Jumat, 09 Oktober 2026

Datangkan DLH Sumenep, SMAS Plus Miftahul Ulum Ajak Murid Ubah Sampah Jadi Berkah

Datangkan DLH Sumenep, SMAS Plus Miftahul Ulum Ajak Murid Ubah Sampah Jadi Berkah

 

Siswa mengikuti pelatihan dengan antusias

SUMENEP – Kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamkan melalui pengetahuan sekaligus tindakan nyata. Berangkat dari semangat tersebut, SMAS Plus Miftahul Ulum mendatangkan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sumenep untuk memberikan pelatihan pengolahan sampah kepada murid, Jumat (9/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Usymuni tersebut merupakan bagian dari program kokurikuler bertema Gaya Hidup Berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, murid diajak memahami persoalan sampah sekaligus mengenali berbagai peluang pemanfaatannya agar lebih bernilai guna.

Pemateri dari DLH Kabupaten Sumenep, Edi Yulianto, S.T., M.I.L., menjelaskan berbagai hal mendasar mengenai sampah, mulai dari pengertian, jenis-jenis, hingga manfaat pengelolaannya.

Materi tersebut memberikan pemahaman kepada murid bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai limbah yang tidak berguna. Melalui pemilahan dan pengolahan yang tepat, sebagian sampah dapat dimanfaatkan kembali sehingga mengurangi beban lingkungan.

Selain menambah wawasan, pelatihan ini diharapkan mampu menumbuhkan kebiasaan memilah sampah sejak dari sumbernya. Murid juga didorong untuk menerapkan perilaku ramah lingkungan, baik di sekolah maupun di rumah.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Rumzil Azizah, M.Pd., menyambut baik pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai, edukasi lingkungan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter murid yang peduli terhadap kebersihan dan kelestarian alam.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menanamkan kesadaran kepada murid bahwa menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Sampah bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan, tetapi juga memiliki potensi untuk dimanfaatkan apabila dikelola dengan baik. Kami berharap pengetahuan yang diperoleh hari ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dimulai dari lingkungan sekolah,” ungkapnya.

Menurutnya, pembelajaran bertema Gaya Hidup Berkelanjutan perlu diwujudkan melalui pengalaman nyata agar murid tidak sekadar memahami materi, tetapi juga mampu membangun kebiasaan positif dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Sementara itu, Koordinator Kokurikuler SMAS Plus Miftahul Ulum, Ema Yuliatin, S.Si., menjelaskan bahwa pelatihan tersebut dirancang untuk menghubungkan pembelajaran dengan persoalan lingkungan yang dekat dengan kehidupan murid.

“Kami ingin kegiatan kokurikuler ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi murid. Melalui kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sumenep, murid diharapkan memahami jenis-jenis sampah, mengetahui cara pengelolaannya, dan menyadari bahwa tindakan sederhana seperti memilah sampah dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan,” tuturnya.

Ema menambahkan, tema Gaya Hidup Berkelanjutan tidak cukup dipahami sebagai konsep dalam pembelajaran. Tema tersebut perlu diterjemahkan menjadi kebiasaan nyata, seperti mengurangi sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, serta menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Keterlibatan DLH Kabupaten Sumenep dalam kegiatan ini menjadi salah satu upaya sekolah memperluas pengalaman belajar murid melalui kolaborasi dengan instansi yang memiliki kompetensi di bidang lingkungan hidup.

Melalui pelatihan tersebut, SMAS Plus Miftahul Ulum berharap lahir generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang lingkungan, tetapi juga mampu mengambil peran dalam menjaga kelestariannya.

Sebab, perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Kebiasaan memilah dan mengelola sampah secara bijak dapat menjadi langkah awal untuk mewujudkan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

Rabu, 30 September 2026

STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep Bertransformasi Menjadi Institut, SMAS Plus Sambut dengan Penuh Optimisme

STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep Bertransformasi Menjadi Institut, SMAS Plus Sambut dengan Penuh Optimisme

 



SUMENEP – Kabar perubahan status Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Miftahul Ulum Tarate Sumenep menjadi Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep (ISMU) mendapat sambutan positif dari keluarga besar SMAS Plus Miftahul Ulum. Transformasi tersebut dinilai sebagai langkah penting dalam memperkuat ekosistem pendidikan di bawah naungan Yayasan Abdullah Dewi Hasanah, Pondok Pesantren Al-Usymuni.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Neng Rumzil Azizah, M.Pd., menyambut baik perubahan status tersebut. Ia mengaku turut merasa bahagia karena peningkatan status perguruan tinggi yang berada dalam satu naungan yayasan tersebut menjadi bagian dari perkembangan lembaga pendidikan secara keseluruhan.

Menurutnya, perubahan dari sekolah tinggi menjadi institut bukan sekadar perubahan nama kelembagaan. Lebih dari itu, transformasi tersebut menunjukkan adanya perkembangan dan kepercayaan terhadap lembaga pendidikan yang terus berupaya meningkatkan kualitasnya.

“Alhamdulillah, kami sangat menyambut baik dan ikut merasa bahagia dengan perubahan status STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep menjadi Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep. Ini merupakan sebuah perkembangan yang patut kita syukuri dan menjadi motivasi bagi kita semua,” ungkapnya.

Neng Rumzil berharap keberadaan Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep dapat semakin memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat, khususnya bagi lulusan sekolah dan madrasah di lingkungan Pondok Pesantren Al-Usymuni serta masyarakat Sumenep secara umum.

Ia juga melihat transformasi tersebut dapat memperkuat kesinambungan pendidikan bagi siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum. Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, para siswa memiliki lebih banyak peluang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi yang masih berada dalam satu ekosistem kelembagaan.

“Harapan kami, institut ini semakin maju, semakin dipercaya masyarakat, dan mampu melahirkan lulusan yang unggul, berkarakter, serta memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Tentu kami juga berharap sinergi antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi di bawah yayasan dapat semakin kuat,” tambahnya.

Senada, Waka Kesiswaan, Tutik Herawati, S.S. turut menyampaikan kebahagiaannya atas perubahan status tersebut. Menurutnya, kehadiran Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep membuka peluang yang lebih luas bagi siswa-siswi SMAS Plus untuk memperoleh pendidikan tinggi yang berkualitas.

Ia menilai keberadaan perguruan tinggi dalam satu lingkungan kelembagaan dapat menjadi bagian dari upaya membangun kesinambungan pendidikan. Siswa tidak hanya mendapatkan bekal akademik di tingkat sekolah menengah, tetapi juga memiliki gambaran dan akses yang lebih dekat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

“Kami tentu sangat bahagia dengan perubahan status ini. Bagi kami, ini menjadi kabar baik, khususnya bagi siswa-siswi SMAS Plus Miftahul Ulum. Mereka memiliki peluang yang semakin terbuka untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan mendapatkan pendidikan yang berkualitas,” tuturnya.

Ia berharap Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep ke depan terus berkembang, baik dari sisi program studi, kualitas sumber daya manusia, sarana prasarana, maupun prestasi akademik dan nonakademik.

Menurutnya, kemajuan perguruan tinggi tersebut juga akan memberikan dampak positif terhadap ekosistem pendidikan di lingkungan Yayasan Abdullah Dewi Hasanah. Sinergi antara sekolah, pesantren, dan perguruan tinggi dinilai dapat menjadi kekuatan dalam membangun pendidikan yang berkelanjutan.

Transformasi STAI Miftahul Ulum Tarate Sumenep menjadi Institut Miftahul Ulum Tarate Sumenep pun menjadi momentum baru bagi keluarga besar Yayasan Abdullah Dewi Hasanah dan Pondok Pesantren Al-Usymuni. Perubahan tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan status kelembagaan, tetapi berlanjut pada peningkatan mutu pendidikan, perluasan akses, serta lahirnya generasi yang berilmu, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat.

Minggu, 20 September 2026

SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Workshop Literasi Digital, Bekali Siswa Bijak Bermedia Sosial dan Manfaatkan AI

SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Workshop Literasi Digital, Bekali Siswa Bijak Bermedia Sosial dan Manfaatkan AI

 

Dokumentasi pribadi

SUMENEP,  SMAS Plus Miftahul Ulum menggelar Workshop Literasi Digital bertajuk “Cerdas Bermedia, Bijak Berteknologi: Membangun Generasi Literat Digital di Era AI”, Sabtu (19/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Al-Usymuni tersebut diikuti oleh siswa dan guru SMAS Plus Miftahul Ulum. Workshop dimulai pukul 08.30 hingga 12.00 WIB dengan menghadirkan dua narasumber, yakni Gunawan Sujana, S.Pd., S.PT., Analis Kebijakan Publik Dinas Kominfo Kabupaten Sumenep, dan Ema Yuliatin, S.Si., guru inovatif SMAS Plus Miftahul Ulum.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum dalam sambutannya menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital harus disikapi secara bijak. Menurutnya, media sosial dan kecerdasan buatan (AI) tidak hanya menghadirkan tantangan, tetapi juga membuka peluang besar apabila dimanfaatkan secara positif.

“Teknologi, termasuk media sosial dan AI, dapat memberikan dampak positif dalam kehidupan apabila kita mampu menggunakannya dengan bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan para siswa agar tidak terburu-buru mempercayai maupun menyebarkan informasi yang diterima melalui media sosial. Menurutnya, budaya cek dan ricek menjadi bagian penting dalam membangun literasi digital.

“Baca, pahami, baru bagikan. Jangan sampai kita menjadi bagian dari penyebaran informasi yang belum tentu benar,” pesannya.

Sementara itu, narasumber pertama, Gunawan Sujana, membahas materi tentang “Cerdas dan Bijak dalam Berteknologi”. Materi tersebut menyoroti penggunaan media sosial dan artificial intelligence (AI) dalam kehidupan sehari-hari.

Gunawan mengajak peserta untuk memahami bahwa teknologi merupakan alat yang dapat memberikan manfaat besar apabila digunakan secara tepat. Sebaliknya, penggunaan yang tidak bijak dapat menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari penyebaran informasi yang keliru hingga dampak negatif terhadap kehidupan sosial.

Pada sesi berikutnya, Ema Yuliatin memperkenalkan pemanfaatan Gemini Education kepada para siswa. Peserta diajak mengenal bagaimana teknologi AI dapat dimanfaatkan sebagai pendukung proses belajar, mulai dari mencari ide, memahami materi, mengembangkan gagasan, hingga membantu proses pembelajaran secara lebih efektif.

Kegiatan berlangsung interaktif. Para siswa tidak hanya mendapatkan materi secara teoritis, tetapi juga diarahkan untuk memahami penggunaan teknologi secara praktis dan bertanggung jawab.

Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya SMAS Plus Miftahul Ulum dalam memperkuat budaya literasi digital di lingkungan sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu menjadi generasi literat digital yang cerdas, kritis, kreatif, dan bijak dalam memanfaatkan teknologi di era AI.

Selasa, 08 September 2026

Rapat Bulanan Pendidik SMAS Plus Miftahul Ulum: Guru Jadi Teladan, Melek AI, Projek Harus Berdampak

Rapat Bulanan Pendidik SMAS Plus Miftahul Ulum: Guru Jadi Teladan, Melek AI, Projek Harus Berdampak

Dokumentasi Rapat Guru

SUMENEP – Menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi pembelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk menjadi teladan bagi peserta didik. Prinsip itulah yang ditekankan Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Neng Rumzil Azizah, M.Pd., dalam rapat bulanan pendidik dan tenaga kependidikan, Selasa (8/9/2026).

Rapat yang berlangsung di Lab Komputer 2 SMAS Plus Miftahul Ulum tersebut dimulai pukul 09.00 WIB dan berlangsung hingga selesai. Kegiatan menjadi momentum untuk melakukan penguatan, berbagi praktik baik, sekaligus mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran selama satu bulan terakhir.

Dalam agenda motivasi, Neng Rumzil mengingatkan kembali kemuliaan profesi guru. Menurutnya, guru tidak cukup hanya menguasai kompetensi akademik dan pedagogik. Sikap serta perilaku guru juga menjadi bagian penting dalam proses pendidikan.

“Menjadi guru adalah tugas mulia. Guru harus bisa menjadi guru yang dapat digugu dan ditiru,” pesannya.

Selain keteladanan, perhatian khusus juga diberikan terhadap pendampingan peserta didik inklusi. Kepala sekolah mendorong para guru agar mampu memberikan bimbingan sesuai karakteristik dan kebutuhan setiap peserta didik.

Hal lain yang menjadi perhatian adalah persiapan pemilihan pengurus OSIS yang akan segera dilaksanakan. Neng Rumzil mengingatkan agar proses pemilihan dilakukan secara cermat dan memilih siswa yang mampu menjalankan amanah organisasi.

OSIS, kata dia, bukan sekadar organisasi siswa, melainkan wadah untuk mengembangkan kreativitas, kepemimpinan, dan potensi peserta didik di lingkungan sekolah.

“OSIS adalah wadah kreatif siswa di sekolah. Karena itu, harus dipilih dengan baik,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, kepala sekolah juga menekankan pentingnya kebermaknaan projek yang dilaksanakan di sekolah. Setiap projek diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan internal, tetapi mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

“Projek harus berdampak kepada lingkungan sekitar,” tegasnya.

Setelah sesi motivasi, rapat dilanjutkan dengan agenda berbagi praktik baik. Ibu Ema Yuliatin, S.Si., membagikan pengalaman mengenai pemanfaatan Gemini Education dalam mendukung aktivitas pendidikan dan pembelajaran.

Berbagi praktik baik tersebut menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperluas wawasan mengenai pemanfaatan teknologi kecerdasan artifisial dalam dunia pendidikan. Pemanfaatan teknologi diarahkan agar tetap mendukung tujuan pembelajaran dan membantu guru bekerja secara lebih efektif.

Agenda terakhir diisi dengan evaluasi bulanan pembelajaran yang dipimpin Bapak Nilta Najmur Rahman, M.Pd. Evaluasi dilakukan untuk merefleksikan proses pembelajaran, mengidentifikasi berbagai kendala, serta merumuskan perbaikan yang diperlukan.

Rapat bulanan tersebut menjadi bagian dari upaya SMAS Plus Miftahul Ulum membangun budaya refleksi dan perbaikan berkelanjutan. Melalui evaluasi, berbagi praktik baik, dan penguatan motivasi, sekolah berupaya memastikan proses pendidikan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi peserta didik maupun lingkungan sekitar.

Senin, 07 September 2026

Upacara SMAS Plus Miftahul Ulum: Kaizen dan Istiqamah, Jalan Menjadi Lebih Baik

Upacara SMAS Plus Miftahul Ulum: Kaizen dan Istiqamah, Jalan Menjadi Lebih Baik

Dokumentasi Upacara 

Sumenep – Menjadi hebat tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, perubahan justru lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus. Pesan itulah yang disampaikan Moh. Lutfi, M.Pd., saat menjadi pembina upacara bendera di SMAS Plus Miftahul Ulum, Senin (7/9/2026).

Di hadapan seluruh siswa, guru, dan tenaga kependidikan, Moh. Lutfi mengajak peserta upacara belajar tentang kaizen melalui salah satu anime populer, Naruto. Menurutnya, perjalanan Naruto Uzumaki menjadi ninja hebat bukanlah proses instan. Ia tumbuh melalui latihan, kegagalan, evaluasi, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

"Naruto mengajarkan kita bahwa menjadi hebat bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mau terus berproses dan memperbaiki diri," pesannya.

Konsep kaizen, yang secara sederhana berarti perbaikan secara terus-menerus, kemudian dikaitkan dengan nilai keislaman istiqomah. Moh. Lutfi menekankan bahwa dalam kehidupan seorang muslim, konsistensi dalam melakukan kebaikan memiliki nilai yang jauh lebih penting daripada semangat besar yang hanya muncul sesekali.

Ia mengibaratkan seorang siswa yang ingin mendapatkan prestasi. Keberhasilan tidak cukup hanya dengan belajar keras sehari sebelum ujian. Sebaliknya, siswa perlu membangun kebiasaan belajar sedikit demi sedikit, memperbaiki kesalahan, dan mempertahankan kebiasaan baik tersebut secara konsisten.

"Kaizen mengajarkan continuous improvement, sedangkan Islam mengajarkan istiqomah. Keduanya bertemu pada satu pesan: jangan berhenti menjadi lebih baik," ujarnya.

Menurutnya, kegagalan bukan alasan untuk berhenti. Kesalahan justru dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki langkah berikutnya. Prinsip tersebut juga tercermin dalam perjalanan Naruto yang berkali-kali menghadapi kegagalan, tetapi terus berlatih hingga mampu berkembang menjadi sosok yang lebih kuat.

Pesan itu kemudian diarahkan kepada kehidupan siswa di lingkungan sekolah. Perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Datang tepat waktu, menjaga kebersihan, melengkapi alat belajar, menghormati guru, disiplin mengerjakan tugas, membaca buku, serta menjaga ibadah merupakan contoh sederhana yang dapat dilakukan setiap hari.

"Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memulai kebaikan. Mulailah dari satu hal kecil hari ini, kemudian ulangi besok, lusa, dan seterusnya. Itulah kaizen yang bertemu dengan istiqomah," tegasnya.

Upacara yang berlangsung pada Senin pagi tersebut menjadi momentum bagi warga sekolah untuk tidak sekadar memahami kedisiplinan sebagai aturan, tetapi juga sebagai bagian dari proses pembentukan karakter.

Melalui pesan tersebut, siswa SMAS Plus Miftahul Ulum diajak memahami bahwa kesuksesan bukanlah hasil dari satu lompatan besar. Kesuksesan merupakan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan tekun dan konsisten.

Naruto boleh saja menjadi tokoh dalam sebuah animasi. Namun, nilai perjuangan, latihan, evaluasi, dan pantang menyerah yang tergambar di dalamnya dapat menjadi refleksi bagi kehidupan nyata.

Pada akhirnya, pesan yang dibawa dari lapangan upacara pagi itu sederhana: jadilah lebih baik daripada kemarin, meskipun hanya sedikit. Sebab, kebaikan yang terus dilakukan akan menjadi karakter, dan karakter yang dijaga dengan istiqomah akan membentuk masa depan.

Senin, 24 Agustus 2026

Maulid Nabi Bersama, Perkuat Keteladanan Rasulullah di Tengah Tantangan Zaman

Maulid Nabi Bersama, Perkuat Keteladanan Rasulullah di Tengah Tantangan Zaman

Foto bersama setelah acara

SUMENEP — Senin, 24 Agustus 2026. Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. dilaksanakan bersama oleh SMP Plus Miftahul Ulum dan SMAS Plus Miftahul Ulum dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan yang diikuti oleh guru serta siswa dari kedua jenjang pendidikan dalam satu yayasan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menanamkan nilai-nilai keteladanan beliau kepada generasi muda di tengah tantangan zaman modern.

Dalam sambutannya, Kyai Hisbullah Huda, S.H., menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan. Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada guru, OSIS, dan panitia yang telah mempersiapkan acara dengan baik.

“Terima kasih kepada seluruh guru, OSIS, dan panitia yang telah menyiapkan acara ini dengan baik,” ujar Kyai Hisbullah.

Ia juga menyampaikan penghargaan kepada Ustadz H. Masturi, Lc., yang berkenan hadir untuk memberikan ilmu dan tausiyah kepada para siswa.

Kyai Hisbullah mengajak seluruh peserta untuk menyimak tausiyah dengan sungguh-sungguh. Menurutnya, peringatan Maulid Nabi tidak cukup hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi harus mampu mendorong peserta didik untuk menerapkan keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

“Simak dengan baik apa yang akan disampaikan penceramah sehingga kita bisa meneladani Nabi Muhammad Saw. dengan baik pula, apalagi di zaman modern ini,” pesannya.

Ia menilai perkembangan zaman yang semakin kompleks juga membawa tantangan terhadap moral dan akidah generasi muda. Karena itu, keteladanan Rasulullah menjadi penting sebagai pegangan dalam menghadapi perubahan zaman.

“Zaman saat ini adalah zaman yang sudah tua. Kalau sudah tua berarti rentan, rentan moral dan akidah,” katanya.

Menurutnya, kondisi tersebut harus menjadi perhatian bersama. Para siswa diharapkan mampu mengambil pelajaran dari akhlak Rasulullah dan menjadikannya sebagai pedoman dalam pergaulan maupun kehidupan sehari-hari.

Sementara itu, Ustadz H. Masturi, Lc., dalam tausiyahnya menjelaskan bahwa peringatan Maulid Nabi memiliki keterkaitan erat dengan kecintaan umat Islam kepada Rasulullah Muhammad Saw.

Ia mengingatkan bahwa Allah Swt. memerintahkan umat Islam untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Karena itu, momentum Maulid semestinya menjadi sarana untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah.

Menurut Ustadz Masturi, menjadikan Nabi Muhammad sebagai idola tidak berhenti pada kekaguman. Kecintaan tersebut harus diwujudkan melalui upaya meneladani kehidupan dan akhlak beliau.

“Menjadikan Kanjeng Nabi sebagai idola harus meneladani Nabi Muhammad Saw.,” tuturnya.

Ia kemudian menggambarkan Rasulullah sebagai sosok pembelajar, pedagang yang jujur, sekaligus diplomat yang ulung. Berbagai keteladanan tersebut menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw. memiliki karakter yang relevan untuk dijadikan inspirasi oleh generasi muda dalam menghadapi kehidupan modern.

Salah satu karakter utama Rasulullah yang disoroti adalah kejujuran. Bahkan, jauh sebelum diangkat menjadi Rasul, Nabi Muhammad Saw. telah dikenal luas karena integritas dan kejujurannya.

Kejujuran tersebut membuat masyarakat memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang dapat dipercaya.

Bagi para siswa, keteladanan tersebut menjadi pesan penting bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan, tetapi juga oleh karakter. Kejujuran, tanggung jawab, ketekunan belajar, dan kemampuan membangun hubungan dengan orang lain merupakan nilai yang perlu terus ditanamkan dalam kehidupan.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. di lingkungan SMP Plus dan SMAS Plus Miftahul Ulum pun tidak sekadar menjadi agenda tahunan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi guru dan siswa untuk kembali menjadikan Rasulullah sebagai teladan dalam membangun karakter generasi muda yang berakhlak, berilmu, dan mampu menghadapi tantangan zaman.

Senin, 10 Agustus 2026

Semarak HUT Ke-81 RI, Guru dan Tendik SMAS Plus Miftahul Ulum Adu Kekompakan

Semarak HUT Ke-81 RI, Guru dan Tendik SMAS Plus Miftahul Ulum Adu Kekompakan

 

Pembukaan lomba HUT Ke-81 Republik Indonesia

SUMENEP – Semarak memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mulai terasa di lingkungan SMAS Plus Miftahul Ulum Sumenep. Senin (10/8/2026), para pendidik dan tenaga kependidikan (tendik) sekolah tersebut turut ambil bagian dalam serangkaian lomba yang digelar khusus untuk memeriahkan momentum kemerdekaan.

Kegiatan diawali dengan pembukaan yang berlangsung penuh keakraban. Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Neng Rumzil Azizah, M.Pd., memberikan sambutan sekaligus arahan kepada seluruh peserta sebelum perlombaan dimulai.

Dalam sambutannya, Neng Rumzil mengajak seluruh warga sekolah tidak sekadar menjadikan peringatan HUT Kemerdekaan sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, momentum kemerdekaan perlu menjadi ruang untuk kembali merefleksikan perjuangan para pahlawan.

Ia berharap semangat perjuangan tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dan tenaga kependidikan.

“Semoga kita bisa mengambil hikmah dari perjuangan para pahlawan dan mengimplementasikannya dalam pembelajaran nanti,” pesannya.

Usai pembukaan, suasana sekolah langsung berubah. Para peserta yang sebelumnya mengikuti kegiatan secara serius mulai menunjukkan sisi kompetitif mereka. Gelak tawa dan sorak-sorai pun terdengar saat perlombaan pertama dimulai.

Bukan hanya soal menjadi pemenang, berbagai lomba tersebut juga menjadi ajang untuk mempererat kebersamaan antarpersonel sekolah. Guru dan tenaga kependidikan terlihat saling memberikan dukungan kepada rekan-rekannya yang sedang berlaga.

Panitia kegiatan, Abu Khoiro, S.Pd., menjelaskan bahwa rangkaian lomba akan berlangsung selama tiga hari, mulai Senin hingga Rabu. Setiap harinya terdapat tiga jenis perlombaan sehingga secara keseluruhan terdapat sembilan lomba.

“Setiap hari ada tiga lomba. Jadi selama tiga hari total ada sembilan lomba,” jelasnya.

Pada hari pertama, tiga perlombaan yang dimainkan adalah jalan berliku, injak balon, dan lari pingpong. Ketiganya dipilih untuk menghadirkan suasana kompetisi yang ringan, menyenangkan, sekaligus menguji ketangkasan dan kekompakan peserta.

Salah seorang peserta, Nia Yuliati, S.Pd. mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, lomba yang digelar panitia cukup menarik karena mampu menghadirkan suasana berbeda di tengah rutinitas pekerjaan.

“Senang sekali. Kegiatannya menarik dan memberikan semangat,” ungkapnya.

Kemeriahan hari pertama menjadi pembuka dari rangkaian kegiatan yang masih akan berlangsung hingga Rabu. Selain menjadi bagian dari perayaan HUT ke-81 RI, lomba tersebut diharapkan dapat menjadi momentum memperkuat solidaritas, kebersamaan, dan semangat seluruh keluarga besar SMAS Plus Miftahul Ulum.

Semangat kemerdekaan pun tidak berhenti pada perlombaan. Lebih jauh, semangat itu diharapkan ikut terbawa ke ruang-ruang pembelajaran, menjadi energi positif bagi para pendidik dalam mendampingi murid serta memberikan kontribusi terbaik bagi sekolah.

Senin, 03 Agustus 2026

Prestasi dan Integritas Jadi Sorotan Upacara Perdana Agustus di SMAS Plus Miftahul Ulum

Prestasi dan Integritas Jadi Sorotan Upacara Perdana Agustus di SMAS Plus Miftahul Ulum

 


SUMENEP – Suasana khidmat menyelimuti lapangan SMAS Plus Miftahul Ulum Sumenep saat seluruh warga sekolah mengikuti upacara bendera yang digelar pada Senin (3/8/2026). Upacara rutin awal pekan tersebut menjadi momentum untuk menanamkan nilai disiplin, integritas, sekaligus memberikan penghargaan kepada siswa berprestasi.

Bertindak sebagai pembina upacara, Bapak Nilta Najmur Rahman, M.Pd., menyampaikan amanat yang menitikberatkan pada pentingnya budaya berprestasi, kedisiplinan, dan integritas sebagai karakter utama yang harus dimiliki setiap peserta didik.

Pada awal amanatnya, Nilta Najmur Rahman menyampaikan apresiasi kepada dua siswa SMAS Plus Miftahul Ulum yang baru saja mengharumkan nama sekolah dalam Kejuaraan Cabang (Kejurcab) V Pagar Nusa Kabupaten Sumenep Tahun 2026, yakni Saifullah Nailurridha yang berhasil meraih Juara I Pencak Silat Kategori Dewasa Kelas E serta Kadek Ahmad Fauzi Nejad yang sukses meraih Juara III Pencak Silat Kategori Remaja Kelas I.

"Selamat kepada Ananda Saifullah Nailurridha dan Kadek Ahmad Fauzi Nejad atas prestasi yang telah diraih. Harapan kami, prestasi ini tidak berhenti pada diri kalian saja, tetapi mampu menjadi teladan sekaligus pemicu lahirnya prestasi-prestasi baru dari siswa SMAS Plus Miftahul Ulum," ungkapnya di hadapan seluruh peserta upacara.

Ia menegaskan bahwa setiap siswa memiliki kesempatan yang sama untuk mengukir prestasi sesuai bidang yang diminati. Menurutnya, keberhasilan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses latihan yang konsisten, kerja keras, doa, dan semangat pantang menyerah.

Selain memberikan apresiasi terhadap capaian siswa, Nilta juga mengingatkan pentingnya membangun budaya disiplin di lingkungan sekolah. Ia mengajak seluruh peserta didik untuk membiasakan hadir tepat waktu, menaati tata tertib sekolah, serta bertanggung jawab terhadap setiap tugas dan kewajiban sebagai pelajar.

"Kedisiplinan adalah kebiasaan kecil yang akan membentuk karakter besar. Sekolah yang hebat lahir dari warga sekolah yang disiplin," pesannya.

Dalam amanatnya, Nilta juga menekankan pentingnya integritas sebagai fondasi utama dalam kehidupan. Menurutnya, integritas adalah bentuk kepercayaan yang dibangun melalui keselarasan antara ucapan dan tindakan.

"Integritas berarti apa yang kita katakan harus sesuai dengan apa yang kita lakukan. Kepercayaan tidak dibangun dalam sehari, tetapi tumbuh dari sikap jujur, tanggung jawab, dan konsisten dalam setiap tindakan," tuturnya.

Ia berharap nilai-nilai tersebut dapat diterapkan oleh seluruh siswa, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat sehingga mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter yang kuat.

Sebagai bentuk penghargaan atas prestasi yang telah diraih, di penghujung upacara Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Neng Rumzil Azizah, M.Pd., secara langsung menyerahkan apresiasi kepada Saifullah Nailurridha dan Kadek Ahmad Fauzi Nejad di hadapan seluruh peserta upacara. Penyerahan penghargaan tersebut disambut tepuk tangan meriah dari guru dan siswa sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi dan kerja keras kedua atlet.

Pemberian apresiasi itu sekaligus menjadi wujud komitmen SMAS Plus Miftahul Ulum dalam membangun budaya penghargaan terhadap setiap prestasi yang diraih peserta didik. Sekolah berharap semakin banyak siswa yang termotivasi untuk mengembangkan potensi diri, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

Melalui upacara bendera yang sarat makna tersebut, SMAS Plus Miftahul Ulum kembali menegaskan komitmennya dalam membentuk generasi yang berprestasi, disiplin, dan berintegritas sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan.

Dua Pesilat SMAS Plus Miftahul Ulum Harumkan Nama Sekolah di Kejurcab V Pagar Nusa Sumenep 2026

Dua Pesilat SMAS Plus Miftahul Ulum Harumkan Nama Sekolah di Kejurcab V Pagar Nusa Sumenep 2026

 


SUMENEP – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMAS Plus Miftahul Ulum Sumenep dalam ajang Kejuaraan Cabang (Kejurcab) V Pagar Nusa Kabupaten Sumenep Tahun 2026. Dua atlet terbaik sekolah berhasil naik podium setelah menunjukkan kemampuan dan semangat juang yang tinggi pada kejuaraan tersebut.

Prestasi pertama diraih oleh Saifullah Nailurridha yang sukses menyabet Juara I Pencak Silat Kategori Dewasa Kelas E. Sementara itu, Kadek Ahmad Fauzi Nejad berhasil meraih Juara III Pencak Silat Kategori Remaja Kelas I. Keberhasilan keduanya menjadi bukti bahwa pembinaan karakter, disiplin, dan prestasi di lingkungan SMAS Plus Miftahul Ulum berjalan seiring dengan pengembangan potensi peserta didik di bidang olahraga.

Kejurcab V Pagar Nusa merupakan ajang kompetisi yang mempertemukan pesilat-pesilat terbaik dari berbagai rayon dan perguruan di Kabupaten Sumenep. Selain menjadi wadah mengukur kemampuan atlet, kejuaraan ini juga menjadi bagian dari pembinaan serta pencarian bibit-bibit pesilat yang diproyeksikan mampu berprestasi pada level yang lebih tinggi.

Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum menyampaikan apresiasi atas capaian yang diraih kedua siswa tersebut. Menurutnya, prestasi ini merupakan hasil dari kerja keras para atlet, pelatih, dukungan orang tua, serta pembinaan yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Prestasi ini menjadi kebanggaan besar bagi keluarga SMAS Plus Miftahul Ulum. Semoga menjadi motivasi bagi seluruh siswa untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Kami berharap ananda Saifullah Nailurridha dan Kadek Ahmad Fauzi Nejad terus mengembangkan kemampuannya hingga mampu mengharumkan nama sekolah di tingkat yang lebih tinggi," ujarnya.

Keberhasilan kedua pesilat tersebut disambut antusias oleh keluarga besar sekolah. Prestasi yang diraih tidak hanya menambah deretan pencapaian SMAS Plus Miftahul Ulum, tetapi juga menjadi inspirasi bagi peserta didik lainnya untuk terus berlatih, menjunjung tinggi sportivitas, serta pantang menyerah dalam meraih cita-cita.

Dengan torehan prestasi pada Kejurcab V Pagar Nusa Kabupaten Sumenep Tahun 2026, SMAS Plus Miftahul Ulum kembali menegaskan komitmennya dalam mencetak generasi yang unggul, berkarakter, berprestasi, dan mampu bersaing di berbagai bidang.

Jumat, 24 Juli 2026

Sinergi Sekolah dan Orang Tua, SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Parenting Education

Sinergi Sekolah dan Orang Tua, SMAS Plus Miftahul Ulum Gelar Parenting Education

 


SUMENEP – SMAS Plus Miftahul Ulum Sumenep terus memperkuat kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam membentuk karakter peserta didik. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan Sosialisasi Tata Tertib dan Parenting Education bagi wali murid kelas X yang digelar pada Jumat (24/7/2026) di Aula Pondok Pesantren Al Usymuni.

Kegiatan yang diikuti seluruh wali murid baru itu menjadi forum untuk menyamakan persepsi antara sekolah dan orang tua dalam mendampingi peserta didik selama menempuh pendidikan di SMAS Plus Miftahul Ulum. Selain sosialisasi tata tertib sekolah, peserta juga mendapatkan materi parenting yang disampaikan oleh Psikolog Muda Sumenep, Neng Hielma Hasanah, M.Psi., Psikolog.

Dalam pemaparannya, perempuan yang akrab disapa Neng Hielma tersebut menegaskan bahwa masa SMA merupakan fase yang sangat menentukan perjalanan hidup seorang anak. Menurutnya, rentang usia 14–21 tahun bukan sekadar masa remaja, melainkan masa emas kehidupan yang tidak akan terulang.

"Pada usia tersebut Allah menghimpunkan tiga potensi besar dalam diri seorang pemuda, yakni akal yang berkembang pesat, semangat yang sedang menyala, dan fisik yang sedang kuat. Ketiganya harus diarahkan dengan benar agar menjadi bekal meraih masa depan," ujarnya.

Beliau menjelaskan, masa remaja merupakan periode ketika ilmu paling mudah diserap, cita-cita sedang tinggi, serta karakter sedang dibentuk. Karena itu, peran keluarga dan sekolah tidak cukup hanya memberikan pengajaran, tetapi juga mengarahkan tumbuh kembang anak.

Menurut Neng Hielma, akal perlu diarahkan dengan ilmu, semangat dibimbing melalui adab dan amal saleh, sedangkan kekuatan fisik harus dimanfaatkan untuk memperkuat iman dan pengabdian kepada masyarakat.

Sementara itu, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum Sumenep, Neng Rumzil Azizah, M.Pd., mengajak seluruh orang tua untuk memanfaatkan masa muda anak sebagai investasi terbaik bagi masa depannya. Dalam sambutannya, ia mengutip hadis Rasulullah SAW:

"Manfaatkanlah masa mudamu sebelum datang masa tuamu." (HR. Al-Hakim).

Menurutnya, hadis tersebut menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar dan membangun karakter pada masa muda tidak akan datang untuk kedua kalinya. Oleh sebab itu, orang tua diharapkan mampu menghadirkan lingkungan yang mendukung tumbuhnya semangat belajar, kedisiplinan, serta akhlak mulia.

"Keberhasilan pendidikan anak tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara orang tua dan guru agar anak mendapatkan pendampingan yang selaras, baik di rumah maupun di sekolah," tegasnya.

Melalui kegiatan ini, SMAS Plus Miftahul Ulum berharap terbangun komunikasi yang lebih erat dengan para wali murid sehingga proses pendidikan dapat berjalan secara optimal. Dengan kolaborasi yang kuat, sekolah optimistis mampu mencetak generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, berkarakter, berakhlak mulia, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.

Rabu, 15 Juli 2026

Bentengi Pelajar dari Ancaman Narkoba, BNN Isi Materi Hari Ketiga MPLS SMAS Plus Miftahul Ulum

Bentengi Pelajar dari Ancaman Narkoba, BNN Isi Materi Hari Ketiga MPLS SMAS Plus Miftahul Ulum

 


SUMENEP – Upaya membentengi peserta didik dari ancaman penyalahgunaan narkoba dilakukan sejak dini oleh SMAS Plus Miftahul Ulum. Pada hari ketiga Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Rabu (15/7), panitia menghadirkan Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai pemateri khusus tentang bahaya narkoba.

Seluruh peserta didik baru mengikuti kegiatan yang digelar di aula sekolah dengan antusias. Selama lebih dari satu jam, mereka mendapatkan pembekalan mengenai jenis-jenis narkotika, dampak penyalahgunaan bagi kesehatan dan masa depan, hingga berbagai modus peredaran narkoba yang kini semakin menyasar kalangan remaja.

Tidak hanya itu, para siswa juga diajak memahami pentingnya keberanian menolak ajakan menggunakan narkoba serta membangun lingkungan pergaulan yang sehat. Suasana berlangsung interaktif. Sejumlah peserta aktif mengajukan pertanyaan seputar cara mengenali dan menghindari penyalahgunaan narkoba di lingkungan sekitar.

Ketua Panitia MPLS, Iriyanti, S.Pd., mengatakan, pembekalan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar sekolah membentuk karakter peserta didik sejak hari pertama menginjakkan kaki di bangku SMA.

"Kami ingin anak-anak memahami bahwa prestasi dan masa depan hanya bisa diraih jika mereka mampu menjaga diri dari pengaruh negatif, terutama narkoba. Karena itu, kami menghadirkan BNN agar peserta memperoleh informasi yang benar langsung dari ahlinya," ujarnya.

Menurut dia, sekolah memiliki tanggung jawab tidak hanya mencetak peserta didik yang unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan memiliki kesadaran untuk hidup sehat.

"Harapan kami, seluruh peserta didik baru menjadi generasi yang berani mengatakan tidak terhadap narkoba dan mampu menjadi teladan di lingkungan keluarga maupun masyarakat," tambahnya.

Salah seorang peserta didik baru, Ahmad Homaedi, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru dari materi yang disampaikan. Selama ini dirinya hanya mengetahui narkoba secara umum.

"Ternyata jenis narkoba sangat banyak dan dampaknya sangat mengerikan. Kegiatan ini membuat saya semakin sadar pentingnya menjaga pergaulan dan tidak mudah terpengaruh ajakan teman," ungkapnya.

Hal senada disampaikan Dewi Kholifatur Rodiyah. Menurutnya, penyampaian materi dari BNN mudah dipahami karena disertai contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja.

"Saya jadi lebih paham bagaimana cara menghindari narkoba dan pentingnya memilih teman yang baik. Materi ini sangat bermanfaat karena bisa menjadi bekal bagi kami untuk menjaga diri," katanya.

Melalui pembekalan tersebut, SMAS Plus Miftahul Ulum menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, sehat, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba. Edukasi sejak dini diharapkan menjadi bekal bagi peserta didik untuk menatap masa depan sekaligus menjadi agen pencegahan narkoba di tengah masyarakat.

Senin, 13 Juli 2026

MPLS 2026 SMAS Plus Miftahul Ulum Resmi Dibuka, Gerbang Awal Menyiapkan Generasi Cemerlang Menuju Indonesia Emas

MPLS 2026 SMAS Plus Miftahul Ulum Resmi Dibuka, Gerbang Awal Menyiapkan Generasi Cemerlang Menuju Indonesia Emas

Prosesi upacara pembukaan MPLS

SUMENEP – Ratusan peserta didik baru SMP Plus dan SMAS Plus Miftahul Ulum mengikuti pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Pelajaran 2026–2027, Senin (13/7). Kegiatan yang dipusatkan di lapangan sekolah itu menjadi penanda dimulainya perjalanan akademik siswa baru selama tiga tahun ke depan.

Pembukaan MPLS dilaksanakan melalui upacara yang berlangsung khidmat. Bertindak sebagai pembina upacara, KH. Hisbullah Huda, S.H.I. mengajak seluruh murid menjadikan MPLS sebagai momentum untuk membangun semangat belajar sejak hari pertama.

Dalam amanatnya, ia menegaskan bahwa MPLS bukan sekadar agenda tahunan penyambutan murid baru, tetapi merupakan gerbang memasuki dunia ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.

"MPLS merupakan gerbang ilmu selama tiga tahun ke depan. Ini adalah program tahunan untuk menyambut kehadiran murid baru," ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak ditentukan oleh kecerdasan semata, melainkan oleh kemampuan menjaga konsistensi dalam belajar. Karena itu, ia mengingatkan seluruh murid agar menanamkan sikap istiqamah sejak awal menempuh pendidikan.

"Kesuksesan merupakan suatu istiqamah dalam mencari ilmu. Kesuksesan itu berasal dari dan untuk diri kita sendiri," tegasnya.

Di akhir amanatnya, KH. Hisbullah Huda menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh murid baru.

"Selamat datang murid baru, murid cemerlang menuju Indonesia Emas," katanya.

Usai upacara, pembukaan MPLS ditandai dengan pelepasan balon ke udara. Momen tersebut disambut antusias oleh para peserta sebagai simbol dimulainya rangkaian MPLS Tahun Pelajaran 2026–2027.

Sementara itu, Kepala SMAS Plus Miftahul Ulum, Nyai H. Rumzil Azizah, M.Pd., mengatakan bahwa MPLS merupakan fase penting untuk membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah sekaligus membangun rasa percaya diri.

"MPLS bukan sekadar pengenalan aturan dan ruang kelas. Ini adalah jembatan emas untuk memulai babak baru, menemukan saudara sejiwa, dan berani melangkah bertumbuh," ungkapnya saat ditemui tim redaksi.

Ia menegaskan bahwa sekolah tidak menuntut murid menjadi sempurna sejak hari pertama. Yang lebih penting adalah keberanian untuk belajar, mencoba, serta tumbuh bersama dalam lingkungan yang positif.

"Kami tidak menuntut kalian langsung sempurna. Cukup berani mencoba, belajar dengan hati, dan berjalan bersama dalam kebaikan," tuturnya.

Kepala Sekolah yang akrab disapa Neng Sisil tersebut berharap semangat yang dibangun sejak pelaksanaan MPLS mampu menjadi bekal bagi para murid selama menempuh pendidikan di SMAS Plus Miftahul Ulum.

"Semangat yang kalian tanam hari ini akan menjadi kekuatan perjalanan kalian selama tiga tahun ke depan. Selamat berproses, calon pemimpin masa depan. Selamat menjadi bagian keluarga besar SMAS Plus Miftahul Ulum," pungkasnya.

Selama beberapa hari ke depan, peserta didik baru akan mengikuti berbagai agenda MPLS yang dirancang untuk mengenalkan budaya sekolah, membangun karakter, menumbuhkan kedisiplinan, serta memperkuat semangat belajar sebagai bekal meraih prestasi di masa depan.

Kamis, 28 Mei 2026

Iduladha dan Semangat Belajar: Meneladani Keikhlasan untuk Meraih Masa Depan

Iduladha dan Semangat Belajar: Meneladani Keikhlasan untuk Meraih Masa Depan

 


Hari Raya Iduladha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Iduladha merupakan momentum spiritual yang sarat dengan pelajaran kehidupan, terutama tentang keikhlasan, pengorbanan, ketaatan, dan perjuangan dalam meraih cita-cita. Nilai-nilai tersebut sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya dalam membangun semangat belajar generasi muda di era modern saat ini.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan agung tentang kepatuhan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim rela mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya demi menjalankan perintah Allah. Sementara Nabi Ismail menunjukkan keteguhan hati dan ketaatan luar biasa meskipun harus menghadapi ujian yang berat. Dari kisah tersebut, kita belajar bahwa keberhasilan tidak akan diraih tanpa perjuangan dan pengorbanan.

Dalam konteks pendidikan, semangat berkurban dapat dimaknai sebagai kesediaan siswa untuk mengorbankan rasa malas, menunda kesenangan sesaat, serta meninggalkan kebiasaan yang tidak produktif demi masa depan yang lebih baik. Belajar membutuhkan kesabaran, kedisiplinan, dan ketekunan. Tidak ada keberhasilan yang datang secara instan. Setiap prestasi lahir dari proses panjang yang penuh perjuangan.

Saat ini, tantangan belajar semakin kompleks. Kemajuan teknologi memang memberikan kemudahan akses informasi, tetapi di sisi lain juga menghadirkan banyak distraksi. Media sosial, permainan daring, dan budaya instan sering kali membuat semangat belajar siswa menurun. Oleh karena itu, momentum Iduladha harus menjadi refleksi bersama bahwa pengendalian diri merupakan bagian penting dalam mencapai kesuksesan.

Iduladha juga mengajarkan pentingnya berbagi dan peduli terhadap sesama. Dalam dunia pendidikan, semangat berbagi dapat diwujudkan melalui sikap saling membantu antarteman, menghargai guru, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Siswa yang cerdas bukan hanya mereka yang unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kepedulian sosial dan akhlak yang baik.

Sebagai pelajar di SMAS Plus Miftahul Ulum, semangat belajar harus terus dipupuk dengan niat yang tulus. Belajar bukan semata-mata untuk mendapatkan nilai tinggi, tetapi juga sebagai bentuk ibadah dan usaha mempersiapkan diri menjadi generasi yang bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat. Pendidikan yang dilandasi keikhlasan akan melahirkan pribadi yang tangguh dan berkarakter.

Guru dan orang tua juga memiliki peran besar dalam menanamkan nilai-nilai Iduladha kepada siswa. Pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus membangun karakter dan spiritualitas. Keteladanan dari guru serta dukungan keluarga akan menjadi energi positif bagi siswa untuk terus semangat belajar dan tidak mudah menyerah menghadapi kesulitan.

Momentum Iduladha hendaknya menjadi pengingat bahwa setiap cita-cita membutuhkan pengorbanan. Jika Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail mampu menunjukkan ketaatan luar biasa kepada Allah SWT, maka para pelajar juga harus mampu menunjukkan perjuangan dalam menuntut ilmu. Kurban sejati bagi seorang pelajar adalah melawan kemalasan, disiplin dalam belajar, dan terus berusaha memperbaiki diri.

Akhirnya, mari menjadikan Hari Raya Iduladha sebagai sumber inspirasi untuk meningkatkan semangat belajar. Dengan keikhlasan, kerja keras, dan doa, setiap siswa mampu meraih impian serta menjadi generasi unggul yang berilmu, berakhlak, dan berdaya saing tinggi. Semoga semangat pengorbanan dalam Iduladha mampu menyalakan semangat belajar yang tidak pernah padam dalam diri setiap pelajar.

Minggu, 17 Mei 2026

MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

MENGAPA TAK PERNAH SADAR?

Ilustrasi (Foto: Aditya Aji/AFP viahttps://www.trenmedia.co.id/)

(Akhir tahun memang selalu membuat was-was khususnya tahun ini. Pasalnya hujan dan angin selalu datang beriringan, bencana datang. Tragedi bencana alam tanggal 25 November 2025 menjadi bukti nyata bahwa akhir tahun menyimpan ceritanya sendiri dalam kalender akhir tahunku. Terkhusus Pulau Sumatera, aku mempunyai catatan sendiri tentang bencana alam karena mengingatkanku pada tahun 2004 saat tsunami menerjang Aceh karena bertepatan dengan ulang tahunku. Bencana di Sumatera tidak lahir dengan sendirinya, tetapi campur tangan manusia memberikan andil besar. Puisi ini lahir karena perkara ini sebagai bentuk catatan untuk kesadaran.)

Bulan November memasuki akhir

Aku mendongak meramal cuaca di pelataran rumah

Kataku dalam hati :

Biasanya akhir tahun angin kencang dan hujan

Sambil mengisap lingting rokok yang tinggal separuh

Dengan trauma kambuhanku,

Teringat pula tahun dua ribu empat

Tsunami menggulung Aceh

Tanggal dua puluh enam desember[1]

Tepat hari ulang tahunku

Rakyat berduka, Indonesia berduka.

Aku yang waktu itu menonton lewat televisi tetangga mengelus dada

 

Kini, di akhir tahun kembali

Aceh dan daerah sumatera lainnya kembali menangis dengan air[2]

Air bah yang melumat semuanya

Air mata kehilangan

Air mata kesedihan

Air mata doa

Air mata harapan

Seribu dua ratus lebih orang meregang nyawa[3]

Ratusan ribu orang mengungsi

Sementara yang lain ada yang mencuri simpati

Biar dikira peduli, memilukan diri lalu selfie

 

Mengapa tak pernah sadar?

Ada yang beda dari dua bencana ini

Satu karena alam, satunya campur tangan manusia

Kayu gelondongan menggelinding

Hutannya dibabat diganti sawit-sawit

Mineralnya diambil

Kapan sumatera akan damai?

 

Perlu kiranya duduk di teras rumah

Mengaji tanah dan hujan

Mengaji langit dan bumi

Mengaji air dan api

Agar semuanya seimbang[4]

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal dengan bahasa yang paling sederhana

Seorang penyanyi telah mengingatkan

“Mengapa di tanahku terjadi bencana?”[5]

Bertahun-tahun lagu ini tetap di putar

Kadang menjadi backsound gambar atau video duka di medsos

Sayangnya lagu ini jadi teman penikmat senja

Pembaca infografik keuntungan

Tanpa membaca kerugian untuk alam dan anak cucu

 

Mengapa tak pernah sadar?

Padahal ucapan:

Selamat hari bumi

Selamat hari lingkungan hidup

Selamat hari air

Selamat hari udara

Dan hari-hari selamat lainnya yang banyak sekali

Justeru tidak menyelamatkan dari bencana

Poster dan ucapan dishare dari jari ke jari

Tapi tak sampai pada sanubari

 

Sumatera bukan anak kecil yang pura-pura menangis

Jika dibelikan balon dan permen kemudian diam

Sumatera adalah ruang belajar yang tak pernah dipelajari

Dari Suku Anak Dalam harusnya belajar[6]

Satu kehidupan satu pohon ditanam

Pada mereka harusnya belajar

Mengelola kidupan tanpa keserakahan

Pada mereka harusnya belajar

Untuk kembali mencintai bumi secara kaffah

 

 

 

 

Referensi

1Tsunami Aceh 2004 Kronologi, Korban, dan Reformasi Penanggulangan Bencana

2https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251127135953-20-1300085/fakta-fakta-banjir-besar-kepung-aceh-sumut-hingga-sumbar.

3 Tragis! BNPB Sebut 1.200 Orang Tewas dalam Bencana Sumatera 

4 Thales: “Keseimbangan sebagai Inti Keberadaan Alam Semesta"

5 Lirik Lagu Ebiet G. Ade - Berita Kepada Kawan dan Maknanya Bertema Musibah Alam | kumparan.com

6 Belajar Melestarikan Tradisi dan Menjaga Alam dari Suku Anak Dalam

 



[1] Pada 26 Desember 2004, sekitar pukul 07:58 WIB, sebuah gempa bumi dengan kekuatan luar biasa mengguncang kawasan Samudra Hindia, sekitar 250 kilometer barat daya Aceh. Gempa ini tercatat memiliki magnitudo 9,1-9,3 Skala Richter (SR), menjadikannya salah satu gempa terbesar yang pernah tercatat dalam sejarah. Di Aceh, lebih dari 167.000 orang tercatat tewas, dengan ribuan lainnya terluka dan hilang. 

[2] Banjir dan longsor parah melanda beberapa wilayah di Pulau Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara (Sumut), hingga Sumatera Barat (Sumbar) menimbulkan korban jiwa hingga memutus akses komunikasi dan transportasi.

[3] Catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sejak akhir November 2025 hingga 20 Januari 2026

[4] Menurut Thales, alam semesta bekerja secara harmonis melalui interaksi elemen-elemen seperti air, tanah, udara, dan api. Ketidakseimbangan di antara elemen-elemen ini dapat menyebabkan kekacauan

[5] Salah satu karya Ebiet G. Ade yang sangat terkenal tentang musibah adalah Berita Kepada Kawan. Ebiet G. Ade ungkap bencana alam tersebut untuk mengintropeksi diri.

[6] Suku Anak Dalam bermukim di Pelepat, Bungo, Jambi. Masyarakat yang biasa disebut sebagai Orang Rimba ini terus menjaga tradisi nenek moyangnya, di mana nilai-nilai kehidupan tertinggi adalah menyatu dan bersahabat dengan alam.