mengayuh sepeda. Pelan-pelan aku menoleh ke belakang.

Mbah Sumi masih berdiri, memandang ke arahku.

Aku mengangguk kecil.

Nanti saja… pulang sekolah.

Kami tiba di sekolah hampir telat. Pak Mat, tukang kebun merangkap satpam, sudah berdiri di gerbang.

“Pak Mat, assalamu’alaikum!”

“Wa’alaikum salam, Kina. Hampir Bapak tutup gerbang ini.”

Aku nyengir kuda. Bibirku bergerak tanpa suara, makasih.

Kami berbaris di lapangan.

“Yang tinggi di depan,” kata Pak Ainul.

Nana mendorongku ke depan.

“Panas…” bisikku.

“Tapi kamu tinggi, Kin,” jawabnya asal.

Huffh. Beginilah nasib bertubuh jangkung. Ada plus minusnya. Plusnya, kalau mau ambil buah kersen, aku tak perlu cari galah. Tinggal hupp! tarik ranting terdekat.

Waktu terasa berjalan lambat. Akhirnya bel pulang berbunyi. Alhamdulillah. Jam menunjukkan pukul 13.00. Aku memasukkan buku sekenanya ke tas.

Panas… panas sekali.

Di parkiran sepeda aku menoleh ke sana-sini mencari Nana. Tak lama ia berlari kecil menghampiriku. Kami pulang bersama.

Jalan pulang jauh lebih berat. Tanjakan terasa panjang, matahari tepat di atas kepala. Aspal tampak seperti berair, menyilaukan mata. Sepedaku berderit kreek… kreek… mengikuti kayuhanku yang melemah.

Di jembatan Kebonagung aku turun, menuntun sepeda. Napasku tersengal.

“Aku nggak kuat,” kataku.

Nana ikut turun.

“Pengen minum es,” rajuknya.

Aku mengangguk sambil mengusap peluh dengan kerudung. Bau kecut. Asemm!

Saat turunan, aku kembali naik sepeda. Dari kejauhan terlihat orang berkerumun.

“Ada apa ya?” Nana menoleh padaku.

Aku mengangkat bahu.

“Lihat yuk,” ajaknya.

Kami mendekat. Orang-orang berkumpul di depan gubuk Mbah Sumi.

“Ada apa, Pak?” tanyaku pada seorang bapak bersarung.

“Buk Sumi adinggel omor.”

Hah?

Dunia seperti berhenti.

Bagai petir di siang bolong.

Pagi tadi…

Mbah Sumi memanggil namaku.

Melambai.

Menungguku.

Mataku berkabut. Airnya tumpah tanpa izin.

“Mbah Sumi…” isakku.

Nana mendekap bahuku erat.

Kenapa harus ditunda?

Kenapa tadi aku tidak mampir?

Sekadar menyapa. Sekadar salim. Sekadar bertanya, mbah ada apa?

Penyesalan merayap pelan, menusuk-nusuk hatiku.

Sejak hari itu aku belajar:

tidak semua panggilan bisa menunggu,

tidak semua “nanti” diberi kesempatan kedua.

Dan sekarang setiap kali aku melewati jalan itu,

aku selalu teringat satu lambaian tangan

yang tak pernah sempat kusambut. 

Al fatihah untuk Mbah Sumi. 💫


_writing by Rumzil Azizah_

Kamis, 01 Januari 2026

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Dari Hati ke Amal: Prinsip Deep Learning dalam Pendidikan Islam

Bergembira dengan kokurikuler sekolah

Liburan telah usai, lonceng sekolah kembali berbunyi, dan ruang-ruang kelas kembali dipenuhi peserta didik dengan beragam cerita serta harapan baru. Momentum ini seharusnya tidak hanya menjadi tanda dimulainya aktivitas belajar, tetapi juga saat yang tepat untuk merenungkan kembali hakikat pembelajaran itu sendiri.

Belajar dalam Islam bukan sekadar aktivitas intelektual, melainkan bagian dari ibadah yang melibatkan hati, akal, dan perilaku. Al-Qur’an menegaskan pentingnya ilmu yang disertai kesadaran dan pemahaman, sebagaimana firman Allah Swt.: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujādilah: 11). Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR. Muslim). 

Ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa belajar dalam Islam bukan sekadar proses akademik, tetapi perjalanan spiritual dan moral. Inilah yang sejalan dengan konsep deep learning (pembelajaran mendalam) yang menekankan proses belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, sehingga ilmu tidak berhenti di pikiran, tetapi menggerakkan hati dan amal.

Pembelajaran Berkesadaran: Belajar sebagai Ibadah

Prinsip berkesadaran mengajak peserta didik untuk memahami tujuan belajar secara utuh. Dalam Islam, kesadaran ini dimulai dari niat. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sesungguhnya segala amal tergantung pada niatnya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Belajar dengan kesadaran berarti menyadari bahwa menuntut ilmu adalah perintah Allah dan sarana untuk memperbaiki diri serta memberi manfaat bagi orang lain. Ketika kesadaran ini tumbuh, peserta didik tidak belajar karena terpaksa, melainkan dengan tanggung jawab dan keikhlasan.

Kesadaran yang terbangun akan menuntun peserta didik untuk memahami ilmu yang bermanfaat tidak hanya untuk dunia tetapi juga akhirat. "Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang berdoa untuknya." (HR. Muslim)

Pembelajaran Bermakna: Tantangan Sekolah Saat Ini

Pembelajaran bermakna terjadi ketika ilmu tidak berhenti pada hafalan, tetapi dipahami, dikaitkan, dan direnungkan. Al-Qur’an mendorong umatnya untuk terus berpikir dan mengambil pelajaran:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Ra’d: 3)

Dalam pendidikan Islam, pembelajaran bermakna mengajak peserta didik untuk mengaitkan ilmu dengan kehidupan nyata, nilai moral, dan tujuan hidup. Ketika peserta didik memahami makna kejujuran, ia belajar berlaku jujur. Ketika mempelajari kesabaran, ia mampu mengendalikan diri. Ilmu menjadi cahaya yang menuntun, bukan sekadar pengetahuan yang tersimpan di ingatan. Dengan pemahaman demikian insyaallah tidak akan ada lagi istilah sekolah tetapi tidak belajar. 

Pembelajaran Menggembirakan: Ilmu yang Menenangkan Jiwa

Islam memandang belajar sebagai aktivitas yang membawa ketenangan dan kebahagiaan. Rasulullah ﷺ mengajarkan agama dengan kasih sayang, dialog, dan suasana yang menyejukkan. Allah Swt. berfirman : 

"Allah  menghendaki  kemudahan  bagimu,  dan  tidak  menghendaki  kesukaran bagimu." (QS. Al-Baqarah: 18)

Prinsip pembelajaran menggembirakan yang diterapkan saat ini sejalan dengan menciptakan lingkungan belajar yang aman, menghargai perbedaan, dan membangkitkan rasa ingin tahu. 

Ketika peserta didik merasa dihargai dan bahagia, mereka lebih terbuka untuk belajar secara mendalam. Kegembiraan bukan berarti tanpa kesungguhan, tetapi suasana positif yang membuat ilmu mudah diterima dan diresapi.

Momentum kembalinya peserta didik ke sekolah setelah liburan adalah saat yang tepat untuk menata ulang arah pembelajaran. Prinsip pembelajaran mendalam bukan konsep baru dalam Islam, melainkan ruh pendidikan yang telah lama diajarkan Al-Qur’an dan dicontohkan Rasulullah ﷺ. Ketika sekolah mampu menghadirkan pembelajaran yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan, maka pendidikan akan kembali pada hakikatnya: menghidupkan hati, mencerdaskan akal, dan menuntun manusia dari ilmu menuju amal.

Rabu, 24 Desember 2025

 MENYOAL KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM BAYANG-BAYANG MEDIA SOSIAL

MENYOAL KESEHATAN MENTAL REMAJA DALAM BAYANG-BAYANG MEDIA SOSIAL


Ilustrasi kecanduan medai sosial


Semakin canggihnya teknologi di era digital masa kini membuat masyarakat dunia menggunakan dunia maya seperti media sosial untuk berinteraksi dengan masyarakat secara virtual. Selain itu, mereka menggunakan dunia maya untuk mengenalkan dirinya kepada khalayak ramai dengan media social. Hadirnya media sosial memudahkan penggunanya berkomunikasi dan berinteraksi dengan masyarakat dunia tanpa biaya yang mahal. Hal ini menyebabkan media sosial menarik banyak pengguna dari berbagai kalangan. Media sosial yang menarik perhatian ini menjadi primadona yang dapat digunakan di setiap kesempatan. Maka, tidak salah jika kita melihat remaja dimana pun berada terus-menerus berselancar ria dengan gawainya.

Pengguna dunia maya atau media sosial salah satunya adalah kalangan remaja. Menurut (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) dalam penggunaannya, remaja biasanya menggunakannya untuk membagikan kegiatan pribadinya, seperti curhatan dan foto bersama teman-temannya. Secara lumrah remaja selalu ingin mencoba hal-hal baru. Mereka selalu merasa penasaran dan tidak pernah merasa puas jika hanya mencobanya sekali. Hal inilah yang lama-kelamaan menimbulkan rasa kecanduan pada diri mereka. Selain menimbulkan kecanduan, media sosial juga berdampak pada kesehatan mental remaja yang jika dibiarkan dapat memperparah keadaan remaja masa kini. Dampak-dampak ini bukan hanya dampak positif tetapi juga berdampak negatif.   

Media Sosial dan Kesehatan Mental Remaja

Sebagai makhluk sosial tentunya masyarakat tidak lepas dari masyarakat lainnya. Terlepas dari hal tersebut tentunya untuk berkomunikasi dengtan masyarakat lain, mereka membutuhkan media untuk mengabarkan kondisinya pada yang lain. Pada era digital ini masyarakat menggunakan untuk saling berinteraksi satu sama lain secara virtual. Salah satu dunia maya yang sering digunakan adalah media sosial.

Media sosial seperti tiktok, instagram, facebook, youtube dan lain sebagainya  memang sangat terkenal dalam berbagai kalangan usia, salah satunya kalangan remaja. Penggunaan media sosial selain memudahkan para pengguna dalam berinteraksi, juga memudahkan penggunanya berteman dengan masyarakat dunia tanpa mengenal usia bahkan gendermya. Berdasarkan laporan Statistik Pendidikan 2024 yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik di antara 80,32 persen peserta didik yang menggunakan internet pada tahun 2024, mayoritas (90,76 persen) menggunakan internet untuk hiburan. Kemudian, tujuan penggunaan internet yang besar lainnya adalah mengakses media sosial (67,65 persen) dan mencari informasi/berita (61,65 persen). Selain itu, sekitar 27,53 persen peserta didik yang menggunakan internet adalah untuk pembelajaran online (Direktorat Statistik Kesejahteraan Rakyat, 2024).

Namun tanpa disadari para penggunanya, internet khususnya media sosial selain memberikan dampak positif, media sosial juga memberikan dampak negatif yang dapat menimbulkan tindak kejahatan bagi para penggunanya. Pengguna yang sering menjadi bumerang bagi tindak kejahatan remaja. Pada fase ini biasanya mereka masih mencari jati dirinya. Mereka akan mencoba hal-hal baru yang mampu membuat mereka penasaran. Selain itu, masa remaja merupakan masa tahapan kehidupan manusia yang ditandai dengan pemikiran yang labil (Mawaddah & Prastya, 2023).

Sebagaimana telah disampaikan di atas media sosial membuat penggunanya menjadi kecanduan. Kecanduan media sosial merupakan dampak negatif awal terhadap kesehatan mental remaja. Penyakit kecanduan ini membuat remaja tidak ingin lepas dari berselancar di media sosial sehingga mengabaikan realitas sebenarnya yang ada dalam lingkungan mereka. Kita bisa melihat terkadang para remaja abai terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, tidak salah jika ada istilah bersama tetapi tidak berkumpu karena asyik dengan media sosialnya masing-masing. Penyakit kecanduan ini pula nantinya akan memberikan peluang lebih besar terhadap remaja untuk terkena dampak lebih lanjut yaitu cyberbullying.

Dikutip dari situs unicef.org cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah bullying/perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform chatting, platform bermain game, dan ponsel. Adapun menurut Think Before Text, cyberbullying adalah perilaku agresif dan bertujuan yang dilakukan suatu kelompok atau individu, menggunakan media elektronik, secara berulang-ulang dari waktu ke waktu, terhadap seseorang yang dianggap tidak mudah melakukan perlawanan atas tindakan tersebut. Jadi, cyberbullying merupakan perilaku berulang yang ditujukan untuk menakuti, membuat marah, atau mempermalukan mereka yang menjadi sasaran.

Remaja yang mengalami kecanduan media sosial akan mengalami kecemasan apabila tidak bermedia sosial. Dirinya akan merasa gelisah dan merasakan ada sesuatu yang kurang dalam pikirinnya. Kecemasan ini meningkat saat remaja mengalami cyberbullying. Hal ini biasanya dimulai ketika mereka mendapatkan pesan-pesan ancaman dari seseorang yang dikenal atau tidak dikenal. Dari sisi pelaku bullying, luasnya media sosial tentunya memudahkan seseorang untuk mengirim hal-hal yang mereka inginkan yang berupa ancaman kepada orang lain. Remaja menjadi korban akan mengalami kecemasan berkelanjutan jika tidak mampu mengontrol mental mereka.

Dampak lanjutan dari kecanduan dan kecemasan yang diakibatkan oleh media sosial adalah depresi. Menurut penelitian, penggunaan media sosial inilah yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mental remaja. Dampak yang paling menonjol adalah depresi yang disebabkan oleh cyberbullying. Remaja yang mengalami perundungan cenderung mengalami tekanan mental yang berujung pada depresi sehingga dapat melakukan hal-hal negatif. Dampak paling parah dari depresi yang diakibatkan perundungan di media sosial adalah tindakan bunuh diri yang dilakukan oleh remaja. Yurika dikutip dari laman brin.go.id, menyebutkan kasus bunuh diri terjadi karena tekanan akademis, sosial, harapan-harapan tinggi untuk lebih berprestasi dan berkompeten di bidang akademi, perubahan hormon, emosi, permasalahan keluarga, makin banyak bullyingcyber bullying, pengaruh media informasi bebas, masalah identitas diri, dan kurangnya akses sumber dukungan kepada para remaja.

Tips dan Trik Menjaga Kesehatan Mental Remaja

Keasyikan dunia maya telah menghipnotis penggunanya khusunya remaja untuk terus menerus berselancar dalam dunia maya. Keasyikan kemudian bertransformasi menjadi candu yang menyebabkan para remaja lupa akan dirinya dan lingkungan sosial. Masalah semacam ini menjadi gejala bahwa si pengguna mengalami penurunan kesehatan mental karena tidak dapat mengontrol diri. Dampak bersarnya sebagaimana telah disebutkan di atas saat ini bukanlah sesuatu yang baru lagi tetapi telah menjadi momok menakutkan. Maka dari itu, perlu penanganan yang serius juga dalam mengatasi masalah kesehatan mental remaja akibat keasyikan bermedia sosial.

Sejatinya dalam penangan penurunan kesehatan mental remaja akibat pengaruh media sosial dapat melibatkan tiga elemen penting dalam kehidupan di lingkungan, yaitu diri sendiri, keluarga dan masyarakat. Ketiga elemen tersebut yang menurut Rosmalina dan (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) disebut factor internal dan eksternal. Factor internal merupakan factor yang berasal dari dalam diri sendiri seperti sifat, bakat, hereditas, dan lain sebagainya. Sementara itu, factor eksternal merupakan factor yang memengaruhi remaja dari luar seperti keluarga dan lingkungan.

Secara individu, remaja dapat menjaga kesehatan mentalnya dengan beragam cara. Keberhasilan beberapa cara tersebut diperlukan kekonsistenan diri untuk melawan keinginan berlebihan mengakses dunia maya. Para remaja yang berjuang untuk memerangi keinginan berlebih dalam berselancar di dunia maya dapat mengikuti tips dan trik yang diutarakan oleh (Rosmalina & Khaerunnisa, 2021) ini.

Pertama, hal yang harus dilakuakn untuk menjaga kesehatan mental remaja adalah membatasi penggunaan media sosial. Hal ini digunakan agar remaja bisa mebagi waktu. Selain itu juga, cara ini dapat mengurangi dampak kecanduan yang berlebihan pada remaja. Cara yang digunakan untuk membatasi penggunaan media sosial adalah dengan alarm pengingat yang berbunyi saat batas waktu penggunaan media sosial. Kedua, media sosial dapat digunakan untuk mencari informasi seputar pengetahuan yang berhubungan dengan diri dan sekolah. Artinya, media sosial berfungsi sebagai sumber pengetahuan. Selanjutanya, carilah kesibukan lain untuk mengatasi kecanduan yang disebabkan oleh media sosial seperti menonton televise, membaca koran, berkumpul bersama keluarga dan tetangga dan lain sebagainya..

Ketiga, Melakukan hal positif selain mengakses internet dapat membantu mengurangi kecanduan penggunaan media sosial. Para remaja dapat melakukan aktivitas di dalam rumah atau luar rumah. Di dalam rumah, remaja dapat membantu pekerjaan orang tua, mengerjakan tugas, dan mengasah keterampilan membaca dan menulis. Di luar rumah, para remaja dapat berolahraga dan bersosialisasi dengan teman dan tetangga. Keempat, menggunakan media sosial dengan bijak menjadi factor penting untuk terhindar dari penurunan kesehatan mental remaja. Biasanya remaja menggunakan media sosial untuk hal-hal yang menarik perhatian mereka tanpa melihat dampak yang diperoleh. Mulai sekarang mulailah menggunakanakan medua sosial dengan bijak. Kelima, hal terakhir yang dapat dilakukan adalah menghapus media sosial dari perangkat untuk menghindari dampak kesehatan mental yang lebih serius.

Factor internal remaja memberikan dukungan penting agar remaja tidak mengalami penuruan kesehatan mental saat bermedia sosial. Keinginan kuat dari individu remaja untuk terlepas dari jerat media sosial yang berdampak pada kesehatan mental harus didukung factor eksternal yaitu lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pengaruh keluarga terhadap kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting. Dukungan dan dorongan penuh dari keluarga membuat semangat dari remaja tumbuh. Hal inilah yang membuat mereka sedikit demi sedikit melupakan dunia maya khususnya media sosial. Selain dukungan, interaksi satu sama lain juga membuat masalah yang terjadi pada kesehatan mental remaja sedikit demi sedikit juga terobati.

Selain keluarga, lingkungan sekolah juga dapat mengobati kesehatan mental remaja. Kesibukan yang terjadi di lingkungan sekolah membuat perhatian remaja terhadap dunia maya menjadi teralihkan. Mereka akan memikirkan hal-hal yang terjadi di sekolah tanpa memikirkan masalah yang terjadi di media sosial. Begitu juga dengan lingkungan masyarakat. Lingkungan memberikan peran penting dalam menjaga kesehatan mental remaja dari pengaruh media sosial. Dengan mengikuti kegiatan yang terjadi di masyarakat, mereka sibuk pada organisasinya tanpa memiliki kesempatan untuk bergabung dengan kesibukan di  media sosial. Dengan begitu, remaja akan berada dalam lingkungan yang positif dan tidak mendapatkan ancaman-ancaman dari media sosial seperti cyberbullying.

Kemajuan teknologi khususnya media sosial seperti tiktok, instagram, facebook, dan youtube tidak dapat ditolak. Produk teknologi tersebut memang harus juga dikenalkan kepada remaja khususnya dalam penggunaan secara bijak. Kecanduan, kecemasan dan depresi bahkan bunuh diri merupakan dampak serius yang salah satunya disebabkan oleh media sosial tanpa kesadaran dan rasa bijak. Maka dari itu perhatian diri sindiri, keluarga, teman, sekolah, dan masyarakat menjadi penting untuk membimbing remaja berada dalam koridor yang tepat dalam penggunaan media sosial sehingga kesehatan mental tetap terjaga.

Penulis : Nur Azizah Asura Baihaqi (XII-C)

Selasa, 23 Desember 2025

Lima Ribu dari Langit

Lima Ribu dari Langit

 


Pagi itu, Ahmad terbangun agak kesiangan. Tangannya cepat-cepat meraih kopiah, disusulkannya langkah menuju masjid. Azan Subuh hampir selesai.

Tasss!

Sandal Swallow-nya terlepas. Jempol kakinya membentur paving lapangan. Kukunya retak, darah keluar. Ahmad meringis, tapi tak berhenti. Dengan langkah tertatih ia tetap menuju masjid.

“Yang telat shalatnya di gazebo!”

Suara mu’allim terdengar tegas.

Ahmad tersentak. Ia menunduk, berjalan ke barisan santri yang telat. Setelah shalat dan membaca Yasin bersama, mereka mendapat ta’ziran membersihkan tempat wudu.

“Kenapa telat, Mad? Biasanya kamu paling rajin,” tanya temannya.

Sambil menyikat lumut di saluran air, Ahmad menjawab pelan,

“Semalam hujan deras. Aku nggak bisa tidur. Takut banjir masuk kamar. Kamarku kan bunker, kalau hujan air suka rembes.”

Temannya mengangguk paham.

Setelah ta’ziran selesai, Ahmad dan teman-temannya melapor kepada mu’allim. Ahmad lalu melangkah ke pasarean para kiai di dekat masjid. Ia berwudu kembali, lalu mengambil mushaf lusuh yang tersusun rapi di rak pojok.

Setiap hari, selain wirid wajib santri, Ahmad punya kebiasaan khusus: ngaji Surah At-Taubah. Entah mengapa hatinya selalu tertarik pada surah itu. Ia tahu, surah At-Taubah tidak diawali basmalah. Namun dua ayat terakhirnya selalu membuat dadanya lapang, seolah menjadi pegangan hidupnya.

“Kriukkk…”

Perut Ahmad berbunyi. Jam sudah menunjukkan pukul delapan.

Ia menyelesaikan bacaannya, menutup mushaf, menciumnya, lalu mengangkatnya ke atas kepala.

“Shadaqallâhul ‘azhîm…” ucapnya lirih.

Sandal yang tadi terlepas ia perbaiki dengan peniti kapal agar tidak putus lagi. Ahmad merogoh saku.

Seribu, dua ribu, tiga ribu, dan beberapa receh.

Tersisa tiga ribu lima ratus rupiah.

“Cukup,” gumamnya. Seribu lima ratus buat nasi terong dan telor ceplok di warung depan, dua ribu buat ongkos bis mini ke Situbondo kota. Hari ini ia berniat mengambil kiriman uang dari abahnya di Madura.

Setelah izin ke bagian keamanan pondok, Ahmad berjalan kaki cukup jauh menuju jalan Pantura. Setengah jam menunggu, bis mini datang. Ahmad melambai, naik, dan turun tepat di depan BRI Situbondo kota.

Di dalam bank, suasananya dingin, wangi, dan rapi. Ahmad mengisi slip, duduk menunggu. Nomor antreannya tujuh. Tak lama, ia dipanggil ke teller nomor satu. Seorang ibu paruh baya dengan name tag bertuliskan Sulastri.

“Ambil kiriman, Dek?” tanyanya lembut.

“Iya, Bu,” jawab Ahmad sambil menyerahkan buku tabungan dan slip.

Beberapa menit kemudian, kening ibu itu berkerut.

“Belum ada uang masuk, Dek.”

“Apa…?”

Hati Ahmad seakan runtuh. Ibu teller memastikan lagi. Tetap sama. Tidak ada kiriman.

Ahmad terdiam. Dadanya panas. Air matanya menggenang. Sejak pagi cobaan datang beruntun: telat Subuh, sandal putus, ta’zir, dan kini kiriman abah belum sampai. Uangnya habis. Tidak tersisa ongkos pulang.

Tangis Ahmad pecah di depan teller.

“Jangan menangis, Dek,” ujar Bu Sulastri.

“Kamu punya uang buat balik ke pondok?”

Ahmad menggeleng, sambil mengusap mata dengan ujung lengan bajunya.

Ibu itu terdiam sejenak. Lalu ia membuka dompet, mengambil beberapa lembar uang, dan menyodorkannya.

“Ini, Dek. Buat ongkos. Sabar ya.”

Ahmad menerimanya dengan tangan gemetar.

Lima ribu rupiah.

“Masya Allah…”

Air matanya jatuh, kali ini karena syukur.

Ia berkali-kali mengucapkan terima kasih, menunduk penuh adab. Bagi orang lain mungkin kecil, tapi bagi Ahmad, uang itu adalah bukti nyata pertolongan Allah.

Di luar bank, Ahmad menengadah pelan.

“Terima kasih, ya Allah. Engkau datang menolong hamba-Mu lewat tangan siapa saja yang Engkau kehendaki.”

Dan pagi itu, Ahmad belajar:

santri boleh tidak punya apa-apa, asal hatinya tetap penuh tawakkal pada Allah SWT. 

Terima kasih ya Allah 

Terima kasih Bu Sulastri. ✨


_writing by Rumzil Azizah_